MENGHINDARI KEBIASAAN GHIBAH
Abdul Malik bin Muhammad Al Qasim
Dari Buletin AlHujjah.
Ghibah adalah penyakit hati yang memakan kebaikan, mendatangkan keburukan serta membuang waktu sia-sia. Penyakit ini meluas di masyarakat karena kurangnya pemahaman Agama, kehidupan yang semakin mudah dan banyaknya waktu luang. Kemajuan teknologi, telepon misalnya, juga turut menyebarkan penyakit masyarakat ini. Lebih lanjut, ikuti penjelasan berikut ini.
Hakikat Ghibah
Ghibah adalah membicarakan orang lain dengan hal yang tidak disenanginya bila ia mengetahuinya, baik yang disebut-sebut itu kekurangan yang ada pada badan, nasab, ucapan hingga pada pakaian. Menyebut kekurangan pada badan seperti mengatakan ia pendek, hitam, kurus dan lain sebagainya. Atau pada agamanya seperti mengatakan ia pembohong, fasik, munafik dan lain-lain.
Kadang orang tidak sadar kalau ia telah melakukan ghibah, dan saat diperingatkan ia mengatakan: "Yang saya katakan ini benar adanya!", padahal Rasulullah Shallallahu 'alahi wa sallam dengan tegas menyatakan perbuatan tersebut adalah ghibah. Ketika ditanyakan kepada beliau, bagaimana jika yang dikatakan itu benar adanya pada orang yang digunjingkan, beliau menjawab:
"Jika yang engkau gunjingkan benar adanya pada orang tersebut, maka engkau telah melakukan ghibah, dan jika yang engkau sebut tidak ada pada orang yang engkau sebut, maka engkau telah melakukan dusta atasnya." (HR. Muslim)
Ghibah tidak terbatas dengan lisan saja, namun juga bisa terjadi dengan tulisan atau isyarat seperti kerdipan mata, gerakan tangan, cibiran bibir dan sebagainya. Sebab intinya adalah memberitahukan kekurangan seseorang kepada orang lain. Suatu ketika ada seorang wanita datang kepada Aisyah r.a. Ketika wanita itu sudah pergi, Aisyah mengisyaratkan dengan tangannya yang menunjukkan bahwa wanita itu berbadan pendek Rasulullah lantas bersabda: "Engkau telah melakukan ghibah!". Semisal dengan ini adalah gerakan memperagakan orang lain seperti menirukan jalan seseorang, cara berbicaranya dan lain-lain. Bahkan yang demikian ini lebih parah daripada ghibah, karena disamping memberitahu kekurangan orang, juga mengandung tujuan mengejek atau meremehkan.
Tak kalah meluasnya adalah ghibah dengan tulisan, karena tulisan adalah lisan ke dua. Media massa sudah tidak segan lagi membuka aib seseorang yang paling rahasia sekalipun. Yang terjadi kemudian sensor perasaan malu masyarakat menurun sampai pada tingkat yang paling rendah. Aib tidak lagi dirasakan sebagai aib yang seharusnya ditutupi, perbuatan dosa menjadi makanan sehari-hari.
Macam dan Bentuk Ghibah
Ghibah mempunyai berbagai macam dan bentuk, yang paling buruk adalah ghibah yang disertai dengan riya' seperti mengatakan: "Saya berlindung kepada Allah dari perbuatan yang tidak tahu malu semacam ini, semoga Allah menjagaku dari perbuatan itu." Padahal maksudnya mengungkapkan ketidaksenangannya kepada orang lain, namun ia menggunakan ungkapan doa untuk mengutarakan maksudnya.
Kadang orang yang melakukan ghibah dengan cara pujian, seperti mengatakan: "Betapa baik orang itu, namun sayang ia mempunyai perangai seperti yang banyak kita miliki, kurang sabar." Ia juga menyebut dirinya dengan maksud mencela orang lain dan mengisyaratkan dirinya termasuk orang-orang shalih yang selalu menjaga diri dari ghibah. Bentuk ghibah yang lain misalnya mengucapkan: "Saya kasihan terhadap teman kita yang selalu diremehkan ini. Saya berdoa kepada Allah agar dia tidak lagi diremehkan." Ucapan seperti ini bukanlah doa, karena jika ia menginginkan doa untuk nya, tentu dia akan mendoakannya dalam kesendirian dan tidak mengutarakan semacam itu.
Ghibah Yang Diperbolehkan
Pertama: Melaporkan perbuatan aniaya. Orang yang teraniaya boleh melaporkan kepada hakim dengan mengatakan ia telah dianiaya oleh seseorang. Pada dasarnya ini adalah perbuatan ghibah, namun karena dimaksudkan untuk tujuan yang benar, maka hal ini dibolehkan dalam agama.
Kedua: Usaha untuk mengubah kemungkaran dan membantu seseorang dari perbuatan maksiat, seperti mengutarakan kepada orang mempunyai kekuasaan untuk mengubah kemungkaran: "Si Fulan telah berbuat yang tidak benar, cegahlah dia!" Maksudnya adalah meminta orang lain untuk mengubah kemungkaran. Jika tidak bermaksud demikian, maka ucapan tadi adalah ghibah yang diharamkan.
Keempat: Untuk memperingati atau menasehati kaum muslimin. Contoh dalam hal ini adalah jarh (menyebut cela perawi hadits) yang dilakukan oleh para ulama hadits. Hal ini diperbolehkan menurut ijma' ulama, bahkan menjadi wajib karena mengandung maslahat bagi umat Islam.
Kelima: Bila seseorang berterus terang dengan menunjukkan kefasikan dan kebid'ahan, seperti minuman arak, berjudi dan lain-lain, maka boleh menyebut orang tersebut dengan sifat yang dimaksudkan, namun tidak boleh menyebutkan aib-aib yang lain.
Keenam: Untuk memberi penjelasan dengan dengan suatu sebutan yang telah masyhur pada diri seseorang. Seperti menyebutkan dengan sebutan di bisu, si pincang dan lainnya. Tapi alangkah baiknya bila menyebutnya dengan julukan yang ia senangi.
Taubat dari Ghibah
Menurut ijma' ulama ghibah termasuk dosa besar. Pada dasarnya yang melakukan ghibah telah melakukan dua kejahatan: kejahatan terhadap Allah Ta'ala karena telah melakukan perbuatan yang jelas dilarang olehNya dan kejahatan terhadap hak manusia. Maka langkah pertama yang harus diambil untuk menghindari maksiat ini adalah dengan taubat yang mencangkup tiga syarat, yaitu meninggalkan perbuatan tersebut, menyesali perbuatan yang telah dilakukan, dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi.
Selanjutnya, harus diikuti langkat kedua untuk menebu kejahatannya atas hak manusia, yaitu dengan mendatangi orang yang digunjingnya kemudian meminta maaf atas perbuatannnya dan menunjukkan penyesalannya. Ini dilakukan bila orang yang dibicarakan mengetahui bahwa ia telah dibicarakan. Namun apabila ia belum mengetahui, maka bagi yang melakukan ghibah atasnya hendaknya mendoakannya dengan kebaikan dan berjanji pada dirinya untuk mengulanginya.
Kiat Menghindari Ghibah
Untuk mengobati kebiasaan ghibah yang merupakan penyakit yang sulit dideteksi dan diobati ini, ada beberapa kiat yang bisa dilaksanakan.
Pertama: Selalu mengingat bahwa perbuatan ghibah adalah penyebab kemarahan dan kemurkaan Allah serta turunnya azab dariNya.
Kedua: Bahwasanya timbangan kebaikan pelaku ghibah akan pindah kepada orang yang digunjingnya. Jika ia tidak sama sekali mempunyai kebaikan sama sekali, maka diambil dari timbangan kejahatan orang yang digunjingnya dan ditambahkan kepada timbangan kejahatannya. Jika mengingat hal ini selalu, niscaya seseorang akan berfikir seribu kali untuk melakukan perbuatan ghibah.
Ketiga: Hendaknya orang yang melakukan perbuatan ghibah mengingat dulu aib dirinya sendiri dan segera berusaha memperbaikinya. Dengan demikian akan timbul perasaan malu pada diri sendiri bila membuka aib orang lain, sementara dirinya sendiri masih mempunyai aib.
Keempat: Jika aib orang yang hendak digunjingnya tidak ada pada dirinya sendiri, hendaknya ia segera bersyukur kepada Allah karena Dia telah menghindarkannya dari aib tersebut, bukannya malah mengotori dirinya dengan aib yang lebih besar yang berupa perbuatan ghibah.
Kelima: Selalu ingat bila ia membicarakan saudaranya, maka ia seperti makan bangkai saudaranya, sebagaimana yang difirmankan Allah: "Dan janganlah sebagian kamu menggunjingkan sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?" (Al-Hujurat: 12).
Keenam: Hukumnya wajib mengingatkan orang sedang melakukan ghibah, bahwa perbuatan tersebut hukumnya haram dan dimurkai Allah.
Ketujuh: Selalu mengingat ayat-ayat Allah dan hadits-hadits yang melarang ghibah dan selalu menjaga lisa agar tidak terjadi ghibah.
Mudah-mudahan Allah menjauhkan kita dari perbuatan yang tidak terpuji ini, amin.
Abdul Malik bin Muhammad Al Qasim
Ghibah
"Janganlah sebagian kamu mengunjing (ghibah) sebagian yang lain, sukakah seorang diantaramu memakan saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujarat:12)
Setiap muslim berkewajiban untuk menjaga lidahnya, hendaknya dia berkata baik sehingga bermaslahat bagi dirinya dan pendengarnya atau dia diam (HR. Muttafaq Alaih). Karena setiap kata yang keluar dari lisan seseorang akan dicatat sebagai kebaikan atau keburukan sesuai apa yang dia bicarakan (lihat QS. Qaf:18). Maka dari itu. Nabi saw selalu menganjurkan setiap muslim untuk menjaga lidahnya, karena banyak orang tergelincir ke neraka karena terlalu mengumbar lidahnya yang tidak bertulang itu. "Barang siapa dapat menjaga antara kumis dan jenggotnya (yakni lidah) dan antara kedua kakinya (yakni kemaluannya), maka aku jamin surga" demikian sabda Rasulullah saw (HR. Muttafaq Alaih).
Terlalu banyak bukti bahwa diantara sumber konflik antar pemerintah, masyarakat dan individu disebabkan oleh pernyataan-pernyataan yang sarat dengan tendensi buruk, yang berakibat menyinggung bahkan melukai perasaan pihak lain. Ghibah salah satu penyakit masyarakat yang dapat memperkeruh suasana. Rasulullah saw pernah mendefinisikan ghibah itu, yaitu Anda menyebut saudara / kawan Anda dengan sesuatu yang tidak disukainya. Kemudian beliau ditanya, kalau hal itu memang ada pada orang itu? beliau menjawab, "Kalau pernyataan itu memang ada pada orang itu berarti Anda telah melakukan ghibah, kalau tidak ada berarti Anda berbohong" (HR. Muslim). Memang sebaik-baik orang Islam adalah yang dapat menjaga lisan dan tangannya, sehingga tidak mengganggu pihak lain (HR. Muttafaq Alaih). Dan sepantasnya kita membersihkan diri dari ghibah, karena itu sifat orang beriman (lihat QS. Al-Qashosh:55 dan Al-Mukminun:3)
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
SELAMAT DATANG..AHLAN WA SAHLAN..WELCOME..SUGENG RAWUH..
Ahlan wa sahlan......Met berkunjung
Harapan semoga tercerahkan dan bermanfaat. YM id: ahmadsc
Reach me also at :
Fb : http://facebook.com/ahmadsyaih
Harapan semoga tercerahkan dan bermanfaat. YM id: ahmadsc
Reach me also at :
Fb : http://facebook.com/ahmadsyaih
Jumat, Januari 22, 2010
PENGERTIAN DAN BAHAYA GHIBAH
Tulisan dari Ust Habib Nabil Fuad AlMussawa
Ghibah (bagian ke-1)
http://www.al-ikhwan.net
Oleh Abi AbduLLAAH/ Habib Nabil Fuad AlMussawa | 16 January 2006 @ 06:56 | 15 Dzulhijjah 1426 H | Kategori: Tazkiyyah An-Nufus
“Dan janganlah sebagian kalian meng-ghibbah sebagian yang lainnya, sukakah kalian jika nanti (di hari Kiamat) memakan daging bangkai saudara kalian tersebut, pasti (saat itu kelak) kalian akan merasa sangat jijik…” (QS 49/12)
MAKNA GHIBAH
1. Secara Bahasa: Merupakan musytaq dari al-ghib, artinya lawan dari nampak, yaitu segala sesuatu yang tidak diketahui bagi manusia baik yang bersumber dari hati atau bukan dari hati. Maka ghibah menurut bahasa ialah: Membicarakan orang lain tanpa sepengetahuannya baik isi pembicaraan itu disenanginya ataupun tidak disenanginya, kebaikan maupun keburukan.
2. Secara Definisi: Seorang muslim membicarakan saudaranya sesama muslim tanpa sepengetahuannya tentang hal-hal keburukannya dan yang tidak disukainya, baik dengan tulisan maupun lisan, terang-terangan maupun sindiran. Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa nabi SAW pada suatu hari bersabda:
Tahukah kalian apa itu ghibah? Jawab para sahabat : ALLAH dan rasul-NYA yang lebih mengetahui. Maka kata nabi SAW: Engkau membicarakan saudaramu tentang apa yang tidak disukainya. Kata para sahabat: Bagaimana jika pada diri saudara kami itu benar ada hal yang dibicarakan itu? Jawab nabi SAW: Jika apa yang kamu bicarakan benar-benar ada padanya maka kamu telah meng-ghibah-nya, dan jika apa yang kamu bicarakan tidak ada padanya maka kamu telah membuat kedustaan atasnya. (HR Muslim/2589, Abu Daud 4874, Tirmidzi 1935)
BENTUK-BENTUK SERTA JENIS-JENIS GHIBAH
1. Aib dalam Agama. Seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu fasiq, atau fajir (suka berbuat dosa), pengkhianat, zhalim, melalaikan shalat, meremehkan terhadap najis, tidak bersih kalau bersuci, tidak memberikan zakat pada yang semestinya, suka meng-ghibah, dan sebagainya.
2. Aib Fisik. Seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu buta, tuli, bisu, lidahnya pelat/cadel, pendek, jangkung, hitam, gendut, ceking, dan sebagainya.
3. Aib Duniawi: Seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu kurang ajar, suka meremehkan orang lain, tukang makan, tukang tidur, banyak omong, sering tidur bukan pada waktunya, duduk bukan pada tempatnya, dan sebagainya.
4. Aib Keluarganya. Seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu bapaknya fasik, Cina, tukang batu, dan lain-lain.
5. Aib Karakter. Seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu buruk akhlaqnya, sombong, pendiam, terburu-buru, lemah, lemah hatinya, sembrono, dan lain-lain.
6. Aib Pakaian. Kedodoran bajunya, kepanjangan, ketat, melewati mata kaki, kucel/dekil, dan sebagainya.
7. Ghibah dikalangan Ulama. Seperti kata-katamu pada sesama muslim: Bagaimana sih kabarnya? (dengan maksud meremehkan), semoga ALLAH memperbaikinya, semoga ALLAH mengampuninya, kita memohon ‘afiah dari ALLAH, semoga ALLAH memaafkan kita karena kurang rasa malu, dan sebagainya semua kata dan doa yang maksudnya mengecilkan kedudukan orang lain.
8. Prasangka Buruk Tanpa Alasan. Prasangka buruk merupakan ghibah hati.
9. Mendengar Ghibah. Tanpa mengingkari/menegur, dan tidak meninggalkan majlis tersebut.
HUKUM GHIBAH DALAM ISLAM
Ghibah hukumnya haram dalam syariat Islam berdasarkan ijma’ kaum muslimin karena dalil-dalil yang jelas dan tegas baik dalam kitab maupun sunnah, diantaranya:
1. Bersabda nabi SAW saat hajji wada’:
“Hari apakah ini?!” Jawab semua manusia yang hadir ketika itu: Hari Arafah ya rasuluLLAH.. Tanya nabi SAW lagi: “Di tanah apakah ini?!” Jawab manusia yang hadir: Di tanah haram ya rasuluLLAH… Tanya nabi SAW lagi: “Bulan apakah ini?!” Jawab manusia lagi: Bulan haram ya rasuluLLAH… Maka kata nabi SAW: “Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, kehormatan-kehormatan kalian haram hukumnya atas kalian, sama seperti haramnya hari ini, di tanah ini dan di bulan ini !!! Apakah sudah aku sampaikan pada kalian?!” Maka jawab manusia yang hadir: Sudah wahai rasuluLLAH.. Maka kata nabi SAW lagi: “Ya ALLAH saksikanlah sudah aku sampaikan…” (HR Bukhari 1/145-146, Muslim 1679)
2. Bersabda nabi SAW:
“Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya sesama muslim, maka ALLAH SWT akan membelanya dari neraka kelak di hari Kiamat.” (HR Tirmidzi 1932, Ahmad 6/450)
3. Bersabda nabi SAW:
“Ketika aku dimi’rajkan aku melihat ada 1 kaum yang memiliki kuku-kuku panjang dari tembaga, sedang mencakari muka-muka dan dada-dada mereka sendiri. Maka aku bertanya pada Jibril: Siapa mereka ini? Jawab Jibril: Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging manusia dengan merusak kehormatan mereka.” (HR Abu Daud 4878 dan Ahmad 3/224)
4. Nabi SAW berdiri untuk shalat, lalu beliau SAW bertanya:
“Dimana Malik bin Dukhsyum?” Maka ada yang menjawab: Ia sudah munafik wahai rasuluLLAH, tidak lagi mencintai ALLAH dan rasul-NYA. Maka jawab nabi SAW: “Jangan sekali-kali kamu berani berkata begitu! Tidakkah kamu lihat ia mengucapkan Lailaha ilaLLAH karena mengharap keridhaan-NYA?! Sungguh ALLAH SWT telah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan La ilaha illaLLAH karena mengharapkan keridhaan-NYA.” (HR Bukhari 3/49-50, Muslim 1/455)
5. Bersabda nabi SAW:
“Muslim dengan muslim lainnya itu bersaudara, tidak boleh mengkhianati, mendustakan dan menghina. Setiap muslim dengan muslim lainnya haram kehormatan, harta dan darahnya. Taqwa itu disini! (sambil nabi SAW menunjuk pada dadanya) Cukup disebut seorang itu jahat jika ia mencaci saudaranya sesama muslim.” (HR Muslim 2564)
6. Bersabda nabi SAW pada Aisyah ra ketika Aisyah ra berkata tentang Shafiyyah ra:
Apakah cukup bagi anda Shafiyyah yang begitu? (maksudnya pendek badannya). Maka jawab nabi SAW: “Sungguh engkau sudah mengucapkan 1 kata yang seandainya dicampur dengan air lautan maka niscaya akan berubah lautan itu karenanya.” (HR abu Daud 4875, Tirmidzi 2504-2505, Ahmad 6/189).
Sehingga berkata Imam Nawawi rahimahuLLAH:
Diantara peringatan yang paling hebat tentang akibat ghibbah adalah hadits ini dan aku tidak pernah menemukan hadits yang lebih keras peringatannya tentang masalah ini selain hadits ini.
(bersambung…)
Ghibah (bagian ke-2)
Oleh Abi AbduLLAAH | 18 January 2006 @ 06:59 | 17 Dzulhijjah 1426 H | Kategori: Tazkiyyah An-Nufus
BEBERAPA PENGECUALIAN DIBOLEHKANNYA GHIBBAH
1. Orang yang dizhalimi. Dibolehkan bagi orang yang dizhalimi untuk mengadukan orang yang menzhaliminya kepada penguasa/hakim berdasarkan firman ALLAH SWT:
“ALLAH tidak menyukai perkataan yang buruk kecuali bagi orang yang dizhalimi.” (QS 4/148)
2. Meminta tolong untuk menghentikan kemunkaran. Menghentikan orang yang bermaksiat dengan mengadukannya kepada orang yang mampu menghentikannya, berdasarkan hadits:
“Barangsiapa melihat kemunkaran maka hendaklah diubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lidahnya dan jika ia tidak mampu maka dengan hatinya, tetapi itu adalah selemah-lemah iman.” (HR Muslim 49, Abu Daud 1140, Tirmidzi 2173, an-Nasai 8/111, Ibnu Majah 4013)
3. Meminta fatwa.
Dibolehkan seseorang bertanya kepada mufti misalnya: Ayahku/saudaraku/temanku telah menzhalimi aku, apakah benar demikian? Bagaimana cara mengatasaniya? Berkata istri abu Sufyan pada nabi SAW:
Wahai rasuluLLAH, sesungguhnya abu Sufyan itu lelaki yang pelit, sehingga ia tidak pernah memberiku sesuai kebutuhanku dan anak-anakku, kecuali jika aku mengambil darinya tanpa sepengetahuannya, apakah dibolehkan yang demikian? Jawab nabi SAW: “Boleh engkau ambil sesuai kebutuhanmu dan anak-anakmu secara ma’ruf (tidak berlebihan).” (HR Bukhari 9/444-445, Muslim 1714)
4. Meng-ghibbah Pendosa Terang-terangan. Seperti peminum minuman keras di depan orang banyak, pelaku korupsi yang sudah ketahuan/diketahui banyak orang, dan lain-lain. Berdasarkan hadits:
“Sesungguhnya dosa-dosa ummatku itu termaafkan, kecuali bagi pelaku dosa terang-terangan. Seperti orang yang melakukan sesuatu di waktu malam yang sudah ditutupi oleh ALLAH SWT, maka paginya ia berkata : Hei Fulan, semalam aku melakukan ini dan itu. Padahal ALLAH SWT sudah menutupinya lalu dibukanya perlindungan ALLAH itu.”
5. Mengenal. Seperti menyebut gelarnya yang dikenal luas oleh semua orang (walaupun gelar itu artinya buruk), seperti gelar-gelar sahabat dan tabi’in Mush’ab (yang menyulitkan) Hanzhalah (pahit), al-A’masy (si Rabun), dan sebagainya.
6. Memperingatkan kaum Muslimin:
a. Mengungkapkan cela seorang perawi dalam hadits, diwajibkan demi terjaganya hadits nabi SAW. Dalilnya di masa nabi SAW pernah ada seorang yang menyampaikan tentang seseorang yang minta izin (untuk tidak ikut peperangan) pada nabi SAW, maka kata nabi SAW:
“Izinkanlah ia, ia adalah sejelek-jelek saudara bagi keluarganya.” (HR Bukhari 10/393, Muslim 2591)
b. Jika orang meminta pendapat kita tentang seseorang untuk bergaul dengannya atau berdagang dengannya, dan sebagainya, maka wajib bagi kita untuk menyampaikan supaya orang itu dapat bergaul dengan benar dan tidak tertipu. Dalilnya bahwa Fathimah binti Qais ra pernah menemui nabi SAW untuk meminta pendapatnya tentang lamaran yang diterimanya dari Mu’awiyah dan abu Jahm, maka kata nabi SAW:
“Adapun Mu’awiyah maka orangnya miskin sama sekali tidak punya harta, adapun abu Jahm tidak pernah melepaskan pecut dari tengkuknya (suka memukul).” (HR Muslim 1480, Thabrani 2/580, Syafi’i dalam ar-Risalah/856)
c. Seorang yang diketahui alim atau faqih dan diragukan bahwa ia adalah ahli bid’ah atau fasiq, sehingga orang mengambil ilmu darinya dan belajar kepadanya, maka wajib kita menasihatinya dan jika ia tidak mau meninggalkan bid’ahnya maka wajib diberitahukan pada orang-orang.
d. Seorang yang memegang kekuasaan dan menyimpang, maka wajib disampaikan penyimpangannya kepada orang yang mengangkatnya, agar mengetahui perihalnya.
e. Kesemua hal ini untuk hal-hal yang jelas-jelas disepakati sebagai penyimpangan, bid’ah dan kejahatan, dan sama sekali bukan pada hal-hal yang merupakan bagian ikhtilaf (yang masih diperselisihkan) oleh para ulama dalam Islam. Adapun mencaci-maki hal-hal yang merupakan ikhtilaf, atau mencari-cari kesalahan orang lain, atau memberikan penafsiran yang buruk atas para ulama, mujahid Islam dan orang-orang yang dikenal tsiqah dan jasa-jasa serta perjuangannya dalam Islam, maka yang demikian itu merupakan perbuatan fasik dan sama sekali bukan dari akhlaq Islam. Kita berlindung pada ALLAH SWT dari yang demikian.
SEBAB-SEBAB TERJATUH KE DALAM GHIBBAH
1. Tidak melakukan tatsabbut dan tabayyun (check and re-check), firman ALLAH SWT:
“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu seorang yang fasik membawa sebuah berita, maka tabayyun-lah kalian terhadap kebenaran berita tersebut, agar jangan sampai kalian menimpakan kerugian pada suatu kaum karena kebodohan kalian, sehingga kelak kamu akan menyesal.” (QS 49/6)
2. Dikuasai oleh amarah dan hawa nafsu, maka seorang muslim adalah orang yang kuat menahan hawa nafsu dan kemarahan tersebut, karena keduanya adalah sifat syaithan dan tidak pantas seorang mu’min memilikinya, firman ALLAH SWT:
“Dan orang yang menahan marahnya, dan orang yang memaafkan manusia, dan sesungguhnya ALLAH mencintai orang-orang suka berbuat baik.” (QS 3/134)
3. Lingkungan dan pergaulan yang jahat, suka mencaci dan berburuk-sangka, sebagaimana disebutkan dalam hadits:
“Setiap manusia terlahir dalam fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.”
4. Dengki dan Iri-hati, ketika kedengkian telah bersarang di dalam hati maka matahari yang terang bersinar akan terlihat gelap-gulita, tanaman yang indah merona akan nampak buruk dan sumpek. Ambillah pelajaran dari kisah putra Adam as, walaupun ia hidup di bawah asuhan seorang nabi, tetapi ketika kedengkian menguasai hatinya maka ia tega membunuh saudaranya sendiri, walaupun saudaranya itu telah menasihatinya dan tidak melawannya sama sekali, perhatikanlah ucapan Habil ketika akan dibunuh oleh saudaranya Qabil:
“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, maka aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada ALLAH RABB sekalian alam.” (QS 5/28).
Lalu ia menasihati saudaranya dengan halus tentang dosa dari perbuatan membunuh tersebut, dengan harapan saudaranya akan sadar:
“Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan membawa dosa membunuhku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka dan yang demikian itulah pembalasan orang-orang yang zhalim.” (QS 5/29),
tetapi kedengkian yang besar membuat Qabil tidak perduli lagi dengan agama dan aturan syariat, demikianlah perbuatan dosa kedua yang dilakukan oleh makhluq adalah karena kedengkian.
5. Ujub, Ghurur dan Takabbur, ketika manusia atau kelompok manusia sudah merasa dalam hatinya bahwa dirinya lebih pandai dan alim maka ia telah ujub, lalu jika ia mulai meremehkan dan mencela orang lain maka ia menjadi ghurur, dan ketika ia telah merasa bahwa kebenaran hanya ada pada diri dan kelompoknya sementara yang lain semua salah dan ia tidak mau menerima kebenaran dari orang lain walaupun disampaikan dengan hujjah yang nyata maka ia menjadi takabbur. Lihatlah perkataan Fir’aun:
“Apakah aku yang lebih baik ataukah orang yang hina ini yang hampir tidak bisa jelas dalam berbicara?” (QS 43/52-53)
Dalam ayat ini Fir’aun tidak memperhatikan kebenaran yang disampaikan oleh Musa, tapi ia berusaha mencari-cari kelemahan yang ada pada diri Musa saja dengan tujuan untuk menghinanya.
6. Menutupi kelemahan diri, orang yang tidak mau diketahui kelemahannya sehingga ia berusaha menjelek-jelekan orang lain, hal ini dilakukannya karena merasa ia akan kalah pengaruh dan ketenaran dari orang yang di-ghibbah-nya, maka ia meng-ghibbah orang tersebut untuk menutupi kekurangannya dan kelompoknya dari orang tersebut, sehingga orang-orang memujinya dan menganggapnya alim dan orang pun menjelek-jelekan orang lain yang di-ghibbah-nya tersebut.
7. Disibukkan dalam Hal Sepele, orang-orang yang terbiasa disibukkan dengan hal yang kecil dan tidak mengetahui masalah-masalah besar yang dihadapi oleh ummat akan terus mencari-cari kesalahan orang lain, karena banyaknya waktu yang dimilikinya yang seandainya waktu tersebut digunakannya untuk mengurus masalah-masalah ummat yang sudah sedemikian gawat ini maka tidak akan ada waktu baginya untuk meng-ghibbah. Hal ini juga dimungkinkan karena tidak mengerti tentang prioritas amal yang harus dilakukan.
8. Tidak mengetahui tentang Bahaya Ghibbah, ummat yang tidak mengetahui tentang dosa besar dan bahaya ghibbah akan menganggap ghibbah sebagai hal yang sepele, padahal ia sangat besar disisi ALLAH SWT:
“Dan kalian menganggapnya sepele, padahal ia disisi ALLAH adalah sangat besar (dosanya).” (QS 24/15)
Berkata Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya:
Tidak aku lihat dosa yang pelakunya demikian keras ditegur oleh ALLAH SWT dan diancam dengan azab yang sangat keras, melainkan dosa orang-orang yang menuduh dengan tuduhan bohong dan meng-ghibbah ummul mu’minin Aisyah ra.
9. Tidak Terbiasanya Ummat dalam Hukum Syariah, ummat yang faham maka mereka akan segera menghentikan para pelaku ghibbah siapapun mereka, mencegahnya dengan lembut dan keras atau meninggalkannya sama sekali sebagai hukuman syariat terhadapnya agar para pelaku ghibbah menyadari kesalahannya dan kembali ke jalan yang benar.
10. Tidak Jelas dalam Penyampaian, kata-kata, ungkapan, cerita yang tidak jelas atau tidak selesai, bisa mengakibatkan kesalahfahaman diantara yang mendengar. Maka nabi SAW jika berbicara jelas, tegas dan tidak bertele-tele agar yang mendengar dapat memahaminya dengan sempurna, dan beliau SAW juga biasa mengulangi kata-katanya 2 atau 3 kali, supaya jelas.
11. Bercanda dan Main-Main, bercanda dan main-main dalam Islam ada batasnya, canda itu tidak boleh memasukkan kejelekan orang lain sebagai bahan tertawaan dan permainan, sabda nabi SAW:
“Sesungguhnya seorang mengatakan 1 kata yang tidak disadarinya bahayanya, yang akibatnya ia dilemparkan ke neraka dalam jarak lebih jauh dari jarak Timur dan Barat.” (HR Bukhari 11/265-266, Muslim 2988, Tirmidzi 2315, Thabrani 2/985)
(Bersambung…)
Ghibah (bagian ke-3, habis)
Oleh Abi AbduLLAAH | 19 January 2006 @ 07:17 | 19 Dzulhijjah 1426 H | Kategori: Tazkiyyah An-Nufus
DAMPAK-DAMPAK GHIBBAH
1. Dampaknya Bagi sebuah Kelompok Dakwah
a. Kerasnya Hati, kaum beriman adalah orang-orang yang senantiasa lembut hatinya baik terhadap RABB-nya maupun terhadap sesama saudaranya, alangkah bahagianya kelompok dakwah yang para aktifisnya memiliki hati-hati yang bening bagai kaca, mereka tidak pernah mencari-cari kesalahan orang lain, bahkan lisan-lisan mereka senantiasa dipenuhi zikir dan doa bagi saudaranya sesama muslim, firman ALLAH:
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdoa : Wahai RABB kami, beri ampunlah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah ENGKAU membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai RABB kami sesungguhnya ENGKAU adalah Maha Penyantun lagi Maha Penyayag.” (QS 59/10)
b. Mendapat azab, berupa perpecahan dan silang sengketa yang tidak putus-putusnya dikalangan para aktifisnya dan timbulnya kedengkian dan permusuhan, kata-kata yang kasar dan caci-maki, yang kesemuanya bukan akhlaq yang Islami. ALLAH SWT memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar memperkuat persaudaraan diantara mereka dan menyatakan bahwa persaudaraan itu sebagai salah satu tanda keimanan dalam firman-NYA:
“Hanyalah yang disebut orang-orang beriman itu bersaudara, maka perbaikilah hubungan diantara saudaramu, dan bertaqwalah kepada ALLAH semoga kalian mendapat rahmat.” (QS 49/10)
2. Dampaknya Bagi para Aktifis
a. Diazab masing-masing, dan azab tersebut disegerakan ketika ia baru masuk ke dalam kubur, kata Ibnu Abbas ra:
Nabi SAW pernah melewati 2 kuburan lalu beliau SAW bersabda : “Kedua orang ini diazab, dan tidaklah mereka diazab karena sesuatu yang besar menurut mereka, padahal ia adalah dosa besar, adapun yang seorang ia sering mengadu domba diantara manusia, adapun yang satunya tidak bersih bersuci setelah buang air kecil.” (HR Bukhari 1/273 dan 276, Muslim 292, abu Daud 20, Tirmidzi 70, Nasai 1/28 dan 30)
b. Malas Melakukan Kewajiban, orang-orang yang berhati busuk maka ia akan kehilangan sifat khusyu’ dalam hatinya dan tidak bisa merasakan kelezatan ibadah dan munajat dalam dirinya, sehingga ibadahnya menjadi kering dari manisnya iman, firman ALLAH SWT:
“Minta tolonglah kalian semua melalui sabar dan shalat, dan sungguh hal itu teramat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, yaitu orang-orang yang menduga bahwa mereka akan menemui RABB-nya dan mereka akan dikembalikan kepada-NYA.” (QS 2/45-46)
c. Munafik, orang-orang yang berhati busuk pada orang lain maka oleh ALLAH SWT akan dihilangkan sifat kejujuran dalam dirinya dan ditumbuhkan sifat kemunafikan, karena kebiasaannya merusak kehormatan orang mu’min, sabda nabi SAW:
“Ada 4 sifat yang jika lengkap ada pada diri seseorang maka ia akan menjadi munafik sejati, dan jika ada salah satunya maka ia memiliki sifat kemunafikan sampai ditinggalkannya : Jika dipercaya ia khianat, jika bicara ia dusta, jika janji ia ingkar dan jika berdebat maka ia melampaui batas.” (HR Muttafaq ‘alaih)
TERAPI GHIBBAH
1. Senantiasa mengikhlaskan niat kepada ALLAH dalam semua aspek kehidupan dan memperkuat ketaqwaan kepada-NYA, firman-NYA:
“Wahai sekalian manusia sungguh KAMI menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang wanita, lalu KAMI menjadikanmu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal, sesungguhnya yang paling taqwa diantara kalian adalah yang paling taqwa diantara kalian, sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahui lagi Maha Melihat.” (QS 49/13)
2. Merasakan bahwa setiap kata yang keluar dari mulut kita dicatat dan akan dipertanggung-jawabkan di hadapan ALLAH SWT, firman-NYA:
“Dan tidaklah satu katapun yang mereka ucapkan kecuali ada malaikat yang senantiasa dekat lagi mencatat.” (QS 50/18)
3. Senantiasa melakukan pengecekan secara teliti terhadap kebenaran berita yang berkenaan dengan diri seseorang atau kelompok, firman-NYA:
“Hai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu orang fasik membawa berita maka ceklah kebenaran berita itu dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa tahu persis keadaan sebenarnya yang menyebabkan kamu akan menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS 49/6)
4. Menahan marah dan mengendalikan hawa-nafsu:
“Dan orang-orang yang menahan marahnya dan memaafkan manusia, maka sesungguhnya ALLAH mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS 3/134)
5. Mencari lingkungan yang bersih dan jauh dari mencaci dan meng-ghibbah orang lain dan menyibukkan diri untuk melihat dan memperbaiki kekurangan diri:
“Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengejek kaum yang lain, karena boleh jadi yang diejek itu lebih baik dari kamu (disisi ALLAH)… Dan janganlah kalian mencela diri kalian sendiri (saudara sesama muslim), dan janganlah kalian panggil-memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk setelah kalian beriman, dan barangsiapa yang tidak segera bertaubat maka itulah orang-orang yang zalim.” (QS 49/11)
6. Selalu berprasangka baik kepada sesama muslim dan mencarikan alasan baik jika melihat kekurangannya serta menasihatinya secara sembunyi:
“Mengapakah di waktu kalian mendengar berita itu orang-orang mu’min tidak bersangka baik kepada diri mereka sendiri (saudara sesama muslim) dan (lalu) berkata : Ini adalah suatu kedustaan yang nyata.” (QS 24/12)
7. Menutupi aib sesama muslim dan tidak berusaha menyebar-nyebarkan keburukan orang lain:
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita tentang perbuatan yang amat keji itu tersiar dikalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan ALLAH lebih Mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS 24/19)
8. Mendakwahi para ulama dan panutan masyarakat yang memiliki sifat senang mencari-cari kesalahan orang lain dan meng-ghibbah.
9. Mencari kejelasan dari kata-kata dan pembicaraan sehingga tidak menduga-duga maksudnya.
10. Mendakwahi ummat agar sensitif dan mencegah terhadap para pelaku ghibbah.
11. Senantiasa mengingat balasan ALLAH SWT bagi para pelaku ghibbah dan bahayanya bagi ummat.
Ghibah (bagian ke-1)
http://www.al-ikhwan.net
Oleh Abi AbduLLAAH/ Habib Nabil Fuad AlMussawa | 16 January 2006 @ 06:56 | 15 Dzulhijjah 1426 H | Kategori: Tazkiyyah An-Nufus
“Dan janganlah sebagian kalian meng-ghibbah sebagian yang lainnya, sukakah kalian jika nanti (di hari Kiamat) memakan daging bangkai saudara kalian tersebut, pasti (saat itu kelak) kalian akan merasa sangat jijik…” (QS 49/12)
MAKNA GHIBAH
1. Secara Bahasa: Merupakan musytaq dari al-ghib, artinya lawan dari nampak, yaitu segala sesuatu yang tidak diketahui bagi manusia baik yang bersumber dari hati atau bukan dari hati. Maka ghibah menurut bahasa ialah: Membicarakan orang lain tanpa sepengetahuannya baik isi pembicaraan itu disenanginya ataupun tidak disenanginya, kebaikan maupun keburukan.
2. Secara Definisi: Seorang muslim membicarakan saudaranya sesama muslim tanpa sepengetahuannya tentang hal-hal keburukannya dan yang tidak disukainya, baik dengan tulisan maupun lisan, terang-terangan maupun sindiran. Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa nabi SAW pada suatu hari bersabda:
Tahukah kalian apa itu ghibah? Jawab para sahabat : ALLAH dan rasul-NYA yang lebih mengetahui. Maka kata nabi SAW: Engkau membicarakan saudaramu tentang apa yang tidak disukainya. Kata para sahabat: Bagaimana jika pada diri saudara kami itu benar ada hal yang dibicarakan itu? Jawab nabi SAW: Jika apa yang kamu bicarakan benar-benar ada padanya maka kamu telah meng-ghibah-nya, dan jika apa yang kamu bicarakan tidak ada padanya maka kamu telah membuat kedustaan atasnya. (HR Muslim/2589, Abu Daud 4874, Tirmidzi 1935)
BENTUK-BENTUK SERTA JENIS-JENIS GHIBAH
1. Aib dalam Agama. Seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu fasiq, atau fajir (suka berbuat dosa), pengkhianat, zhalim, melalaikan shalat, meremehkan terhadap najis, tidak bersih kalau bersuci, tidak memberikan zakat pada yang semestinya, suka meng-ghibah, dan sebagainya.
2. Aib Fisik. Seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu buta, tuli, bisu, lidahnya pelat/cadel, pendek, jangkung, hitam, gendut, ceking, dan sebagainya.
3. Aib Duniawi: Seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu kurang ajar, suka meremehkan orang lain, tukang makan, tukang tidur, banyak omong, sering tidur bukan pada waktunya, duduk bukan pada tempatnya, dan sebagainya.
4. Aib Keluarganya. Seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu bapaknya fasik, Cina, tukang batu, dan lain-lain.
5. Aib Karakter. Seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu buruk akhlaqnya, sombong, pendiam, terburu-buru, lemah, lemah hatinya, sembrono, dan lain-lain.
6. Aib Pakaian. Kedodoran bajunya, kepanjangan, ketat, melewati mata kaki, kucel/dekil, dan sebagainya.
7. Ghibah dikalangan Ulama. Seperti kata-katamu pada sesama muslim: Bagaimana sih kabarnya? (dengan maksud meremehkan), semoga ALLAH memperbaikinya, semoga ALLAH mengampuninya, kita memohon ‘afiah dari ALLAH, semoga ALLAH memaafkan kita karena kurang rasa malu, dan sebagainya semua kata dan doa yang maksudnya mengecilkan kedudukan orang lain.
8. Prasangka Buruk Tanpa Alasan. Prasangka buruk merupakan ghibah hati.
9. Mendengar Ghibah. Tanpa mengingkari/menegur, dan tidak meninggalkan majlis tersebut.
HUKUM GHIBAH DALAM ISLAM
Ghibah hukumnya haram dalam syariat Islam berdasarkan ijma’ kaum muslimin karena dalil-dalil yang jelas dan tegas baik dalam kitab maupun sunnah, diantaranya:
1. Bersabda nabi SAW saat hajji wada’:
“Hari apakah ini?!” Jawab semua manusia yang hadir ketika itu: Hari Arafah ya rasuluLLAH.. Tanya nabi SAW lagi: “Di tanah apakah ini?!” Jawab manusia yang hadir: Di tanah haram ya rasuluLLAH… Tanya nabi SAW lagi: “Bulan apakah ini?!” Jawab manusia lagi: Bulan haram ya rasuluLLAH… Maka kata nabi SAW: “Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, kehormatan-kehormatan kalian haram hukumnya atas kalian, sama seperti haramnya hari ini, di tanah ini dan di bulan ini !!! Apakah sudah aku sampaikan pada kalian?!” Maka jawab manusia yang hadir: Sudah wahai rasuluLLAH.. Maka kata nabi SAW lagi: “Ya ALLAH saksikanlah sudah aku sampaikan…” (HR Bukhari 1/145-146, Muslim 1679)
2. Bersabda nabi SAW:
“Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya sesama muslim, maka ALLAH SWT akan membelanya dari neraka kelak di hari Kiamat.” (HR Tirmidzi 1932, Ahmad 6/450)
3. Bersabda nabi SAW:
“Ketika aku dimi’rajkan aku melihat ada 1 kaum yang memiliki kuku-kuku panjang dari tembaga, sedang mencakari muka-muka dan dada-dada mereka sendiri. Maka aku bertanya pada Jibril: Siapa mereka ini? Jawab Jibril: Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging manusia dengan merusak kehormatan mereka.” (HR Abu Daud 4878 dan Ahmad 3/224)
4. Nabi SAW berdiri untuk shalat, lalu beliau SAW bertanya:
“Dimana Malik bin Dukhsyum?” Maka ada yang menjawab: Ia sudah munafik wahai rasuluLLAH, tidak lagi mencintai ALLAH dan rasul-NYA. Maka jawab nabi SAW: “Jangan sekali-kali kamu berani berkata begitu! Tidakkah kamu lihat ia mengucapkan Lailaha ilaLLAH karena mengharap keridhaan-NYA?! Sungguh ALLAH SWT telah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan La ilaha illaLLAH karena mengharapkan keridhaan-NYA.” (HR Bukhari 3/49-50, Muslim 1/455)
5. Bersabda nabi SAW:
“Muslim dengan muslim lainnya itu bersaudara, tidak boleh mengkhianati, mendustakan dan menghina. Setiap muslim dengan muslim lainnya haram kehormatan, harta dan darahnya. Taqwa itu disini! (sambil nabi SAW menunjuk pada dadanya) Cukup disebut seorang itu jahat jika ia mencaci saudaranya sesama muslim.” (HR Muslim 2564)
6. Bersabda nabi SAW pada Aisyah ra ketika Aisyah ra berkata tentang Shafiyyah ra:
Apakah cukup bagi anda Shafiyyah yang begitu? (maksudnya pendek badannya). Maka jawab nabi SAW: “Sungguh engkau sudah mengucapkan 1 kata yang seandainya dicampur dengan air lautan maka niscaya akan berubah lautan itu karenanya.” (HR abu Daud 4875, Tirmidzi 2504-2505, Ahmad 6/189).
Sehingga berkata Imam Nawawi rahimahuLLAH:
Diantara peringatan yang paling hebat tentang akibat ghibbah adalah hadits ini dan aku tidak pernah menemukan hadits yang lebih keras peringatannya tentang masalah ini selain hadits ini.
(bersambung…)
Ghibah (bagian ke-2)
Oleh Abi AbduLLAAH | 18 January 2006 @ 06:59 | 17 Dzulhijjah 1426 H | Kategori: Tazkiyyah An-Nufus
BEBERAPA PENGECUALIAN DIBOLEHKANNYA GHIBBAH
1. Orang yang dizhalimi. Dibolehkan bagi orang yang dizhalimi untuk mengadukan orang yang menzhaliminya kepada penguasa/hakim berdasarkan firman ALLAH SWT:
“ALLAH tidak menyukai perkataan yang buruk kecuali bagi orang yang dizhalimi.” (QS 4/148)
2. Meminta tolong untuk menghentikan kemunkaran. Menghentikan orang yang bermaksiat dengan mengadukannya kepada orang yang mampu menghentikannya, berdasarkan hadits:
“Barangsiapa melihat kemunkaran maka hendaklah diubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lidahnya dan jika ia tidak mampu maka dengan hatinya, tetapi itu adalah selemah-lemah iman.” (HR Muslim 49, Abu Daud 1140, Tirmidzi 2173, an-Nasai 8/111, Ibnu Majah 4013)
3. Meminta fatwa.
Dibolehkan seseorang bertanya kepada mufti misalnya: Ayahku/saudaraku/temanku telah menzhalimi aku, apakah benar demikian? Bagaimana cara mengatasaniya? Berkata istri abu Sufyan pada nabi SAW:
Wahai rasuluLLAH, sesungguhnya abu Sufyan itu lelaki yang pelit, sehingga ia tidak pernah memberiku sesuai kebutuhanku dan anak-anakku, kecuali jika aku mengambil darinya tanpa sepengetahuannya, apakah dibolehkan yang demikian? Jawab nabi SAW: “Boleh engkau ambil sesuai kebutuhanmu dan anak-anakmu secara ma’ruf (tidak berlebihan).” (HR Bukhari 9/444-445, Muslim 1714)
4. Meng-ghibbah Pendosa Terang-terangan. Seperti peminum minuman keras di depan orang banyak, pelaku korupsi yang sudah ketahuan/diketahui banyak orang, dan lain-lain. Berdasarkan hadits:
“Sesungguhnya dosa-dosa ummatku itu termaafkan, kecuali bagi pelaku dosa terang-terangan. Seperti orang yang melakukan sesuatu di waktu malam yang sudah ditutupi oleh ALLAH SWT, maka paginya ia berkata : Hei Fulan, semalam aku melakukan ini dan itu. Padahal ALLAH SWT sudah menutupinya lalu dibukanya perlindungan ALLAH itu.”
5. Mengenal. Seperti menyebut gelarnya yang dikenal luas oleh semua orang (walaupun gelar itu artinya buruk), seperti gelar-gelar sahabat dan tabi’in Mush’ab (yang menyulitkan) Hanzhalah (pahit), al-A’masy (si Rabun), dan sebagainya.
6. Memperingatkan kaum Muslimin:
a. Mengungkapkan cela seorang perawi dalam hadits, diwajibkan demi terjaganya hadits nabi SAW. Dalilnya di masa nabi SAW pernah ada seorang yang menyampaikan tentang seseorang yang minta izin (untuk tidak ikut peperangan) pada nabi SAW, maka kata nabi SAW:
“Izinkanlah ia, ia adalah sejelek-jelek saudara bagi keluarganya.” (HR Bukhari 10/393, Muslim 2591)
b. Jika orang meminta pendapat kita tentang seseorang untuk bergaul dengannya atau berdagang dengannya, dan sebagainya, maka wajib bagi kita untuk menyampaikan supaya orang itu dapat bergaul dengan benar dan tidak tertipu. Dalilnya bahwa Fathimah binti Qais ra pernah menemui nabi SAW untuk meminta pendapatnya tentang lamaran yang diterimanya dari Mu’awiyah dan abu Jahm, maka kata nabi SAW:
“Adapun Mu’awiyah maka orangnya miskin sama sekali tidak punya harta, adapun abu Jahm tidak pernah melepaskan pecut dari tengkuknya (suka memukul).” (HR Muslim 1480, Thabrani 2/580, Syafi’i dalam ar-Risalah/856)
c. Seorang yang diketahui alim atau faqih dan diragukan bahwa ia adalah ahli bid’ah atau fasiq, sehingga orang mengambil ilmu darinya dan belajar kepadanya, maka wajib kita menasihatinya dan jika ia tidak mau meninggalkan bid’ahnya maka wajib diberitahukan pada orang-orang.
d. Seorang yang memegang kekuasaan dan menyimpang, maka wajib disampaikan penyimpangannya kepada orang yang mengangkatnya, agar mengetahui perihalnya.
e. Kesemua hal ini untuk hal-hal yang jelas-jelas disepakati sebagai penyimpangan, bid’ah dan kejahatan, dan sama sekali bukan pada hal-hal yang merupakan bagian ikhtilaf (yang masih diperselisihkan) oleh para ulama dalam Islam. Adapun mencaci-maki hal-hal yang merupakan ikhtilaf, atau mencari-cari kesalahan orang lain, atau memberikan penafsiran yang buruk atas para ulama, mujahid Islam dan orang-orang yang dikenal tsiqah dan jasa-jasa serta perjuangannya dalam Islam, maka yang demikian itu merupakan perbuatan fasik dan sama sekali bukan dari akhlaq Islam. Kita berlindung pada ALLAH SWT dari yang demikian.
SEBAB-SEBAB TERJATUH KE DALAM GHIBBAH
1. Tidak melakukan tatsabbut dan tabayyun (check and re-check), firman ALLAH SWT:
“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu seorang yang fasik membawa sebuah berita, maka tabayyun-lah kalian terhadap kebenaran berita tersebut, agar jangan sampai kalian menimpakan kerugian pada suatu kaum karena kebodohan kalian, sehingga kelak kamu akan menyesal.” (QS 49/6)
2. Dikuasai oleh amarah dan hawa nafsu, maka seorang muslim adalah orang yang kuat menahan hawa nafsu dan kemarahan tersebut, karena keduanya adalah sifat syaithan dan tidak pantas seorang mu’min memilikinya, firman ALLAH SWT:
“Dan orang yang menahan marahnya, dan orang yang memaafkan manusia, dan sesungguhnya ALLAH mencintai orang-orang suka berbuat baik.” (QS 3/134)
3. Lingkungan dan pergaulan yang jahat, suka mencaci dan berburuk-sangka, sebagaimana disebutkan dalam hadits:
“Setiap manusia terlahir dalam fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.”
4. Dengki dan Iri-hati, ketika kedengkian telah bersarang di dalam hati maka matahari yang terang bersinar akan terlihat gelap-gulita, tanaman yang indah merona akan nampak buruk dan sumpek. Ambillah pelajaran dari kisah putra Adam as, walaupun ia hidup di bawah asuhan seorang nabi, tetapi ketika kedengkian menguasai hatinya maka ia tega membunuh saudaranya sendiri, walaupun saudaranya itu telah menasihatinya dan tidak melawannya sama sekali, perhatikanlah ucapan Habil ketika akan dibunuh oleh saudaranya Qabil:
“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, maka aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada ALLAH RABB sekalian alam.” (QS 5/28).
Lalu ia menasihati saudaranya dengan halus tentang dosa dari perbuatan membunuh tersebut, dengan harapan saudaranya akan sadar:
“Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan membawa dosa membunuhku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka dan yang demikian itulah pembalasan orang-orang yang zhalim.” (QS 5/29),
tetapi kedengkian yang besar membuat Qabil tidak perduli lagi dengan agama dan aturan syariat, demikianlah perbuatan dosa kedua yang dilakukan oleh makhluq adalah karena kedengkian.
5. Ujub, Ghurur dan Takabbur, ketika manusia atau kelompok manusia sudah merasa dalam hatinya bahwa dirinya lebih pandai dan alim maka ia telah ujub, lalu jika ia mulai meremehkan dan mencela orang lain maka ia menjadi ghurur, dan ketika ia telah merasa bahwa kebenaran hanya ada pada diri dan kelompoknya sementara yang lain semua salah dan ia tidak mau menerima kebenaran dari orang lain walaupun disampaikan dengan hujjah yang nyata maka ia menjadi takabbur. Lihatlah perkataan Fir’aun:
“Apakah aku yang lebih baik ataukah orang yang hina ini yang hampir tidak bisa jelas dalam berbicara?” (QS 43/52-53)
Dalam ayat ini Fir’aun tidak memperhatikan kebenaran yang disampaikan oleh Musa, tapi ia berusaha mencari-cari kelemahan yang ada pada diri Musa saja dengan tujuan untuk menghinanya.
6. Menutupi kelemahan diri, orang yang tidak mau diketahui kelemahannya sehingga ia berusaha menjelek-jelekan orang lain, hal ini dilakukannya karena merasa ia akan kalah pengaruh dan ketenaran dari orang yang di-ghibbah-nya, maka ia meng-ghibbah orang tersebut untuk menutupi kekurangannya dan kelompoknya dari orang tersebut, sehingga orang-orang memujinya dan menganggapnya alim dan orang pun menjelek-jelekan orang lain yang di-ghibbah-nya tersebut.
7. Disibukkan dalam Hal Sepele, orang-orang yang terbiasa disibukkan dengan hal yang kecil dan tidak mengetahui masalah-masalah besar yang dihadapi oleh ummat akan terus mencari-cari kesalahan orang lain, karena banyaknya waktu yang dimilikinya yang seandainya waktu tersebut digunakannya untuk mengurus masalah-masalah ummat yang sudah sedemikian gawat ini maka tidak akan ada waktu baginya untuk meng-ghibbah. Hal ini juga dimungkinkan karena tidak mengerti tentang prioritas amal yang harus dilakukan.
8. Tidak mengetahui tentang Bahaya Ghibbah, ummat yang tidak mengetahui tentang dosa besar dan bahaya ghibbah akan menganggap ghibbah sebagai hal yang sepele, padahal ia sangat besar disisi ALLAH SWT:
“Dan kalian menganggapnya sepele, padahal ia disisi ALLAH adalah sangat besar (dosanya).” (QS 24/15)
Berkata Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya:
Tidak aku lihat dosa yang pelakunya demikian keras ditegur oleh ALLAH SWT dan diancam dengan azab yang sangat keras, melainkan dosa orang-orang yang menuduh dengan tuduhan bohong dan meng-ghibbah ummul mu’minin Aisyah ra.
9. Tidak Terbiasanya Ummat dalam Hukum Syariah, ummat yang faham maka mereka akan segera menghentikan para pelaku ghibbah siapapun mereka, mencegahnya dengan lembut dan keras atau meninggalkannya sama sekali sebagai hukuman syariat terhadapnya agar para pelaku ghibbah menyadari kesalahannya dan kembali ke jalan yang benar.
10. Tidak Jelas dalam Penyampaian, kata-kata, ungkapan, cerita yang tidak jelas atau tidak selesai, bisa mengakibatkan kesalahfahaman diantara yang mendengar. Maka nabi SAW jika berbicara jelas, tegas dan tidak bertele-tele agar yang mendengar dapat memahaminya dengan sempurna, dan beliau SAW juga biasa mengulangi kata-katanya 2 atau 3 kali, supaya jelas.
11. Bercanda dan Main-Main, bercanda dan main-main dalam Islam ada batasnya, canda itu tidak boleh memasukkan kejelekan orang lain sebagai bahan tertawaan dan permainan, sabda nabi SAW:
“Sesungguhnya seorang mengatakan 1 kata yang tidak disadarinya bahayanya, yang akibatnya ia dilemparkan ke neraka dalam jarak lebih jauh dari jarak Timur dan Barat.” (HR Bukhari 11/265-266, Muslim 2988, Tirmidzi 2315, Thabrani 2/985)
(Bersambung…)
Ghibah (bagian ke-3, habis)
Oleh Abi AbduLLAAH | 19 January 2006 @ 07:17 | 19 Dzulhijjah 1426 H | Kategori: Tazkiyyah An-Nufus
DAMPAK-DAMPAK GHIBBAH
1. Dampaknya Bagi sebuah Kelompok Dakwah
a. Kerasnya Hati, kaum beriman adalah orang-orang yang senantiasa lembut hatinya baik terhadap RABB-nya maupun terhadap sesama saudaranya, alangkah bahagianya kelompok dakwah yang para aktifisnya memiliki hati-hati yang bening bagai kaca, mereka tidak pernah mencari-cari kesalahan orang lain, bahkan lisan-lisan mereka senantiasa dipenuhi zikir dan doa bagi saudaranya sesama muslim, firman ALLAH:
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdoa : Wahai RABB kami, beri ampunlah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah ENGKAU membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai RABB kami sesungguhnya ENGKAU adalah Maha Penyantun lagi Maha Penyayag.” (QS 59/10)
b. Mendapat azab, berupa perpecahan dan silang sengketa yang tidak putus-putusnya dikalangan para aktifisnya dan timbulnya kedengkian dan permusuhan, kata-kata yang kasar dan caci-maki, yang kesemuanya bukan akhlaq yang Islami. ALLAH SWT memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar memperkuat persaudaraan diantara mereka dan menyatakan bahwa persaudaraan itu sebagai salah satu tanda keimanan dalam firman-NYA:
“Hanyalah yang disebut orang-orang beriman itu bersaudara, maka perbaikilah hubungan diantara saudaramu, dan bertaqwalah kepada ALLAH semoga kalian mendapat rahmat.” (QS 49/10)
2. Dampaknya Bagi para Aktifis
a. Diazab masing-masing, dan azab tersebut disegerakan ketika ia baru masuk ke dalam kubur, kata Ibnu Abbas ra:
Nabi SAW pernah melewati 2 kuburan lalu beliau SAW bersabda : “Kedua orang ini diazab, dan tidaklah mereka diazab karena sesuatu yang besar menurut mereka, padahal ia adalah dosa besar, adapun yang seorang ia sering mengadu domba diantara manusia, adapun yang satunya tidak bersih bersuci setelah buang air kecil.” (HR Bukhari 1/273 dan 276, Muslim 292, abu Daud 20, Tirmidzi 70, Nasai 1/28 dan 30)
b. Malas Melakukan Kewajiban, orang-orang yang berhati busuk maka ia akan kehilangan sifat khusyu’ dalam hatinya dan tidak bisa merasakan kelezatan ibadah dan munajat dalam dirinya, sehingga ibadahnya menjadi kering dari manisnya iman, firman ALLAH SWT:
“Minta tolonglah kalian semua melalui sabar dan shalat, dan sungguh hal itu teramat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, yaitu orang-orang yang menduga bahwa mereka akan menemui RABB-nya dan mereka akan dikembalikan kepada-NYA.” (QS 2/45-46)
c. Munafik, orang-orang yang berhati busuk pada orang lain maka oleh ALLAH SWT akan dihilangkan sifat kejujuran dalam dirinya dan ditumbuhkan sifat kemunafikan, karena kebiasaannya merusak kehormatan orang mu’min, sabda nabi SAW:
“Ada 4 sifat yang jika lengkap ada pada diri seseorang maka ia akan menjadi munafik sejati, dan jika ada salah satunya maka ia memiliki sifat kemunafikan sampai ditinggalkannya : Jika dipercaya ia khianat, jika bicara ia dusta, jika janji ia ingkar dan jika berdebat maka ia melampaui batas.” (HR Muttafaq ‘alaih)
TERAPI GHIBBAH
1. Senantiasa mengikhlaskan niat kepada ALLAH dalam semua aspek kehidupan dan memperkuat ketaqwaan kepada-NYA, firman-NYA:
“Wahai sekalian manusia sungguh KAMI menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang wanita, lalu KAMI menjadikanmu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal, sesungguhnya yang paling taqwa diantara kalian adalah yang paling taqwa diantara kalian, sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahui lagi Maha Melihat.” (QS 49/13)
2. Merasakan bahwa setiap kata yang keluar dari mulut kita dicatat dan akan dipertanggung-jawabkan di hadapan ALLAH SWT, firman-NYA:
“Dan tidaklah satu katapun yang mereka ucapkan kecuali ada malaikat yang senantiasa dekat lagi mencatat.” (QS 50/18)
3. Senantiasa melakukan pengecekan secara teliti terhadap kebenaran berita yang berkenaan dengan diri seseorang atau kelompok, firman-NYA:
“Hai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu orang fasik membawa berita maka ceklah kebenaran berita itu dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa tahu persis keadaan sebenarnya yang menyebabkan kamu akan menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS 49/6)
4. Menahan marah dan mengendalikan hawa-nafsu:
“Dan orang-orang yang menahan marahnya dan memaafkan manusia, maka sesungguhnya ALLAH mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS 3/134)
5. Mencari lingkungan yang bersih dan jauh dari mencaci dan meng-ghibbah orang lain dan menyibukkan diri untuk melihat dan memperbaiki kekurangan diri:
“Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengejek kaum yang lain, karena boleh jadi yang diejek itu lebih baik dari kamu (disisi ALLAH)… Dan janganlah kalian mencela diri kalian sendiri (saudara sesama muslim), dan janganlah kalian panggil-memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk setelah kalian beriman, dan barangsiapa yang tidak segera bertaubat maka itulah orang-orang yang zalim.” (QS 49/11)
6. Selalu berprasangka baik kepada sesama muslim dan mencarikan alasan baik jika melihat kekurangannya serta menasihatinya secara sembunyi:
“Mengapakah di waktu kalian mendengar berita itu orang-orang mu’min tidak bersangka baik kepada diri mereka sendiri (saudara sesama muslim) dan (lalu) berkata : Ini adalah suatu kedustaan yang nyata.” (QS 24/12)
7. Menutupi aib sesama muslim dan tidak berusaha menyebar-nyebarkan keburukan orang lain:
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita tentang perbuatan yang amat keji itu tersiar dikalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan ALLAH lebih Mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS 24/19)
8. Mendakwahi para ulama dan panutan masyarakat yang memiliki sifat senang mencari-cari kesalahan orang lain dan meng-ghibbah.
9. Mencari kejelasan dari kata-kata dan pembicaraan sehingga tidak menduga-duga maksudnya.
10. Mendakwahi ummat agar sensitif dan mencegah terhadap para pelaku ghibbah.
11. Senantiasa mengingat balasan ALLAH SWT bagi para pelaku ghibbah dan bahayanya bagi ummat.
Selasa, Agustus 11, 2009
Menggapai Ridha Allah Melalui Orang Tua
Menggapai Ridha Allah Melalui Orang Tua
Jalan yang hak dalam menggapai ridha Allah melalui orang tua adalah Birrul walidain. Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) adalah salah satu masalah yang penting dalam Islam. Di dalam Al-Qur’an, setelah memerintahkan kepada manusia untuk bertauhid kepada-Nya, Allah Ta’ ala memerintahkan untuk berbakti kepada orang tuanya. Dalam surat Al Isra’ ayat 23-24, Allah berfirman:
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut di sisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan jangan lah kamu membentak keduanya. Dan katakanlah kepada keduanya perkatanaan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah,”Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil.”
Al Hafidz Ibnu Katsir telah menerangkan ayat tersebut sebagai berikut:
“Allah Ta’ala telah mewajibkan kepada semua manusia untuk beribadah hanya kepada Allah saja, tidak menyekutukan dengan yang lain. “Qadla” di sini bermakna perintah sebagaimana yang dikatakan Imam Mujahid, wa qadla yakni washa (Allah berwasiat). Kemudian dilanjutkan dengan “wabil waalidaini ihsana” hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya.
Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya dalam keadaan lanjut usia, “fa laa taqul lahuma uffin” maka janganlah berkata kepada keduanya ‘ah’ ( ‘cis’ atau yang lainnya). Janganlah memperdengarkan kepada keduanya perkataan yang buruk. “Wa laa tanhar huma” dan janganlah kalian membenci keduanya. Ada juga yang mengatakan bahwa “wa laa tanhar huma ai la tanfudz yadaka alaihima” maksudnya adalah janganlah kalian mengibaskan tangan kepada keduanya. Ketika Allah melarang perkataan perkataan dan perbuatan yang buruk, Allah juga memerintahkan untuk berbuat dan berkata yang baik. Seperti dalam firman Allah Ta’ala “wa qul lahuma qaulan karima” dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia, yaitu perkataan yang lembut dan baik dengan penuh adab dan rasa hormat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan kasih sayang, hendaklah kalian bertawadlu’ kepada keduanya. Dan hendaklah kalian berdoa, “Ya Allah sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangi dan mendidikku di waktu kecil,” pada waktu mereka berada di usia lanjut hingga keduanya wafat.” [Tafsir Ibnu Katsir Juz III hal 39-40 Cet. I. Maktabah Daarus Salam, Riyad. Th. 1413H]
Perintah birul walidain juga tercantum dalam surat An Nisa ayat 36, Allah berfirman:
Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, kepada kaum kerabat, kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, kepada tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya, sesugguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”
Dalam surat Al Ankabut ayat 8, tercantum larangan mematuhi orang tua yang kafir kalau mengajak kepada kekafiran:
“Dan Kami wajibkan kepada manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikutikeduanya. Hanya kepada-Ku lah kembalimu.lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Pengertian berbuat baik dan durhaka
Menurut lughoh (bahasa), Al-Ihsan berasal dari kata ahsana –yuhsinu –Ihsaanan. Sedangkan yang dimaksud ihsan dalam pembahasan ini adalah berbakti kepada kedua orang tua yaitu menyampaikan setiap kebaikan kepada keduanya semampu kita dan bila memungkinkan mencegah gangguan terhadap keduanya. Menurut Ibnu Athiyah, kita wajib juga mentaati keduanya dalam hal-hal yang mubah, harus mengikuti apa-apa yang diperintahkan keduanya dan menjauhi apa-apa yang dilarang.
Sedangkan uquq artinya memotong (seperti halnya aqiqah yaitu memotong kambing). ‘Uququl walidain’ adalah gangguan yang ditimbulkan seorang anak terhadap kedua orang tuanya baik berupa perkataan maupun perbuatan. Contoh gangguan dari seorang anak kepada kedua orang tuanya yang berupa perkataan yaitu dengan mengatakan ‘ah’ atau ‘cis’, berkata dengan kalimat yang keras atau menyakitkan hati, menggertak, mencaci dan yang lainnya. Sedangkan yang berupa perbuatan adalah berlaku kasar seperti memukul dengan tangan atau kaki bila orang tua menginginkan sesuatu atau menyuruh untuk memenuhi keinginannya, membenci, tidak memperdulikan, tidak bersilaturahmi atau tidak memberi nafkahkan kepada kedua orang tuanya yang miskin.
Berbakti Kepada Orang Tua Merupakan Sifat Baarizah (yang menonjol) dari Para Nabi. Dalam surat Maryam ayat 30-34, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Isa bin Maryam adalah anak yang berbakti kepada Ibunya: Berkata Isa, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, yang memberi Al-Kitab (Injil), Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Allah memerintahkan aku berbakti kepada ibuku dan tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku. Itulah Isa putra Maryam, mengatakan perkataan yang benar dan mereka berbantahan tentang kebenarannya.”
Kemudian Allah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 40-41: “Wahai Rabb-ku jadikanlah aku dan anak cucuku, orang yang tetap mendirikan shalat, wahai Rabb-ku perkenankanlah doaku.Wahai Rabb kami, berikanlah ampunan untukku dan kedua orang tuaku. Dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab.” Lihat juga dalam surat Asy Syu’araa’ ayat 83-87:(Ibrahim berdoa) “Ya Rabb-ku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukanlah aku kedalam golongan orang-orang yang shalih, Dan jadikanlah aku tutur kata yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian,
Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan, Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat,Dan janganlah engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.”
Demikian juga Nabi Nuh ‘alaihi salam mengatakan hal yang sama dalam surat Nuh. Kemudian Nabi Ismail ‘alaihi salam, juga Nabi Yahya ‘alaihi salam dalam surat Maryam ayat 12-15: Ambillah Al Kitab dengan sungguh-sungguh, Kami berikan kepadanya hikmah, ketika masih kanak-kanak, Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan ia adalah orang-orang yang bersih dosa dan orang-orang bertakwa. Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, bukanlah ia termasuk orang-orang yang sombong lagi durhaka. Kesejahteraan semoga atas dirinya, pada hari ia dilahirkan, pada hari ia diwafatkan, dan pada hari ia dibangkitkan.”
Kemudian dalam An Nahl ayat 19 tentang nabi Sulaiman ‘alaihi salam. Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugrahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk mengajarkan amal shalih yang Engkau ridlai dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.”
Ayat-ayat diatas menunjukan bahwa bakti kepada orang tua merupakan sifat yang menonjol bagi para nabi. Semua nabi berbakti kepada kedua orang tua mereka. Dan ini menunjukan bahwa berbakti kepada orang tua adalah syariat yang umum. Setiap nabi dan rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ke muka bumi selain diperintahkan untuk menyeru umatnya agar berbakti kepada Allah, mentauhidkan Allah dan menjauhi segala macam perbuatan syirik juga diperintahkan untuk menyeru umatnya agar berbakti kepada orang tuanya.
Bila diperintahkan bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua seperti yang tercantum dalam surat An Nisa, surat Al Isra dan surat-surat yang lainya menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah masalah kedua setelah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau selama ini yang dikaji adalah masalah tauhid, masalah aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, aqidah salaf, untuk selanjutnya wajib pula bagi setiap muslim dan muslimah untuk mengkaji masalah berbakti kepada kedua orang tua. Tidak boleh terjadi pada seorang yang bertauhid kepada Allah tetapi ia durhaka kepada kedua orang tuanya, wal iyadzubillah nas alullahu salamah wal afiyah. Bagi seorang muslim terutama bagi seorang thalibul ‘ilm (penuntut ilmu), wajib baginya berbakti kepada orang tuanya.
Keutamaan Berbakti Kepada Kedua Orang Tua dan Pahalanya
Pertama: Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dalam amal yang paling utama. Dengan dasar diantaranya yaitu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Dari sahabat Abu Abdirrahman Abdulah bin Mas’ud radliallahu ‘anhu:
“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang amal-amal paling utama dan dicintai Allah? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘pertama Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat diawal waktunya), kedua berbakti kepada kedua dua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah’.” [HR. Bukhari I/134, Muslim No. 85, Fathul Baari 2/9]
Dengan demikian jika ingin berbuat kebajikan harus didahulukan amal-amal yang paling utama di antaranya adalah birrul walidain (berbakti kepada orang tua).
Kedua: Bahwa ridha Allah tergantung kepada keridhaan orang tua. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu Hibban, Hakim dan Imam Tirmidzi dari Sahabat dari sahabat Abdillah bin Amr dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152))
Ketiga: Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami yaitu dengan cara bertawasul dengan amal shalih tersebut. Dengan dasar hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ibnu Umar:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Pada suatu hari tiga orang berjalan, lalu kehujanan. Mereka bertehduh pada sebuah gua di kaki sebuah gunung. Ketika mereka ada di dalamnya, tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi pintu gua/ sebagian mereka berkata kepada yang lain, ‘Ingatlah amal terbaik yang pernah kamu lakukan.’ Kemudian mereka memohon kepada Allah dan bertawasul melalui amal tersebut, dengan harapan agar Allah menghilangkan kesulitan tersebut. Salah satu diantara mereka berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan sedangkan aku mempunyai istri dan anak-anak yang masih kecil. Aku menggembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang sudah larut dan aku dapati kedua orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku pegang lalu aku mendatangi keduanya namun keduanya masih tertidur pulas. Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya. Aku tidak akan berikan kepada siapapun sebelum susu yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku tunggu sampai keduanya bangun. Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada anak-anakku. Ya Allah, seandainya perbuatan ini adalah perbuatan yang baik karena Engkau ya Allah, bukakanlah.’ Maka batu yang menutup pintu gua itu pun bergeser.” [HR. Bukhari, (Fathul baari 4/449 no. 2272), Muslim (2473) (100) Bab Qishshah Ashabil Ghaar Ats Tsalatsah Wattawasul bi Shalihil A’mal].
Ini menunjukan bahwa perbuatan berbakti kepada kedua orang tua yang pernah kita lakukan, dapat digunakan untuk bertawasul kepada Allah ketika kita mengalami kesulitan, insya Allah kesulitan tersebut akan hilang. Berbagai kesulitan yang dialami seseorang saat ini diantaranya karena perbuatan durhaka kepada kedua orang tua.
Kalau kita mengetahui, bagaimana beratnya orang tua kita telah bersusah payah untuk kita, maka perbuatan ‘Si Anak’ yang ‘bergadang’ untuk memerah susu tersebut belum sebanding dengan jasa orang tuanya ketika mengurusnya sewaktu kecil.
Ini juga menunjukan bahwa kebutuhan kedua orang tua harus di dahulukan daripada kebutuhan anak kita sendiri. Bahkan dalam riwayat yang lain disebutkan berbakti kepada orang tua harus didahulukan dari pada berbuat baik kepada istri sebagai mana diriwayatkan oleh abdulah bin umar radliallahu ‘anhuma ketika diperintahkan oleh bapaknya (Umar bin Khatab) untuk menceraikan istrinya, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Rasalullah menjawab, “Ceraikan istrimu!” [HR. Abu Dawud No. 5138, Tirmidzi No. 1189 beliau berkata, “Hadits hasan shahih”]
Keempat: Dengan berbakti kepada kedua orang tua akan diluaskan rizki dan
dipanjangkan umur Sebagai mana dalam hadits yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Dari sahabat Anas radliallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barang siapa yang suka diluaskan rizki dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” [HR. Bukhari 7/7, Muslim 2557, Abu Dawud 1693].
Dalam silaturahmi, yang harus didahulukan silaturahmi kepada orang tua sebelim kepada yang lain. Banyak diantara saudara-saudara kita yang sering ziarah kepada teman-temannya tetapi kepada orang tuanya sendiri jarang bahkan tidak pernah. Padahal ketika masih kecil dia selalu bersama orang tuanya. Sesulit apapun harus tetap diusahakan untuk bersilaturahmi kepada kedua orang tua. Karena dengan dekat kepada keduanya insya Allah akan dimudahkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya.
Kelima: Manfaat dari berbakti kepada kedua orang tua yaitu akan dimasuikkan ke jannah (surga) oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dosa-dosa yang Allah segerakan adzabnya di dunia diantaranya adalah berbuat zhalim dan durhaka kepada orang tua. Dengan demikian jika seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya, Allah akan menghindarkannya dari berbagai mala petaka, dengan izin Allah.
Wasiat Berbuat Baik Kepada Orang Tua Takala Keduanya Berusia Lanjut.
Banyak sekali hadits-hadits yang menyebutkan tentang ruginya seseorang yang tidak berbakti kepada kedua orang tua pada waktu orang tua masih disisi kita, salah satunya adalah:Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut , salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga.” [HR. Muslim 2551, Ahmad 2:254,346].
Pada umumnya seorang anak merasa berat dan malas memberi nafkah dan mengurusi kedua orang tuanya yang telah berusia lanjut. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa keberadaan kedua orang tua yang berusia lanjut itu adalah kesempatan paling baik untuk mendapatkan pahala dari Allah, dimudahkan rizki dan jembatan emas menuju surga. Karena itu sungguh rugi jika seorang anak menyia-nyiakan kesempatan yang paling berharga ini dengan mengabaikan hak-hak orang tuanya dan dengan sebab itu dia tidak masuk surga.
Bentuk dan Akibat Durhaka Kepada Kedua Orang Tua.
Di antara bentuk durhaka (uquq) adalah:
1. Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan ) ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih atau sakit hati.
2. Berkata ‘ah dan tidak memenuhi panggilan orang tua.
3. Membentak atau menghardik orang tua.
4. Bakhil, tidak mengurusi orang tuanya bahkan lebih mempentingkan yang lain dari pada mengurusi orang tuanya padahal orang tuanya sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkahpun , dilakukan dengan penuh perhitungan.
5. Bermuka masam dan cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, '‘kolot’ dan lain-lain.
6. Menyuruh orang tua, misalnya menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut sangat tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua dan lemah. Tetapi jika ‘Si Ibu’ melakukan pekerjaan tersebut dengan kemauannya sendiri maka tidak mengapa dan karena itu anak harus berterima kasih.
7. Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua.
8. Memasukan kemurkaan kedalam rumah misalnya alat musik, mengisap Rokok, dll.
9. Mendahului taat kepada istri dari pada orang tua. Bahkan ada sebagai orang dengan teganya mengusir ibunya demi menuruti kemauan istrinya. Na’udzubillah.
10. Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat tinggalnya ketika status sosialnya meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam itu adalah sikap yang sangat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.
Akibat dari durhaka kepada kedua orang tua akan dirasakan di dunia, dan ini didasarkan pada hadits berikut:Dari Abi Bakrah radliallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Tidak ada dosa yang Allah cepatkan adzabnya kepada pelakunya di dunia ini dan Allah juga akan mengadzabnya di akhirat yang pertama adalah berlaku Zhalim, kedua memutuskan tali silaturrahmi.” [HR. Bukhari (Shahih Adabul Mufrad No. 23),]
Dalam hadits lain dikatakan:”Dua perbuatan dosa yang Allah sepatkan adzabnya (siksanya) di dunia yaitu berbuat zhalim dan al ‘uquq (durhaka kepada orang tua). [HR. Hakim 4/177 dari Anas din Malik radliallahu ‘anhu].
Dapat kita lihat sekarang banyak orang yang durhaka kepada orang tuanya hidupnya tidak berkah dan selalu mengalami berbagai macam kesulitan. Kalaupun orang tersebut kaya maka kekayaannya tidak akan menjadikan bahagia.
Bentuk-bentuk Bakti Kepada Orang Tua
Pertama: Bergaul kepada keduanya dengan cara yang baik. Di dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disebutkan bahwa memberi kegembiraan kepada seseorang mu’min termasuk shadaqah, lebih utama lagi kalau memberikan kegembiraan kepada kedua orang tua kita.
Kedua: yaitu berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut. Hendaknya dibedakan berbicara kepada kedua orang tua dengan kepada anak, teman atau dengan yang lain. Berbicara dengan perkataan yang mulia kepada kedua orang tua.
Ketiga: Tawadlu (rendah diri). Tidak boleh kibir (sombong) apabila sudah meraih sukses atau atau memenuhi jabatan di dunia, karena sewaktu lahir kita berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan dengan memberi makan, minum, pakaian dan semuanya
Keempat: Yaitu memberi infak (shadaqah) kepada kedua orang tua. Semua harta kita adalah milik orang tua.
Kelima: Mendo’akan kedua orang tua. Sebagaimana ayat: ‘robbirhamhuma kamaa rabbayaani shagiiro’ (wahai rabb-ku kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil). Seandainya orang tua belum mengikuti dakwah yang haq dan masih berbuat syirik serta bid’ah, kita tetap harus berlaku lemah lembut kepada keduanya.
Apabila kedua orang telah meninggal maka yang pertama kita lakukan adalah meminta ampun kepada Allah Ta’ala dengan taubat yang nasuha (benar) bila kita pernah berbuat durhaka kepada keduanya di waktu mereka masih hidup, yang kedua adalah menshalatkannya, ketiga adalah selalu meminta ampunan untuk keduanya, yang keempat membayarkan hutang-hutangnya, yang kelima melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syari’at dan yang keenam menyambung tali silaturrahmi kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya (diringkas dari beberapa hadist yang shahih).
Jalan yang hak dalam menggapai ridha Allah melalui orang tua adalah Birrul walidain. Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) adalah salah satu masalah yang penting dalam Islam. Di dalam Al-Qur’an, setelah memerintahkan kepada manusia untuk bertauhid kepada-Nya, Allah Ta’ ala memerintahkan untuk berbakti kepada orang tuanya. Dalam surat Al Isra’ ayat 23-24, Allah berfirman:
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut di sisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan jangan lah kamu membentak keduanya. Dan katakanlah kepada keduanya perkatanaan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah,”Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil.”
Al Hafidz Ibnu Katsir telah menerangkan ayat tersebut sebagai berikut:
“Allah Ta’ala telah mewajibkan kepada semua manusia untuk beribadah hanya kepada Allah saja, tidak menyekutukan dengan yang lain. “Qadla” di sini bermakna perintah sebagaimana yang dikatakan Imam Mujahid, wa qadla yakni washa (Allah berwasiat). Kemudian dilanjutkan dengan “wabil waalidaini ihsana” hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya.
Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya dalam keadaan lanjut usia, “fa laa taqul lahuma uffin” maka janganlah berkata kepada keduanya ‘ah’ ( ‘cis’ atau yang lainnya). Janganlah memperdengarkan kepada keduanya perkataan yang buruk. “Wa laa tanhar huma” dan janganlah kalian membenci keduanya. Ada juga yang mengatakan bahwa “wa laa tanhar huma ai la tanfudz yadaka alaihima” maksudnya adalah janganlah kalian mengibaskan tangan kepada keduanya. Ketika Allah melarang perkataan perkataan dan perbuatan yang buruk, Allah juga memerintahkan untuk berbuat dan berkata yang baik. Seperti dalam firman Allah Ta’ala “wa qul lahuma qaulan karima” dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia, yaitu perkataan yang lembut dan baik dengan penuh adab dan rasa hormat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan kasih sayang, hendaklah kalian bertawadlu’ kepada keduanya. Dan hendaklah kalian berdoa, “Ya Allah sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangi dan mendidikku di waktu kecil,” pada waktu mereka berada di usia lanjut hingga keduanya wafat.” [Tafsir Ibnu Katsir Juz III hal 39-40 Cet. I. Maktabah Daarus Salam, Riyad. Th. 1413H]
Perintah birul walidain juga tercantum dalam surat An Nisa ayat 36, Allah berfirman:
Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, kepada kaum kerabat, kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, kepada tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya, sesugguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”
Dalam surat Al Ankabut ayat 8, tercantum larangan mematuhi orang tua yang kafir kalau mengajak kepada kekafiran:
“Dan Kami wajibkan kepada manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikutikeduanya. Hanya kepada-Ku lah kembalimu.lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Pengertian berbuat baik dan durhaka
Menurut lughoh (bahasa), Al-Ihsan berasal dari kata ahsana –yuhsinu –Ihsaanan. Sedangkan yang dimaksud ihsan dalam pembahasan ini adalah berbakti kepada kedua orang tua yaitu menyampaikan setiap kebaikan kepada keduanya semampu kita dan bila memungkinkan mencegah gangguan terhadap keduanya. Menurut Ibnu Athiyah, kita wajib juga mentaati keduanya dalam hal-hal yang mubah, harus mengikuti apa-apa yang diperintahkan keduanya dan menjauhi apa-apa yang dilarang.
Sedangkan uquq artinya memotong (seperti halnya aqiqah yaitu memotong kambing). ‘Uququl walidain’ adalah gangguan yang ditimbulkan seorang anak terhadap kedua orang tuanya baik berupa perkataan maupun perbuatan. Contoh gangguan dari seorang anak kepada kedua orang tuanya yang berupa perkataan yaitu dengan mengatakan ‘ah’ atau ‘cis’, berkata dengan kalimat yang keras atau menyakitkan hati, menggertak, mencaci dan yang lainnya. Sedangkan yang berupa perbuatan adalah berlaku kasar seperti memukul dengan tangan atau kaki bila orang tua menginginkan sesuatu atau menyuruh untuk memenuhi keinginannya, membenci, tidak memperdulikan, tidak bersilaturahmi atau tidak memberi nafkahkan kepada kedua orang tuanya yang miskin.
Berbakti Kepada Orang Tua Merupakan Sifat Baarizah (yang menonjol) dari Para Nabi. Dalam surat Maryam ayat 30-34, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Isa bin Maryam adalah anak yang berbakti kepada Ibunya: Berkata Isa, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, yang memberi Al-Kitab (Injil), Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Allah memerintahkan aku berbakti kepada ibuku dan tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku. Itulah Isa putra Maryam, mengatakan perkataan yang benar dan mereka berbantahan tentang kebenarannya.”
Kemudian Allah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 40-41: “Wahai Rabb-ku jadikanlah aku dan anak cucuku, orang yang tetap mendirikan shalat, wahai Rabb-ku perkenankanlah doaku.Wahai Rabb kami, berikanlah ampunan untukku dan kedua orang tuaku. Dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab.” Lihat juga dalam surat Asy Syu’araa’ ayat 83-87:(Ibrahim berdoa) “Ya Rabb-ku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukanlah aku kedalam golongan orang-orang yang shalih, Dan jadikanlah aku tutur kata yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian,
Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan, Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat,Dan janganlah engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.”
Demikian juga Nabi Nuh ‘alaihi salam mengatakan hal yang sama dalam surat Nuh. Kemudian Nabi Ismail ‘alaihi salam, juga Nabi Yahya ‘alaihi salam dalam surat Maryam ayat 12-15: Ambillah Al Kitab dengan sungguh-sungguh, Kami berikan kepadanya hikmah, ketika masih kanak-kanak, Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan ia adalah orang-orang yang bersih dosa dan orang-orang bertakwa. Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, bukanlah ia termasuk orang-orang yang sombong lagi durhaka. Kesejahteraan semoga atas dirinya, pada hari ia dilahirkan, pada hari ia diwafatkan, dan pada hari ia dibangkitkan.”
Kemudian dalam An Nahl ayat 19 tentang nabi Sulaiman ‘alaihi salam. Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugrahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk mengajarkan amal shalih yang Engkau ridlai dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.”
Ayat-ayat diatas menunjukan bahwa bakti kepada orang tua merupakan sifat yang menonjol bagi para nabi. Semua nabi berbakti kepada kedua orang tua mereka. Dan ini menunjukan bahwa berbakti kepada orang tua adalah syariat yang umum. Setiap nabi dan rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ke muka bumi selain diperintahkan untuk menyeru umatnya agar berbakti kepada Allah, mentauhidkan Allah dan menjauhi segala macam perbuatan syirik juga diperintahkan untuk menyeru umatnya agar berbakti kepada orang tuanya.
Bila diperintahkan bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua seperti yang tercantum dalam surat An Nisa, surat Al Isra dan surat-surat yang lainya menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah masalah kedua setelah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau selama ini yang dikaji adalah masalah tauhid, masalah aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, aqidah salaf, untuk selanjutnya wajib pula bagi setiap muslim dan muslimah untuk mengkaji masalah berbakti kepada kedua orang tua. Tidak boleh terjadi pada seorang yang bertauhid kepada Allah tetapi ia durhaka kepada kedua orang tuanya, wal iyadzubillah nas alullahu salamah wal afiyah. Bagi seorang muslim terutama bagi seorang thalibul ‘ilm (penuntut ilmu), wajib baginya berbakti kepada orang tuanya.
Keutamaan Berbakti Kepada Kedua Orang Tua dan Pahalanya
Pertama: Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dalam amal yang paling utama. Dengan dasar diantaranya yaitu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Dari sahabat Abu Abdirrahman Abdulah bin Mas’ud radliallahu ‘anhu:
“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang amal-amal paling utama dan dicintai Allah? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘pertama Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat diawal waktunya), kedua berbakti kepada kedua dua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah’.” [HR. Bukhari I/134, Muslim No. 85, Fathul Baari 2/9]
Dengan demikian jika ingin berbuat kebajikan harus didahulukan amal-amal yang paling utama di antaranya adalah birrul walidain (berbakti kepada orang tua).
Kedua: Bahwa ridha Allah tergantung kepada keridhaan orang tua. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu Hibban, Hakim dan Imam Tirmidzi dari Sahabat dari sahabat Abdillah bin Amr dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152))
Ketiga: Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami yaitu dengan cara bertawasul dengan amal shalih tersebut. Dengan dasar hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ibnu Umar:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Pada suatu hari tiga orang berjalan, lalu kehujanan. Mereka bertehduh pada sebuah gua di kaki sebuah gunung. Ketika mereka ada di dalamnya, tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi pintu gua/ sebagian mereka berkata kepada yang lain, ‘Ingatlah amal terbaik yang pernah kamu lakukan.’ Kemudian mereka memohon kepada Allah dan bertawasul melalui amal tersebut, dengan harapan agar Allah menghilangkan kesulitan tersebut. Salah satu diantara mereka berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan sedangkan aku mempunyai istri dan anak-anak yang masih kecil. Aku menggembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang sudah larut dan aku dapati kedua orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku pegang lalu aku mendatangi keduanya namun keduanya masih tertidur pulas. Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya. Aku tidak akan berikan kepada siapapun sebelum susu yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku tunggu sampai keduanya bangun. Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada anak-anakku. Ya Allah, seandainya perbuatan ini adalah perbuatan yang baik karena Engkau ya Allah, bukakanlah.’ Maka batu yang menutup pintu gua itu pun bergeser.” [HR. Bukhari, (Fathul baari 4/449 no. 2272), Muslim (2473) (100) Bab Qishshah Ashabil Ghaar Ats Tsalatsah Wattawasul bi Shalihil A’mal].
Ini menunjukan bahwa perbuatan berbakti kepada kedua orang tua yang pernah kita lakukan, dapat digunakan untuk bertawasul kepada Allah ketika kita mengalami kesulitan, insya Allah kesulitan tersebut akan hilang. Berbagai kesulitan yang dialami seseorang saat ini diantaranya karena perbuatan durhaka kepada kedua orang tua.
Kalau kita mengetahui, bagaimana beratnya orang tua kita telah bersusah payah untuk kita, maka perbuatan ‘Si Anak’ yang ‘bergadang’ untuk memerah susu tersebut belum sebanding dengan jasa orang tuanya ketika mengurusnya sewaktu kecil.
Ini juga menunjukan bahwa kebutuhan kedua orang tua harus di dahulukan daripada kebutuhan anak kita sendiri. Bahkan dalam riwayat yang lain disebutkan berbakti kepada orang tua harus didahulukan dari pada berbuat baik kepada istri sebagai mana diriwayatkan oleh abdulah bin umar radliallahu ‘anhuma ketika diperintahkan oleh bapaknya (Umar bin Khatab) untuk menceraikan istrinya, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Rasalullah menjawab, “Ceraikan istrimu!” [HR. Abu Dawud No. 5138, Tirmidzi No. 1189 beliau berkata, “Hadits hasan shahih”]
Keempat: Dengan berbakti kepada kedua orang tua akan diluaskan rizki dan
dipanjangkan umur Sebagai mana dalam hadits yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Dari sahabat Anas radliallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barang siapa yang suka diluaskan rizki dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” [HR. Bukhari 7/7, Muslim 2557, Abu Dawud 1693].
Dalam silaturahmi, yang harus didahulukan silaturahmi kepada orang tua sebelim kepada yang lain. Banyak diantara saudara-saudara kita yang sering ziarah kepada teman-temannya tetapi kepada orang tuanya sendiri jarang bahkan tidak pernah. Padahal ketika masih kecil dia selalu bersama orang tuanya. Sesulit apapun harus tetap diusahakan untuk bersilaturahmi kepada kedua orang tua. Karena dengan dekat kepada keduanya insya Allah akan dimudahkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya.
Kelima: Manfaat dari berbakti kepada kedua orang tua yaitu akan dimasuikkan ke jannah (surga) oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dosa-dosa yang Allah segerakan adzabnya di dunia diantaranya adalah berbuat zhalim dan durhaka kepada orang tua. Dengan demikian jika seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya, Allah akan menghindarkannya dari berbagai mala petaka, dengan izin Allah.
Wasiat Berbuat Baik Kepada Orang Tua Takala Keduanya Berusia Lanjut.
Banyak sekali hadits-hadits yang menyebutkan tentang ruginya seseorang yang tidak berbakti kepada kedua orang tua pada waktu orang tua masih disisi kita, salah satunya adalah:Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut , salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga.” [HR. Muslim 2551, Ahmad 2:254,346].
Pada umumnya seorang anak merasa berat dan malas memberi nafkah dan mengurusi kedua orang tuanya yang telah berusia lanjut. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa keberadaan kedua orang tua yang berusia lanjut itu adalah kesempatan paling baik untuk mendapatkan pahala dari Allah, dimudahkan rizki dan jembatan emas menuju surga. Karena itu sungguh rugi jika seorang anak menyia-nyiakan kesempatan yang paling berharga ini dengan mengabaikan hak-hak orang tuanya dan dengan sebab itu dia tidak masuk surga.
Bentuk dan Akibat Durhaka Kepada Kedua Orang Tua.
Di antara bentuk durhaka (uquq) adalah:
1. Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan ) ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih atau sakit hati.
2. Berkata ‘ah dan tidak memenuhi panggilan orang tua.
3. Membentak atau menghardik orang tua.
4. Bakhil, tidak mengurusi orang tuanya bahkan lebih mempentingkan yang lain dari pada mengurusi orang tuanya padahal orang tuanya sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkahpun , dilakukan dengan penuh perhitungan.
5. Bermuka masam dan cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, '‘kolot’ dan lain-lain.
6. Menyuruh orang tua, misalnya menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut sangat tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua dan lemah. Tetapi jika ‘Si Ibu’ melakukan pekerjaan tersebut dengan kemauannya sendiri maka tidak mengapa dan karena itu anak harus berterima kasih.
7. Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua.
8. Memasukan kemurkaan kedalam rumah misalnya alat musik, mengisap Rokok, dll.
9. Mendahului taat kepada istri dari pada orang tua. Bahkan ada sebagai orang dengan teganya mengusir ibunya demi menuruti kemauan istrinya. Na’udzubillah.
10. Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat tinggalnya ketika status sosialnya meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam itu adalah sikap yang sangat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.
Akibat dari durhaka kepada kedua orang tua akan dirasakan di dunia, dan ini didasarkan pada hadits berikut:Dari Abi Bakrah radliallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Tidak ada dosa yang Allah cepatkan adzabnya kepada pelakunya di dunia ini dan Allah juga akan mengadzabnya di akhirat yang pertama adalah berlaku Zhalim, kedua memutuskan tali silaturrahmi.” [HR. Bukhari (Shahih Adabul Mufrad No. 23),]
Dalam hadits lain dikatakan:”Dua perbuatan dosa yang Allah sepatkan adzabnya (siksanya) di dunia yaitu berbuat zhalim dan al ‘uquq (durhaka kepada orang tua). [HR. Hakim 4/177 dari Anas din Malik radliallahu ‘anhu].
Dapat kita lihat sekarang banyak orang yang durhaka kepada orang tuanya hidupnya tidak berkah dan selalu mengalami berbagai macam kesulitan. Kalaupun orang tersebut kaya maka kekayaannya tidak akan menjadikan bahagia.
Bentuk-bentuk Bakti Kepada Orang Tua
Pertama: Bergaul kepada keduanya dengan cara yang baik. Di dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disebutkan bahwa memberi kegembiraan kepada seseorang mu’min termasuk shadaqah, lebih utama lagi kalau memberikan kegembiraan kepada kedua orang tua kita.
Kedua: yaitu berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut. Hendaknya dibedakan berbicara kepada kedua orang tua dengan kepada anak, teman atau dengan yang lain. Berbicara dengan perkataan yang mulia kepada kedua orang tua.
Ketiga: Tawadlu (rendah diri). Tidak boleh kibir (sombong) apabila sudah meraih sukses atau atau memenuhi jabatan di dunia, karena sewaktu lahir kita berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan dengan memberi makan, minum, pakaian dan semuanya
Keempat: Yaitu memberi infak (shadaqah) kepada kedua orang tua. Semua harta kita adalah milik orang tua.
Kelima: Mendo’akan kedua orang tua. Sebagaimana ayat: ‘robbirhamhuma kamaa rabbayaani shagiiro’ (wahai rabb-ku kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil). Seandainya orang tua belum mengikuti dakwah yang haq dan masih berbuat syirik serta bid’ah, kita tetap harus berlaku lemah lembut kepada keduanya.
Apabila kedua orang telah meninggal maka yang pertama kita lakukan adalah meminta ampun kepada Allah Ta’ala dengan taubat yang nasuha (benar) bila kita pernah berbuat durhaka kepada keduanya di waktu mereka masih hidup, yang kedua adalah menshalatkannya, ketiga adalah selalu meminta ampunan untuk keduanya, yang keempat membayarkan hutang-hutangnya, yang kelima melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syari’at dan yang keenam menyambung tali silaturrahmi kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya (diringkas dari beberapa hadist yang shahih).
Jumat, Juni 19, 2009
WAKTU-WAKTU YANG MUSTAJAB
WAKTU-WAKTU YANG MUSTAJAB
Oleh
Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih
________________________________________
Allah memberikan masing-masing waktu dengan keutamaan dan kemuliaan yang berdeda-beda, diantaranya ada waktu-waktu tertentu yang sangat baik untuk berdoa, akan tetapi kebanyakan orang menyia-nyiakan kesempatan baik tersebut. Mereka mengira bahwa seluruh waktu memiliki nilai yang sama dan tidak berbeda. Bagi setiap muslim seharusnya memanfaatkan waktu-waktu yang utama dan mulia untuk berdoa agar mendapatkan kesuksesan, keberuntungan, kemenangan dan keselamatan. Adapun waktu-waktu mustajabah tersebut antara lain.
[1]. Sepertiga Akhir Malam
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga akhir malam, lalu berfirman ; barangsiapa yang berdoa, maka Aku akan kabulkan, barangsiapa yang memohon, pasti Aku akan perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti Aku akan mengampuninya". [Shahih Al-Bukhari, kitab Da'awaat bab Doa Nisfullail 7/149-150]
[2]. Tatkala Berbuka Puasa Bagi Orang Yang Berpuasa
Dari Abdullah bin 'Amr bin 'Ash Radhiyallahu 'anhu bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pafa saat berbuka ada doa yang tidak ditolak". [Sunan Ibnu Majah, bab Fis Siyam La Turaddu Da'watuhu 1/321 No. 1775. Hakim dalam kitab Mustadrak 1/422. Dishahihkan sanadnya oleh Bushairi dalam Misbahuz Zujaj 2/17].
[3]. Setiap Selepas Shalat Fardhu
Dari Abu Umamah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang doa yang paling didengar oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, beliau menjawab.
"Artinya : Di pertengahan malam yang akhir dan setiap selesai shalat fardhu". [Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da'awaat 13/30. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 3/167-168 No. 2782].
[4]. Pada Saat Perang Berkecamuk
Dari Sahl bin Sa'ad Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Ada dua doa yang tidak tertolak atau jarang tertolak ; doa pada saat adzan dan doa tatkala peang berkecamuk". [Sunan Abu Daud, kitab Jihad 3/21 No. 2540. Sunan Baihaqi, bab Shalat Istisqa' 3/360. Hakim dalam Mustadrak 1/189. Dishahihkan Imam Nawawi dalam Al-Adzkaar hal. 341. Dan Al-Albani dalam Ta'liq Alal Misykat 1/212 No. 672].
[5]. Sesaat Pada Hari Jum'at
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa Abul Qasim Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya pada hari Jum'at ada satu saat yang tidak bertepatan seorang hamba muslim shalat dan memohon sesuatu kebaikan kepada Allah melainkan akan diberikan padanya, beliau berisyarat dengan tangannya akan sedikitnya waktu tersebut". [Shahih Al-Bukhari, kitab Da'awaat 7/166. Shahih Muslim, kitab Jumuh 3/5-6]
Waktu yang sesaat itu tidak bisa diketahui secara persis dan masing-masing riwayat menyebutkan waktu tersebut secara berbeda-beda, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/203.
Dan kemungkinan besar waktu tersebut berada pada saat imam atau khatib naik mimbar hingga selesai shalat Jum'at atau hingga selesai waktu shalat ashar bagi orang yang menunggu shalat maghrib.
[6]. Pada Waktu Bangun Tidur Pada Malam Hari Bagi Orang Yang Sebelum Tidur Dalam Keadaan Suci dan
Berdzikir Kepada Allah
Dari 'Amr bin 'Anbasah Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya :Tidaklah seorang hamba tidur dalam keadaan suci lalu terbangun pada malam hari kemudian memohon sesuatu tentang urusan dunia atau akhirat melainkan Allah akan mengabulkannya". [Sunan Ibnu Majah, bab Doa 2/352 No. 3924. Dishahihkan oleh Al-Mundziri 1/371 No. 595]
Terbangun tanpa sengaja pada malam hari.[An-Nihayah fi Gharibil Hadits 1/190]
Yang dimaksud dengan "ta'ara minal lail" terbangun dari tidur pada malam hari.
[7]. Doa Diantara Adzan dan Iqamah
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Doa tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah". [Sunan Abu Daud, kitab Shalat 1/144 No. 521. Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da'waat 13/87. Sunan Al-Baihaqi, kitab Shalat 1/410. Dishahihkan oleh Al-Albani, kitab Tamamul Minnah hal. 139]
[8]. Doa Pada Waktu Sujud Dalam Shalat
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Adapun pada waktu sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa sebab saat itu sangat tepat untuk dikabulkan". [Shahih Muslim, kitab Shalat bab Nahi An Qiratul Qur'an fi Ruku' wa Sujud 2/48]
Yang dimaksud adalah sangat tepat dan layak untuk dikabulkan doa kamu.
[9]. Pada Saat Sedang Kehujanan
Dari Sahl bin a'ad Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Dua doa yang tidak pernah ditolak ; doa pada waktu adzan dan doa pada waktu kehujanan". [Mustadrak Hakim dan dishahihkan oleh Adz-Dzahabi 2/113-114. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami' No. 3078].
Imam An-Nawawi berkata bahwa penyebab doa pada waktu kehujanan tidak ditolak atau jarang ditolak dikarenakan pada saat itu sedang turun rahmat khususnya curahan hujan pertama di awal musim. [Fathul Qadir 3/340].
[10]. Pada Saat Ajal Tiba
Dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah mendatangi rumah Abu Salamah (pada hari wafatnya), dan beliau mendapatkan kedua mata Abu Salamah terbuka lalu beliau memejamkannya kemudian bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya tatkala ruh dicabut, maka pandangan mata akan mengikutinya'. Semua keluarga histeris. Beliau bersabda : 'Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian kecuali kebaikan, sebab para malaikat mengamini apa yang kamu ucapkan". [Shahih Muslim, kitab Janaiz 3/38]
[11]. Pada Malam Lailatul Qadar
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Artinya : Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar". [Al-Qadr : 3-5]
Imam As-Syaukani berkata bahwa kemuliaan Lailatul Qadar mengharuskan doa setiap orang pasti dikabulkan. [Tuhfatud Dzakirin hal. 56]
[12]. Doa Pada Hari Arafah
Dari 'Amr bin Syu'aib Radhiyallahu 'anhu dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah". [Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da'waat 13/83. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Ta'liq alal Misykat 2/797 No. 2598]
Oleh
Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih
________________________________________
Allah memberikan masing-masing waktu dengan keutamaan dan kemuliaan yang berdeda-beda, diantaranya ada waktu-waktu tertentu yang sangat baik untuk berdoa, akan tetapi kebanyakan orang menyia-nyiakan kesempatan baik tersebut. Mereka mengira bahwa seluruh waktu memiliki nilai yang sama dan tidak berbeda. Bagi setiap muslim seharusnya memanfaatkan waktu-waktu yang utama dan mulia untuk berdoa agar mendapatkan kesuksesan, keberuntungan, kemenangan dan keselamatan. Adapun waktu-waktu mustajabah tersebut antara lain.
[1]. Sepertiga Akhir Malam
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga akhir malam, lalu berfirman ; barangsiapa yang berdoa, maka Aku akan kabulkan, barangsiapa yang memohon, pasti Aku akan perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti Aku akan mengampuninya". [Shahih Al-Bukhari, kitab Da'awaat bab Doa Nisfullail 7/149-150]
[2]. Tatkala Berbuka Puasa Bagi Orang Yang Berpuasa
Dari Abdullah bin 'Amr bin 'Ash Radhiyallahu 'anhu bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pafa saat berbuka ada doa yang tidak ditolak". [Sunan Ibnu Majah, bab Fis Siyam La Turaddu Da'watuhu 1/321 No. 1775. Hakim dalam kitab Mustadrak 1/422. Dishahihkan sanadnya oleh Bushairi dalam Misbahuz Zujaj 2/17].
[3]. Setiap Selepas Shalat Fardhu
Dari Abu Umamah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang doa yang paling didengar oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, beliau menjawab.
"Artinya : Di pertengahan malam yang akhir dan setiap selesai shalat fardhu". [Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da'awaat 13/30. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 3/167-168 No. 2782].
[4]. Pada Saat Perang Berkecamuk
Dari Sahl bin Sa'ad Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Ada dua doa yang tidak tertolak atau jarang tertolak ; doa pada saat adzan dan doa tatkala peang berkecamuk". [Sunan Abu Daud, kitab Jihad 3/21 No. 2540. Sunan Baihaqi, bab Shalat Istisqa' 3/360. Hakim dalam Mustadrak 1/189. Dishahihkan Imam Nawawi dalam Al-Adzkaar hal. 341. Dan Al-Albani dalam Ta'liq Alal Misykat 1/212 No. 672].
[5]. Sesaat Pada Hari Jum'at
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa Abul Qasim Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya pada hari Jum'at ada satu saat yang tidak bertepatan seorang hamba muslim shalat dan memohon sesuatu kebaikan kepada Allah melainkan akan diberikan padanya, beliau berisyarat dengan tangannya akan sedikitnya waktu tersebut". [Shahih Al-Bukhari, kitab Da'awaat 7/166. Shahih Muslim, kitab Jumuh 3/5-6]
Waktu yang sesaat itu tidak bisa diketahui secara persis dan masing-masing riwayat menyebutkan waktu tersebut secara berbeda-beda, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/203.
Dan kemungkinan besar waktu tersebut berada pada saat imam atau khatib naik mimbar hingga selesai shalat Jum'at atau hingga selesai waktu shalat ashar bagi orang yang menunggu shalat maghrib.
[6]. Pada Waktu Bangun Tidur Pada Malam Hari Bagi Orang Yang Sebelum Tidur Dalam Keadaan Suci dan
Berdzikir Kepada Allah
Dari 'Amr bin 'Anbasah Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya :Tidaklah seorang hamba tidur dalam keadaan suci lalu terbangun pada malam hari kemudian memohon sesuatu tentang urusan dunia atau akhirat melainkan Allah akan mengabulkannya". [Sunan Ibnu Majah, bab Doa 2/352 No. 3924. Dishahihkan oleh Al-Mundziri 1/371 No. 595]
Terbangun tanpa sengaja pada malam hari.[An-Nihayah fi Gharibil Hadits 1/190]
Yang dimaksud dengan "ta'ara minal lail" terbangun dari tidur pada malam hari.
[7]. Doa Diantara Adzan dan Iqamah
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Doa tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah". [Sunan Abu Daud, kitab Shalat 1/144 No. 521. Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da'waat 13/87. Sunan Al-Baihaqi, kitab Shalat 1/410. Dishahihkan oleh Al-Albani, kitab Tamamul Minnah hal. 139]
[8]. Doa Pada Waktu Sujud Dalam Shalat
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Adapun pada waktu sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa sebab saat itu sangat tepat untuk dikabulkan". [Shahih Muslim, kitab Shalat bab Nahi An Qiratul Qur'an fi Ruku' wa Sujud 2/48]
Yang dimaksud adalah sangat tepat dan layak untuk dikabulkan doa kamu.
[9]. Pada Saat Sedang Kehujanan
Dari Sahl bin a'ad Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Dua doa yang tidak pernah ditolak ; doa pada waktu adzan dan doa pada waktu kehujanan". [Mustadrak Hakim dan dishahihkan oleh Adz-Dzahabi 2/113-114. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami' No. 3078].
Imam An-Nawawi berkata bahwa penyebab doa pada waktu kehujanan tidak ditolak atau jarang ditolak dikarenakan pada saat itu sedang turun rahmat khususnya curahan hujan pertama di awal musim. [Fathul Qadir 3/340].
[10]. Pada Saat Ajal Tiba
Dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah mendatangi rumah Abu Salamah (pada hari wafatnya), dan beliau mendapatkan kedua mata Abu Salamah terbuka lalu beliau memejamkannya kemudian bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya tatkala ruh dicabut, maka pandangan mata akan mengikutinya'. Semua keluarga histeris. Beliau bersabda : 'Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian kecuali kebaikan, sebab para malaikat mengamini apa yang kamu ucapkan". [Shahih Muslim, kitab Janaiz 3/38]
[11]. Pada Malam Lailatul Qadar
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Artinya : Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar". [Al-Qadr : 3-5]
Imam As-Syaukani berkata bahwa kemuliaan Lailatul Qadar mengharuskan doa setiap orang pasti dikabulkan. [Tuhfatud Dzakirin hal. 56]
[12]. Doa Pada Hari Arafah
Dari 'Amr bin Syu'aib Radhiyallahu 'anhu dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah". [Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da'waat 13/83. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Ta'liq alal Misykat 2/797 No. 2598]
Rabu, Juni 17, 2009
Tanda-tanda Ruhiyyah yang kering
H.Ahmad Syaikhuddin
1. Ibadah tidak terasa khusu’
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',” (QS AlBaqarah :45)
2. Hati yang keras (tidak gampang menerima hidayah)
” Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (AlHadid:16)
3. Mendengar ayat alqur’an dan mendengarkan lagu tidak ada bedanya
Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. (Al-Isra: 88)
Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Al Isra:82)
4. Tidak menjaga pandangan
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (AnNur :30-31)
5. Enggan mendatangi majelis ilmu
”......Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.( AlMujadilah:11)
”Barangsiapa menempuh perjalanan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga”. (HR Muslim)
“Barangsiapa yang keluar (pergi) menuntut ilmu ia berada di jalan Allah sampai kembali pulang”. (HR Tirmidzi)
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarakan Al Qur’an.” (Al Hadits)
“Keutamaan orang yang berilmu dibandingkan dengan orang yang ahli ibadah laksana keutamaan bulan atas seluruh bintang”. (HR Tirmidzi)
6. Tidak ada niat mengunjungi ka’bah
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah yaitu (bagi) orang yang sanggup melaksanakan perjalanan ke Baitullah. Dan barangsiapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan) dari semesta alam.” (Ali-Imran : 97)
“Umrah ke umrah adalah penghapus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak mempunyai pahala selain surga.” (Muttafaq alaih).
“Baragsiapa melakukan haji tanpa berbuat keji dan tidak fasiq, maka ia kembali tidak berdosa sebagaimana waktu ia dilahirkan oleh ibunya.” (Muttafaq alaih).
7. Jarang membaca alqur’an
Beberapa keutamaan membaca Al Qur`an sebagai berikut :
1. Manusia yang terbaik.
Dari `Utsman bin `Affan, dari Nabi bersabda : "Sebaik-baik kalian yaitu orang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya." H.R. Bukhari.
2. Dikumpulkan bersama para Malaikat.
Dari `Aisyah Radhiyallahu `Anha berkata, Rasulullah bersabda : "Orang yang membaca Al Qur`an dan ia mahir dalam membacanya maka ia akan dikumpulkan bersama para Malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al Qur`an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat (belum fasih) dalam membacanya, maka ia akan mendapat dua ganjaran." Muttafaqun `Alaihi.
3. Sebagai syafa`at di Hari Kiamat.
Dari Abu Umamah Al Bahili t berkata, saya telah mendengar Rasulullah bersabda : "Bacalah Al Qur`an !, maka sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafaat bagi ahlinya (yaitu orang yang membaca, mempelajari dan mengamalkannya)." H.R. Muslim.
4. Kenikmatan tiada tara
Dari Ibnu `Umar t, dari Nabi bersabda : "Tidak boleh seorang menginginkan apa yang dimiliki orang lain kecuali dalam dua hal; (Pertama) seorang yang diberi oleh Allah kepandaian tentang Al Qur`an maka dia mengimplementasikan (melaksanakan)nya sepanjang hari dan malam. Dan seorang yang diberi oleh Allah kekayaan harta maka dia infakkan sepanjang hari dan malam." Muttafaqun `Alaihi.
5. Ladang pahala.
Dari Abdullah bin Mas`ud t berkata, Rasulullah e : "Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an) maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan akan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan "Alif lam mim" itu satu huruf, tetapi "Alif" itu satu huruf, "Lam" itu satu huruf dan "Mim" itu satu huruf." H.R. At Tirmidzi dan berkata : "Hadits hasan shahih".
6. Kedua orang tuanya mendapatkan mahkota surga
Dari Muadz bin Anas t, bahwa Rasulullah e bersabda : "Barangsiapa yang membaca Al Qur`an dan mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya, Allah akan mengenakan mahkota kepada kedua orangtuanya pada Hari Kiamat kelak. (Dimana) cahayanya lebih terang dari pada cahaya matahari di dunia. Maka kamu tidak akan menduga bahwa ganjaran itu disebabkan dengan amalan yang seperti ini. " H.R. Abu Daud.
8. Menggampangkan urusan yang syubhat
Nyanyian, permainan, urusan-urusan yang kurang penting dan membuat lalai dari mengingat Allah SWT dll.
Batam, 16 Juni 2009
1. Ibadah tidak terasa khusu’
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',” (QS AlBaqarah :45)
2. Hati yang keras (tidak gampang menerima hidayah)
” Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (AlHadid:16)
3. Mendengar ayat alqur’an dan mendengarkan lagu tidak ada bedanya
Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. (Al-Isra: 88)
Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Al Isra:82)
4. Tidak menjaga pandangan
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (AnNur :30-31)
5. Enggan mendatangi majelis ilmu
”......Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.( AlMujadilah:11)
”Barangsiapa menempuh perjalanan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga”. (HR Muslim)
“Barangsiapa yang keluar (pergi) menuntut ilmu ia berada di jalan Allah sampai kembali pulang”. (HR Tirmidzi)
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarakan Al Qur’an.” (Al Hadits)
“Keutamaan orang yang berilmu dibandingkan dengan orang yang ahli ibadah laksana keutamaan bulan atas seluruh bintang”. (HR Tirmidzi)
6. Tidak ada niat mengunjungi ka’bah
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah yaitu (bagi) orang yang sanggup melaksanakan perjalanan ke Baitullah. Dan barangsiapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan) dari semesta alam.” (Ali-Imran : 97)
“Umrah ke umrah adalah penghapus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak mempunyai pahala selain surga.” (Muttafaq alaih).
“Baragsiapa melakukan haji tanpa berbuat keji dan tidak fasiq, maka ia kembali tidak berdosa sebagaimana waktu ia dilahirkan oleh ibunya.” (Muttafaq alaih).
7. Jarang membaca alqur’an
Beberapa keutamaan membaca Al Qur`an sebagai berikut :
1. Manusia yang terbaik.
Dari `Utsman bin `Affan, dari Nabi bersabda : "Sebaik-baik kalian yaitu orang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya." H.R. Bukhari.
2. Dikumpulkan bersama para Malaikat.
Dari `Aisyah Radhiyallahu `Anha berkata, Rasulullah bersabda : "Orang yang membaca Al Qur`an dan ia mahir dalam membacanya maka ia akan dikumpulkan bersama para Malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al Qur`an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat (belum fasih) dalam membacanya, maka ia akan mendapat dua ganjaran." Muttafaqun `Alaihi.
3. Sebagai syafa`at di Hari Kiamat.
Dari Abu Umamah Al Bahili t berkata, saya telah mendengar Rasulullah bersabda : "Bacalah Al Qur`an !, maka sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafaat bagi ahlinya (yaitu orang yang membaca, mempelajari dan mengamalkannya)." H.R. Muslim.
4. Kenikmatan tiada tara
Dari Ibnu `Umar t, dari Nabi bersabda : "Tidak boleh seorang menginginkan apa yang dimiliki orang lain kecuali dalam dua hal; (Pertama) seorang yang diberi oleh Allah kepandaian tentang Al Qur`an maka dia mengimplementasikan (melaksanakan)nya sepanjang hari dan malam. Dan seorang yang diberi oleh Allah kekayaan harta maka dia infakkan sepanjang hari dan malam." Muttafaqun `Alaihi.
5. Ladang pahala.
Dari Abdullah bin Mas`ud t berkata, Rasulullah e : "Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an) maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan akan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan "Alif lam mim" itu satu huruf, tetapi "Alif" itu satu huruf, "Lam" itu satu huruf dan "Mim" itu satu huruf." H.R. At Tirmidzi dan berkata : "Hadits hasan shahih".
6. Kedua orang tuanya mendapatkan mahkota surga
Dari Muadz bin Anas t, bahwa Rasulullah e bersabda : "Barangsiapa yang membaca Al Qur`an dan mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya, Allah akan mengenakan mahkota kepada kedua orangtuanya pada Hari Kiamat kelak. (Dimana) cahayanya lebih terang dari pada cahaya matahari di dunia. Maka kamu tidak akan menduga bahwa ganjaran itu disebabkan dengan amalan yang seperti ini. " H.R. Abu Daud.
8. Menggampangkan urusan yang syubhat
Nyanyian, permainan, urusan-urusan yang kurang penting dan membuat lalai dari mengingat Allah SWT dll.
Batam, 16 Juni 2009
Mahalnya nilai sebuah Kesetiaan
Mahalnya nilai sebuah Kesetiaan
Alfaqir H. Ahmad Syaih Djaelani
“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang” (QS AsShaf:14).
"Hawariyyun" adalah pengikut-pengikut setia Nabi Isa Alaihis Salam. Karena "kesetiaan" mereka itulah, Allah SWT mengabadikan kisah mereka dalam Alqur'an surat AsShaf:14 di atas. Dalam banyak kisah yg lain kita akan menemukan betapa banyak mereka yang setia. Khubaib bin Adzi' misalnya. Syaih Khalid Muhammad Khalid menceritakan dengan sangat indah kisah kesetiaan beliau kepada RasuluLLah dalam kitabnya "Rijal Khaula Rasul" terjemahannya ke indonesia berjudul ”60 Karakteristik Sahabat RasuluLLah” yaitu saat beliau di tiang salib ketika tertangkap oleh kaum musrikiyn Makah. Saat itu Abu Sufyan masih kafir kemudian bertanya kepada Khubaib yang sedang di siksa salib : "Ya Khubaib, bagaimana seandainya posisimu saat ini digantikan dengan Muhammad dan engkau pulang bercengkerama dengan keluargamu di Madinah?. Demi Allah, saat itu Khubaib langsung mendongakkan kepalanya, tidak merasakan lagi perihnya siksaan dan ia katakan ”Demi Allah, seandainya ada satu duripun tidak akan aku relakan akan menancap pada kaki RasuluLLah apalagi harus menggantikan posisiku saat ini”.
Hingga Abu Sufyan kemudian mengatakan perkataan yang di kenang oleh sejarah ”Tidak pernah aku menemukan seorang manusia mencintai manusia lain seperti orang ini”.
Sejarah menceritakan kemudian RasuluLLah diberikan Allah SWT petunjuk tentang jasad sahabat yang mulia yang tergantung di awang-awang hingga memerintahkan beberapa sahabat untuk menurunkannya. Yup, tanpa ada satupun burung pemakan bangkai yang menyentuhnya karena mereka tahu, dia adalah sahabat yang mulia. Sahabat yang setia kepada Rasulnya yang mulia.
Kesetiaan (wala’) yang utama adalah di berikan Allah SWT tentunya, kemudian Rasul-Nya yang agung dan mulia baru kemudian kepada orang-orang yang beriman. (QS AlMaidah : 51). Bukan kepada selainnya.
Tetapi ada juga bentuk kesetiannya selainnya. Seorang jundi/ tentara, ia juga harus setia dengan qiyadahnya/ pemimpinnya. Tentu bukan kesetiaan yang membabi buta (kata Ust Bowo Trustco, ”babi” kagak buta aja haram apalagi yang ”babi yang buta” ) atau kesetiaan yang tidak terarah.
Dalam perang Badar pun, seorang sahabat memberikan nilai kesetiaanya kepada RasuluLLah dengan memberikan ide yang baik yaitu dengan mengusulkan mencari tempat untuk tentaranya yang terdekat dengan sumber mata air. Demikian juga dalam kisah perang khondaq. Sahabat Salman Alfarisi dengan kesetiaanya yang tinggi tetap memberikan usul untuk membuat parit/ khondaq untuk menghadang laju pasukan Ahzab. Mereka adalah orang-orang yang setia kepada pemimpinnya tapi tidak meninggalkan sifat kritisnya. Bila qarar/ keputusan yang di tetapkan dengan mengacu pada Dewan Syar’iat yang terpercaya, maka jawaban jundi yang setia adalah ”sam’an wa ath’an” (mendengar dan thaat).
Bahkan ternyata kesetiaan juga ada dalam sudut-sudut kisah melankolis nan romantis. Ada dalam kisah-kisah indah nan syahdu pada para pecinta sejati. Tidak hanya pada film-film epick cerita masa kini tapi juga kisah-kisah dahsyat para ulama besar dan pejuang. Bagaimana Jenderal Maximus Commodus Meredius dengan kesetiaanya yang tinggi kepada Rajanya sehingga harus rela menjadi seorang ”slave”/ budak yaitu dipaksa untuk menjadi ”Gladiator” (judul film). Ia juga begitu setia pada keluarganya dan juga seseorang yang pernah memasuki hatinya dengan menjaga putra dari sang lady untuk meneruskan tahta. MelGibson –Sir Wales juga demikian dalam ”Brave heart”. Ia berlaku setia kepada tanah leluhurnya dan juga kepada istri dan kekasih tercintanya yang di bunuh oleh pasukan Inggris. Kisah-kisah yang lain tak kalah dahsyat dan sendunya. Serial di antara cerita-cerita heroik seorang pahlawan dan orang-orang besar dengan kisah-kisah kesetiaan mereka.
Ust Anis Matta menulis banyak kisah tentang hal ini dalam kolom Thumuhat (Gelora Jiwa) di Majalah Tarbawi.
Kisah setia juga terjadi pada para Ulama. Setia pada sebuah “syu’ur” / perasaan yang lebih sering di kenal dengan nama “cinta”. RasuluLLah memberikan kesetiaan cintanya kepada Khadijah. Hingga apabila beliau menyembelih unta atau kambing sekian tahun setelah Ibunda Khadijah wafat, beliau selalu tidak lupa membagikan-bagikan kepada kerabat-kerabat Ibunda Khadijah sampai membuat Ummahatul Mu’miniin “Khumaira” harus begitu cemburu kepada Khadijah. Pernah satu saat Aisya yang manja tapi smart cerdas bertanya kepada RasuluLLah yang mulia. “Ya Rasul, bagaimana seandainya engkau melihat kebun yang sudah di bajak atau kebun yang masih asli belum di bajak, engkau memilih mana?. “ RasuluLLah tahu persis maksud yang tersirat dari pertanyaan Aisya maka beliau menjawab tentu memilih kebun yang belum di bajak walaupun kita tahu RasuluLLah demikian cinta dan setianya kepada Khadijah. Lihatlah bagaimana jawaban RasuluLLah saat beliu di sudutkan dengan pertanyaan oleh Aisya. “Khadijah kata RasuluLah...ia adalah wanita yang paling setia. Ia memberikan seluruh hartanya saat orang lain menjauhkannya dariku. Ia memberikan cintanya yang tulus saat orang lain memusuhiku dan dari rahimnya Allah memberikanku lima orang anak (Ibrahim, AbduLLah, Ruqoyyah, ummi Kultsum dan Fatimah Azzahra-cahaya mata RasuluLah).
Pernahkah engkau mendengar lagi kisah perasaan yang setia lagi. Ya, engkau tentu tahu kisah Ulama besar Imam Adhahiri. Dia menuliskan bait-bait puisi romansa cintanya kepada gadis tetangganya yang tidak bisa menjadi pasangan hidupnya sebelum ia mengucapkan dua kalimah syahadah. Cinta suci nan tulus yang terhalang taqdir yang lebih baik. Kisah Afrah dan Abid dalam “Perindu-perindu malam” akan lebih membuat pipimumu basah oleh air mata lagi. Afrah yang mencintai Abid tapi terhalang oleh orangtua Afrah yang telah menjodohkan dengan laki-laki lain. Tahukah engkau bagaimana jawaban Abid kepada Afrah saat Afrah berkirim surat kepada Abid lewat pembantunya untuk mengajaknya bertemu di tempat yang sepi.
“ Sesunguhnya aku takut kepada Allah”. Inilah jawaban singkat surat Abid kepada Afrah yang menjadikan dan merubah Afrah menjadi wanita dengan karakter Rabi’ah AlAdawiyah. Bahkan karena perasaan cintanya yang terpendam hingga membawa kepada ajalnya sekalipun, ia tidak pernah menyesal. Ibnul qayyim menulis bai-bait kisah ini dalam Raudhatul Muhhibbin Wa Nuzhatul Mustaqiin- Taman orang-orang yang jatuh cinta dan memendam rindu”. Saat Abid berziarah ke pusara Afrah, Allah berkenan memberikan kepadanya nikmat tertidur. Dalam tidurnya itulah ia bermimpi berjumpa dengan Afrah sang kekasih. Ia bertanya ”bagaimana kabarmu ya habibiy?”. Afrah menjawab : ”Sesungguhnya sebaik-baik cinta adalah cintamu. Karena cintamu telah menghantarkan ku pada kecintaan yang sebenarnya yaitu pada Rabbku”. ”Lalu kapan aku bisa menyusulmu” tanya Abid lagi. ”Sebentar lagi, insyaAllah”. Jawab Afrah.
Ia terbangun dari tidurnya, tak sabar kiranya ia ingin berjumpa dengan sang kekasih. Allah kabulkan doa Abid hingga beberapa hari kemudian ia menyusul sang kekasih ke haribaanNya. Aduhai alangkah indahnya perasaan setia yang seperti ini.
Maka sekarang bacalah..bacalah dan carilah kisah kesetiaan mereka-mereka yang setia. Di buku yang sama temukanlah kisah kesetiaan Julaibib sang budak hitam hingga syahidnya di hari pernikahannya. Hingga ia di juluki ”Sang Pengantin Surga”.
Umar bin Abdul Aziz, yang di juluki Khulafa Arrasyid Alkhamis (ke lima setelah Abu Bakar,Umar,Ustman, dan Ali) juga mempunyai kisah yang syahdu. Kisah sebuah perasaan kepada jariyahnya yang mengantarkannya menjadi energi besar dengan membuat kemakmuran dan kesejahteraan selama kurang lebih 32 bulan hingga di ceritakan pada masa pemerintahannya serigalapun tidak mau mengejar-ngejar domba penggembala dan sedekahpun harus dibawa berkeliling karena banyaknya yang menolak menerima karena keadilan beliau. Lihatlah kesetiaan beliau hingga harus memilih cinta tertinggi di antara mahhabatul ula dan mahhabatul wustha. Ia nikahkan sang jariyah dengan pemuda lain hingga saat-saat terakhirpun beliau ditanya sang jariyah ”Umar, kemanakah cintamu yang dulu?. Umar menjawab ”Masih ada, bahkan kini semakin dalam”.
Amr bin Alhajaj adalah pemuda tertampan pada masa Khalifah Umar bin Khatab. Hingga karena ketampanannya yang menjadi fitnah bagi rakyatnya Umar harus mengasingkan sang pemuda nan rupawan ini ke tempat yang jauh. Malang nian, saat ribuan gadis mengaguminya dan mengharapkan untuk menjadi pendampingnya, ia justru jatuh cinta pada wanita yang sudah menjadi istri dari tuan rumah yang di tinggalinya yang sang suami sudah renta. Karena suatu sebab ia harus pergi, membawa perasaan dan kesetiaannya hingga maut menjemputnya. Sendiri dan hanya sendiri.
Engkau akan menangis lagi saat membaca untaian kisah Ulama besar abad ini dengan kesetiaanya yang abadi baik kepada Rabb, Rasul maupun kepada kekasih yang ia cintai. Lima belas tahun ia sendirian di penjara. Menulis beberapa buku dan kitab yang sampai saat ini masih menjadi rujukan pemuda-pemuda yang senantiasa bergerak untuk roda berdakwah. Hingga akhirnya harus menyerahkan dirinya di tiang gantungan oleh rezim yang otoriter padahal ia bisa diampuni dengan hanya satu kata yang penguasa itu mau menulis untuknya ”maaf”karena nilai sebuah kesetiaan yang agung ia menolaknya. Dua kali ia jatuh cinta, dua kali pula ia gagal mewujudkan impiannya karena sebab yang mulia, sebuah cita-cita dan harapan yang tinggi seorang Sayyid Qutb yang tiada terwujud. Hingga menjelang syahidnya pun ia mengatakan :”Mungkin kehidupan dunia, memang tidak menyediakan bagiku seorang wanita di dunia”. Benar Sayyid, karena InsyaAllah Allah yang Maha Aguang akan menggantikan untuk mu bidadari-bidadari yang setia kepada kekasih-kekasihnya , yang bermata jeli, yang tidak pernah di sentuh oleh jin dan manusia karena kesetiaan yang engkau miliki .
Ibnu Hazm AlAndalusiy menulis dengan sangat indah kisah-kisah cinta dalam bukunya ”Dibawah naungan Cinta”. Sebagian kisah itu adalah menceritakan tentang dirinya dengan sang kekasih yang dalam sejarah ada yang menyebut namanya adalah ”Tamar”. Ia adalah pelayan di istana Andalusia yang kebetulan ayah Ibnu Hazm adalah seorang perdana menteri. Di dalam istana itu ada banyak pelayan-pelayan wanita, yang salah satunya adalah Tamar. Setiap kali Ibnu Hazm melewati pintu yang di sana ada sang kekasih, setiap kali itu pula sang kekasih akan melewati pintu yang lain. Demikian seterusnya hingga beliau terjatuh sakit. Saat Andalusia jatuh karena penyerangan, beliau terpisah dengan Tamar. Hingga bertahun-tahun kemudian, karena kesetiaannya kepada sang kekasih, Allah berkenan mempertemukannya dengan Tamar yang telah menjadi janda. Bukan..bukan ...seperti film-film Hollywood dengan kisah cinta romatiknya tapi semua yang di nodai dengan nafsu walaupun berakhir happy ending, tapi ini adalah kisah kesetiaan yang abadi. Kisah kesetiaan sebagaimana Raja India kepada Jihan dengan membangun Taj Mahal.
Mungkin kisah sebuah kesetiaan seorang ”Maria” kepada Fahri di novel AAC-nya Kang Abik atau Azzam kepada Ana di KCB-nya Kang Abik lagi.
Mungkin..ya semua adalah mungkin karena kita juga tidak tahu sampai kapan ”apel merah” akan punya kesetiaan kepada burung bersayap sebelah untuk mewujudkan cita-cita mulia mereka atau tiada terwujud sama sekali? Atau burung dengan sayap sebelah itu ingin mengatakan lagi ”Ingatkan aku untuk melaksanakan shalat dua raka’at dan mengecup keningmu”. Mungkin lagi ya mungkin lagi bukan..bukan istana megah yang ia tawarkan, apalagi menara gading tapi sebuah kehidupan sederhana karena ia sangat ingin belajar tawadhu dan rendah hati kapada apel merahnya. Wallahu a’lam hanya Allah yang maha Tahu.
Batam, 07 Jumadil Tsani 1430 H.
” kalau kau ingin meninggalkanku, pergilah dalam hening. aku tak ingin rindu yang sedang tertidur lelap, terbangun oleh derit kepergianmu......”
Alfaqir H. Ahmad Syaih Djaelani
“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang” (QS AsShaf:14).
"Hawariyyun" adalah pengikut-pengikut setia Nabi Isa Alaihis Salam. Karena "kesetiaan" mereka itulah, Allah SWT mengabadikan kisah mereka dalam Alqur'an surat AsShaf:14 di atas. Dalam banyak kisah yg lain kita akan menemukan betapa banyak mereka yang setia. Khubaib bin Adzi' misalnya. Syaih Khalid Muhammad Khalid menceritakan dengan sangat indah kisah kesetiaan beliau kepada RasuluLLah dalam kitabnya "Rijal Khaula Rasul" terjemahannya ke indonesia berjudul ”60 Karakteristik Sahabat RasuluLLah” yaitu saat beliau di tiang salib ketika tertangkap oleh kaum musrikiyn Makah. Saat itu Abu Sufyan masih kafir kemudian bertanya kepada Khubaib yang sedang di siksa salib : "Ya Khubaib, bagaimana seandainya posisimu saat ini digantikan dengan Muhammad dan engkau pulang bercengkerama dengan keluargamu di Madinah?. Demi Allah, saat itu Khubaib langsung mendongakkan kepalanya, tidak merasakan lagi perihnya siksaan dan ia katakan ”Demi Allah, seandainya ada satu duripun tidak akan aku relakan akan menancap pada kaki RasuluLLah apalagi harus menggantikan posisiku saat ini”.
Hingga Abu Sufyan kemudian mengatakan perkataan yang di kenang oleh sejarah ”Tidak pernah aku menemukan seorang manusia mencintai manusia lain seperti orang ini”.
Sejarah menceritakan kemudian RasuluLLah diberikan Allah SWT petunjuk tentang jasad sahabat yang mulia yang tergantung di awang-awang hingga memerintahkan beberapa sahabat untuk menurunkannya. Yup, tanpa ada satupun burung pemakan bangkai yang menyentuhnya karena mereka tahu, dia adalah sahabat yang mulia. Sahabat yang setia kepada Rasulnya yang mulia.
Kesetiaan (wala’) yang utama adalah di berikan Allah SWT tentunya, kemudian Rasul-Nya yang agung dan mulia baru kemudian kepada orang-orang yang beriman. (QS AlMaidah : 51). Bukan kepada selainnya.
Tetapi ada juga bentuk kesetiannya selainnya. Seorang jundi/ tentara, ia juga harus setia dengan qiyadahnya/ pemimpinnya. Tentu bukan kesetiaan yang membabi buta (kata Ust Bowo Trustco, ”babi” kagak buta aja haram apalagi yang ”babi yang buta” ) atau kesetiaan yang tidak terarah.
Dalam perang Badar pun, seorang sahabat memberikan nilai kesetiaanya kepada RasuluLLah dengan memberikan ide yang baik yaitu dengan mengusulkan mencari tempat untuk tentaranya yang terdekat dengan sumber mata air. Demikian juga dalam kisah perang khondaq. Sahabat Salman Alfarisi dengan kesetiaanya yang tinggi tetap memberikan usul untuk membuat parit/ khondaq untuk menghadang laju pasukan Ahzab. Mereka adalah orang-orang yang setia kepada pemimpinnya tapi tidak meninggalkan sifat kritisnya. Bila qarar/ keputusan yang di tetapkan dengan mengacu pada Dewan Syar’iat yang terpercaya, maka jawaban jundi yang setia adalah ”sam’an wa ath’an” (mendengar dan thaat).
Bahkan ternyata kesetiaan juga ada dalam sudut-sudut kisah melankolis nan romantis. Ada dalam kisah-kisah indah nan syahdu pada para pecinta sejati. Tidak hanya pada film-film epick cerita masa kini tapi juga kisah-kisah dahsyat para ulama besar dan pejuang. Bagaimana Jenderal Maximus Commodus Meredius dengan kesetiaanya yang tinggi kepada Rajanya sehingga harus rela menjadi seorang ”slave”/ budak yaitu dipaksa untuk menjadi ”Gladiator” (judul film). Ia juga begitu setia pada keluarganya dan juga seseorang yang pernah memasuki hatinya dengan menjaga putra dari sang lady untuk meneruskan tahta. MelGibson –Sir Wales juga demikian dalam ”Brave heart”. Ia berlaku setia kepada tanah leluhurnya dan juga kepada istri dan kekasih tercintanya yang di bunuh oleh pasukan Inggris. Kisah-kisah yang lain tak kalah dahsyat dan sendunya. Serial di antara cerita-cerita heroik seorang pahlawan dan orang-orang besar dengan kisah-kisah kesetiaan mereka.
Ust Anis Matta menulis banyak kisah tentang hal ini dalam kolom Thumuhat (Gelora Jiwa) di Majalah Tarbawi.
Kisah setia juga terjadi pada para Ulama. Setia pada sebuah “syu’ur” / perasaan yang lebih sering di kenal dengan nama “cinta”. RasuluLLah memberikan kesetiaan cintanya kepada Khadijah. Hingga apabila beliau menyembelih unta atau kambing sekian tahun setelah Ibunda Khadijah wafat, beliau selalu tidak lupa membagikan-bagikan kepada kerabat-kerabat Ibunda Khadijah sampai membuat Ummahatul Mu’miniin “Khumaira” harus begitu cemburu kepada Khadijah. Pernah satu saat Aisya yang manja tapi smart cerdas bertanya kepada RasuluLLah yang mulia. “Ya Rasul, bagaimana seandainya engkau melihat kebun yang sudah di bajak atau kebun yang masih asli belum di bajak, engkau memilih mana?. “ RasuluLLah tahu persis maksud yang tersirat dari pertanyaan Aisya maka beliau menjawab tentu memilih kebun yang belum di bajak walaupun kita tahu RasuluLLah demikian cinta dan setianya kepada Khadijah. Lihatlah bagaimana jawaban RasuluLLah saat beliu di sudutkan dengan pertanyaan oleh Aisya. “Khadijah kata RasuluLah...ia adalah wanita yang paling setia. Ia memberikan seluruh hartanya saat orang lain menjauhkannya dariku. Ia memberikan cintanya yang tulus saat orang lain memusuhiku dan dari rahimnya Allah memberikanku lima orang anak (Ibrahim, AbduLLah, Ruqoyyah, ummi Kultsum dan Fatimah Azzahra-cahaya mata RasuluLah).
Pernahkah engkau mendengar lagi kisah perasaan yang setia lagi. Ya, engkau tentu tahu kisah Ulama besar Imam Adhahiri. Dia menuliskan bait-bait puisi romansa cintanya kepada gadis tetangganya yang tidak bisa menjadi pasangan hidupnya sebelum ia mengucapkan dua kalimah syahadah. Cinta suci nan tulus yang terhalang taqdir yang lebih baik. Kisah Afrah dan Abid dalam “Perindu-perindu malam” akan lebih membuat pipimumu basah oleh air mata lagi. Afrah yang mencintai Abid tapi terhalang oleh orangtua Afrah yang telah menjodohkan dengan laki-laki lain. Tahukah engkau bagaimana jawaban Abid kepada Afrah saat Afrah berkirim surat kepada Abid lewat pembantunya untuk mengajaknya bertemu di tempat yang sepi.
“ Sesunguhnya aku takut kepada Allah”. Inilah jawaban singkat surat Abid kepada Afrah yang menjadikan dan merubah Afrah menjadi wanita dengan karakter Rabi’ah AlAdawiyah. Bahkan karena perasaan cintanya yang terpendam hingga membawa kepada ajalnya sekalipun, ia tidak pernah menyesal. Ibnul qayyim menulis bai-bait kisah ini dalam Raudhatul Muhhibbin Wa Nuzhatul Mustaqiin- Taman orang-orang yang jatuh cinta dan memendam rindu”. Saat Abid berziarah ke pusara Afrah, Allah berkenan memberikan kepadanya nikmat tertidur. Dalam tidurnya itulah ia bermimpi berjumpa dengan Afrah sang kekasih. Ia bertanya ”bagaimana kabarmu ya habibiy?”. Afrah menjawab : ”Sesungguhnya sebaik-baik cinta adalah cintamu. Karena cintamu telah menghantarkan ku pada kecintaan yang sebenarnya yaitu pada Rabbku”. ”Lalu kapan aku bisa menyusulmu” tanya Abid lagi. ”Sebentar lagi, insyaAllah”. Jawab Afrah.
Ia terbangun dari tidurnya, tak sabar kiranya ia ingin berjumpa dengan sang kekasih. Allah kabulkan doa Abid hingga beberapa hari kemudian ia menyusul sang kekasih ke haribaanNya. Aduhai alangkah indahnya perasaan setia yang seperti ini.
Maka sekarang bacalah..bacalah dan carilah kisah kesetiaan mereka-mereka yang setia. Di buku yang sama temukanlah kisah kesetiaan Julaibib sang budak hitam hingga syahidnya di hari pernikahannya. Hingga ia di juluki ”Sang Pengantin Surga”.
Umar bin Abdul Aziz, yang di juluki Khulafa Arrasyid Alkhamis (ke lima setelah Abu Bakar,Umar,Ustman, dan Ali) juga mempunyai kisah yang syahdu. Kisah sebuah perasaan kepada jariyahnya yang mengantarkannya menjadi energi besar dengan membuat kemakmuran dan kesejahteraan selama kurang lebih 32 bulan hingga di ceritakan pada masa pemerintahannya serigalapun tidak mau mengejar-ngejar domba penggembala dan sedekahpun harus dibawa berkeliling karena banyaknya yang menolak menerima karena keadilan beliau. Lihatlah kesetiaan beliau hingga harus memilih cinta tertinggi di antara mahhabatul ula dan mahhabatul wustha. Ia nikahkan sang jariyah dengan pemuda lain hingga saat-saat terakhirpun beliau ditanya sang jariyah ”Umar, kemanakah cintamu yang dulu?. Umar menjawab ”Masih ada, bahkan kini semakin dalam”.
Amr bin Alhajaj adalah pemuda tertampan pada masa Khalifah Umar bin Khatab. Hingga karena ketampanannya yang menjadi fitnah bagi rakyatnya Umar harus mengasingkan sang pemuda nan rupawan ini ke tempat yang jauh. Malang nian, saat ribuan gadis mengaguminya dan mengharapkan untuk menjadi pendampingnya, ia justru jatuh cinta pada wanita yang sudah menjadi istri dari tuan rumah yang di tinggalinya yang sang suami sudah renta. Karena suatu sebab ia harus pergi, membawa perasaan dan kesetiaannya hingga maut menjemputnya. Sendiri dan hanya sendiri.
Engkau akan menangis lagi saat membaca untaian kisah Ulama besar abad ini dengan kesetiaanya yang abadi baik kepada Rabb, Rasul maupun kepada kekasih yang ia cintai. Lima belas tahun ia sendirian di penjara. Menulis beberapa buku dan kitab yang sampai saat ini masih menjadi rujukan pemuda-pemuda yang senantiasa bergerak untuk roda berdakwah. Hingga akhirnya harus menyerahkan dirinya di tiang gantungan oleh rezim yang otoriter padahal ia bisa diampuni dengan hanya satu kata yang penguasa itu mau menulis untuknya ”maaf”karena nilai sebuah kesetiaan yang agung ia menolaknya. Dua kali ia jatuh cinta, dua kali pula ia gagal mewujudkan impiannya karena sebab yang mulia, sebuah cita-cita dan harapan yang tinggi seorang Sayyid Qutb yang tiada terwujud. Hingga menjelang syahidnya pun ia mengatakan :”Mungkin kehidupan dunia, memang tidak menyediakan bagiku seorang wanita di dunia”. Benar Sayyid, karena InsyaAllah Allah yang Maha Aguang akan menggantikan untuk mu bidadari-bidadari yang setia kepada kekasih-kekasihnya , yang bermata jeli, yang tidak pernah di sentuh oleh jin dan manusia karena kesetiaan yang engkau miliki .
Ibnu Hazm AlAndalusiy menulis dengan sangat indah kisah-kisah cinta dalam bukunya ”Dibawah naungan Cinta”. Sebagian kisah itu adalah menceritakan tentang dirinya dengan sang kekasih yang dalam sejarah ada yang menyebut namanya adalah ”Tamar”. Ia adalah pelayan di istana Andalusia yang kebetulan ayah Ibnu Hazm adalah seorang perdana menteri. Di dalam istana itu ada banyak pelayan-pelayan wanita, yang salah satunya adalah Tamar. Setiap kali Ibnu Hazm melewati pintu yang di sana ada sang kekasih, setiap kali itu pula sang kekasih akan melewati pintu yang lain. Demikian seterusnya hingga beliau terjatuh sakit. Saat Andalusia jatuh karena penyerangan, beliau terpisah dengan Tamar. Hingga bertahun-tahun kemudian, karena kesetiaannya kepada sang kekasih, Allah berkenan mempertemukannya dengan Tamar yang telah menjadi janda. Bukan..bukan ...seperti film-film Hollywood dengan kisah cinta romatiknya tapi semua yang di nodai dengan nafsu walaupun berakhir happy ending, tapi ini adalah kisah kesetiaan yang abadi. Kisah kesetiaan sebagaimana Raja India kepada Jihan dengan membangun Taj Mahal.
Mungkin kisah sebuah kesetiaan seorang ”Maria” kepada Fahri di novel AAC-nya Kang Abik atau Azzam kepada Ana di KCB-nya Kang Abik lagi.
Mungkin..ya semua adalah mungkin karena kita juga tidak tahu sampai kapan ”apel merah” akan punya kesetiaan kepada burung bersayap sebelah untuk mewujudkan cita-cita mulia mereka atau tiada terwujud sama sekali? Atau burung dengan sayap sebelah itu ingin mengatakan lagi ”Ingatkan aku untuk melaksanakan shalat dua raka’at dan mengecup keningmu”. Mungkin lagi ya mungkin lagi bukan..bukan istana megah yang ia tawarkan, apalagi menara gading tapi sebuah kehidupan sederhana karena ia sangat ingin belajar tawadhu dan rendah hati kapada apel merahnya. Wallahu a’lam hanya Allah yang maha Tahu.
Batam, 07 Jumadil Tsani 1430 H.
” kalau kau ingin meninggalkanku, pergilah dalam hening. aku tak ingin rindu yang sedang tertidur lelap, terbangun oleh derit kepergianmu......”
Alhamdulillah , blognya pulih lagi
Alhamdulillah blog ini bisa pulih lagi setelah terhapus. Smg bisa lebih bermanfaat. Aamiin.
Salam, Alfaqir Ahmad S
Salam, Alfaqir Ahmad S
Jumat, April 03, 2009
31 tahun sudah
31 tahun sudah menikmati hidup...
belum ada yang di perbuat untuk ummat...
belum ada manfaat yang bisa menjadi saksi sejarah....
akankah sisa hidup ini, akan semakin baik......
Allahumma a'inni 'alaa dzikrika wa syukrika wa husni ibadatika.....
belum ada yang di perbuat untuk ummat...
belum ada manfaat yang bisa menjadi saksi sejarah....
akankah sisa hidup ini, akan semakin baik......
Allahumma a'inni 'alaa dzikrika wa syukrika wa husni ibadatika.....
Langgan:
Entri (Atom)

