SELAMAT DATANG..AHLAN WA SAHLAN..WELCOME..SUGENG RAWUH..

Ahlan wa sahlan......Met berkunjung
Harapan semoga tercerahkan dan bermanfaat. YM id: ahmadsc

Reach me also at :
Fb : http://facebook.com/ahmadsyaih

Selasa, Agustus 11, 2009

Menggapai Ridha Allah Melalui Orang Tua

Menggapai Ridha Allah Melalui Orang Tua

Jalan yang hak dalam menggapai ridha Allah melalui orang tua adalah Birrul walidain. Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) adalah salah satu masalah yang penting dalam Islam. Di dalam Al-Qur’an, setelah memerintahkan kepada manusia untuk bertauhid kepada-Nya, Allah Ta’ ala memerintahkan untuk berbakti kepada orang tuanya. Dalam surat Al Isra’ ayat 23-24, Allah berfirman:
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut di sisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan jangan lah kamu membentak keduanya. Dan katakanlah kepada keduanya perkatanaan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah,”Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil.”
Al Hafidz Ibnu Katsir telah menerangkan ayat tersebut sebagai berikut:
“Allah Ta’ala telah mewajibkan kepada semua manusia untuk beribadah hanya kepada Allah saja, tidak menyekutukan dengan yang lain. “Qadla” di sini bermakna perintah sebagaimana yang dikatakan Imam Mujahid, wa qadla yakni washa (Allah berwasiat). Kemudian dilanjutkan dengan “wabil waalidaini ihsana” hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya.
Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya dalam keadaan lanjut usia, “fa laa taqul lahuma uffin” maka janganlah berkata kepada keduanya ‘ah’ ( ‘cis’ atau yang lainnya). Janganlah memperdengarkan kepada keduanya perkataan yang buruk. “Wa laa tanhar huma” dan janganlah kalian membenci keduanya. Ada juga yang mengatakan bahwa “wa laa tanhar huma ai la tanfudz yadaka alaihima” maksudnya adalah janganlah kalian mengibaskan tangan kepada keduanya. Ketika Allah melarang perkataan perkataan dan perbuatan yang buruk, Allah juga memerintahkan untuk berbuat dan berkata yang baik. Seperti dalam firman Allah Ta’ala “wa qul lahuma qaulan karima” dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia, yaitu perkataan yang lembut dan baik dengan penuh adab dan rasa hormat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan kasih sayang, hendaklah kalian bertawadlu’ kepada keduanya. Dan hendaklah kalian berdoa, “Ya Allah sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangi dan mendidikku di waktu kecil,” pada waktu mereka berada di usia lanjut hingga keduanya wafat.” [Tafsir Ibnu Katsir Juz III hal 39-40 Cet. I. Maktabah Daarus Salam, Riyad. Th. 1413H]
Perintah birul walidain juga tercantum dalam surat An Nisa ayat 36, Allah berfirman:
Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, kepada kaum kerabat, kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, kepada tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya, sesugguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”
Dalam surat Al Ankabut ayat 8, tercantum larangan mematuhi orang tua yang kafir kalau mengajak kepada kekafiran:
“Dan Kami wajibkan kepada manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikutikeduanya. Hanya kepada-Ku lah kembalimu.lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Pengertian berbuat baik dan durhaka
Menurut lughoh (bahasa), Al-Ihsan berasal dari kata ahsana –yuhsinu –Ihsaanan. Sedangkan yang dimaksud ihsan dalam pembahasan ini adalah berbakti kepada kedua orang tua yaitu menyampaikan setiap kebaikan kepada keduanya semampu kita dan bila memungkinkan mencegah gangguan terhadap keduanya. Menurut Ibnu Athiyah, kita wajib juga mentaati keduanya dalam hal-hal yang mubah, harus mengikuti apa-apa yang diperintahkan keduanya dan menjauhi apa-apa yang dilarang.
Sedangkan uquq artinya memotong (seperti halnya aqiqah yaitu memotong kambing). ‘Uququl walidain’ adalah gangguan yang ditimbulkan seorang anak terhadap kedua orang tuanya baik berupa perkataan maupun perbuatan. Contoh gangguan dari seorang anak kepada kedua orang tuanya yang berupa perkataan yaitu dengan mengatakan ‘ah’ atau ‘cis’, berkata dengan kalimat yang keras atau menyakitkan hati, menggertak, mencaci dan yang lainnya. Sedangkan yang berupa perbuatan adalah berlaku kasar seperti memukul dengan tangan atau kaki bila orang tua menginginkan sesuatu atau menyuruh untuk memenuhi keinginannya, membenci, tidak memperdulikan, tidak bersilaturahmi atau tidak memberi nafkahkan kepada kedua orang tuanya yang miskin.
Berbakti Kepada Orang Tua Merupakan Sifat Baarizah (yang menonjol) dari Para Nabi. Dalam surat Maryam ayat 30-34, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Isa bin Maryam adalah anak yang berbakti kepada Ibunya: Berkata Isa, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, yang memberi Al-Kitab (Injil), Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Allah memerintahkan aku berbakti kepada ibuku dan tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku. Itulah Isa putra Maryam, mengatakan perkataan yang benar dan mereka berbantahan tentang kebenarannya.”
Kemudian Allah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 40-41: “Wahai Rabb-ku jadikanlah aku dan anak cucuku, orang yang tetap mendirikan shalat, wahai Rabb-ku perkenankanlah doaku.Wahai Rabb kami, berikanlah ampunan untukku dan kedua orang tuaku. Dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab.” Lihat juga dalam surat Asy Syu’araa’ ayat 83-87:(Ibrahim berdoa) “Ya Rabb-ku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukanlah aku kedalam golongan orang-orang yang shalih, Dan jadikanlah aku tutur kata yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian,
Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan, Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat,Dan janganlah engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.”
Demikian juga Nabi Nuh ‘alaihi salam mengatakan hal yang sama dalam surat Nuh. Kemudian Nabi Ismail ‘alaihi salam, juga Nabi Yahya ‘alaihi salam dalam surat Maryam ayat 12-15: Ambillah Al Kitab dengan sungguh-sungguh, Kami berikan kepadanya hikmah, ketika masih kanak-kanak, Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan ia adalah orang-orang yang bersih dosa dan orang-orang bertakwa. Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, bukanlah ia termasuk orang-orang yang sombong lagi durhaka. Kesejahteraan semoga atas dirinya, pada hari ia dilahirkan, pada hari ia diwafatkan, dan pada hari ia dibangkitkan.”
Kemudian dalam An Nahl ayat 19 tentang nabi Sulaiman ‘alaihi salam. Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugrahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk mengajarkan amal shalih yang Engkau ridlai dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.”
Ayat-ayat diatas menunjukan bahwa bakti kepada orang tua merupakan sifat yang menonjol bagi para nabi. Semua nabi berbakti kepada kedua orang tua mereka. Dan ini menunjukan bahwa berbakti kepada orang tua adalah syariat yang umum. Setiap nabi dan rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ke muka bumi selain diperintahkan untuk menyeru umatnya agar berbakti kepada Allah, mentauhidkan Allah dan menjauhi segala macam perbuatan syirik juga diperintahkan untuk menyeru umatnya agar berbakti kepada orang tuanya.
Bila diperintahkan bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua seperti yang tercantum dalam surat An Nisa, surat Al Isra dan surat-surat yang lainya menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah masalah kedua setelah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau selama ini yang dikaji adalah masalah tauhid, masalah aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, aqidah salaf, untuk selanjutnya wajib pula bagi setiap muslim dan muslimah untuk mengkaji masalah berbakti kepada kedua orang tua. Tidak boleh terjadi pada seorang yang bertauhid kepada Allah tetapi ia durhaka kepada kedua orang tuanya, wal iyadzubillah nas alullahu salamah wal afiyah. Bagi seorang muslim terutama bagi seorang thalibul ‘ilm (penuntut ilmu), wajib baginya berbakti kepada orang tuanya.

Keutamaan Berbakti Kepada Kedua Orang Tua dan Pahalanya

Pertama: Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dalam amal yang paling utama. Dengan dasar diantaranya yaitu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Dari sahabat Abu Abdirrahman Abdulah bin Mas’ud radliallahu ‘anhu:
“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang amal-amal paling utama dan dicintai Allah? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘pertama Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat diawal waktunya), kedua berbakti kepada kedua dua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah’.” [HR. Bukhari I/134, Muslim No. 85, Fathul Baari 2/9]
Dengan demikian jika ingin berbuat kebajikan harus didahulukan amal-amal yang paling utama di antaranya adalah birrul walidain (berbakti kepada orang tua).

Kedua: Bahwa ridha Allah tergantung kepada keridhaan orang tua. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu Hibban, Hakim dan Imam Tirmidzi dari Sahabat dari sahabat Abdillah bin Amr dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152))

Ketiga: Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami yaitu dengan cara bertawasul dengan amal shalih tersebut. Dengan dasar hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ibnu Umar:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Pada suatu hari tiga orang berjalan, lalu kehujanan. Mereka bertehduh pada sebuah gua di kaki sebuah gunung. Ketika mereka ada di dalamnya, tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi pintu gua/ sebagian mereka berkata kepada yang lain, ‘Ingatlah amal terbaik yang pernah kamu lakukan.’ Kemudian mereka memohon kepada Allah dan bertawasul melalui amal tersebut, dengan harapan agar Allah menghilangkan kesulitan tersebut. Salah satu diantara mereka berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan sedangkan aku mempunyai istri dan anak-anak yang masih kecil. Aku menggembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang sudah larut dan aku dapati kedua orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku pegang lalu aku mendatangi keduanya namun keduanya masih tertidur pulas. Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya. Aku tidak akan berikan kepada siapapun sebelum susu yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku tunggu sampai keduanya bangun. Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada anak-anakku. Ya Allah, seandainya perbuatan ini adalah perbuatan yang baik karena Engkau ya Allah, bukakanlah.’ Maka batu yang menutup pintu gua itu pun bergeser.” [HR. Bukhari, (Fathul baari 4/449 no. 2272), Muslim (2473) (100) Bab Qishshah Ashabil Ghaar Ats Tsalatsah Wattawasul bi Shalihil A’mal].
Ini menunjukan bahwa perbuatan berbakti kepada kedua orang tua yang pernah kita lakukan, dapat digunakan untuk bertawasul kepada Allah ketika kita mengalami kesulitan, insya Allah kesulitan tersebut akan hilang. Berbagai kesulitan yang dialami seseorang saat ini diantaranya karena perbuatan durhaka kepada kedua orang tua.
Kalau kita mengetahui, bagaimana beratnya orang tua kita telah bersusah payah untuk kita, maka perbuatan ‘Si Anak’ yang ‘bergadang’ untuk memerah susu tersebut belum sebanding dengan jasa orang tuanya ketika mengurusnya sewaktu kecil.
Ini juga menunjukan bahwa kebutuhan kedua orang tua harus di dahulukan daripada kebutuhan anak kita sendiri. Bahkan dalam riwayat yang lain disebutkan berbakti kepada orang tua harus didahulukan dari pada berbuat baik kepada istri sebagai mana diriwayatkan oleh abdulah bin umar radliallahu ‘anhuma ketika diperintahkan oleh bapaknya (Umar bin Khatab) untuk menceraikan istrinya, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Rasalullah menjawab, “Ceraikan istrimu!” [HR. Abu Dawud No. 5138, Tirmidzi No. 1189 beliau berkata, “Hadits hasan shahih”]

Keempat: Dengan berbakti kepada kedua orang tua akan diluaskan rizki dan
dipanjangkan umur Sebagai mana dalam hadits yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Dari sahabat Anas radliallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barang siapa yang suka diluaskan rizki dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” [HR. Bukhari 7/7, Muslim 2557, Abu Dawud 1693].
Dalam silaturahmi, yang harus didahulukan silaturahmi kepada orang tua sebelim kepada yang lain. Banyak diantara saudara-saudara kita yang sering ziarah kepada teman-temannya tetapi kepada orang tuanya sendiri jarang bahkan tidak pernah. Padahal ketika masih kecil dia selalu bersama orang tuanya. Sesulit apapun harus tetap diusahakan untuk bersilaturahmi kepada kedua orang tua. Karena dengan dekat kepada keduanya insya Allah akan dimudahkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya.

Kelima: Manfaat dari berbakti kepada kedua orang tua yaitu akan dimasuikkan ke jannah (surga) oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dosa-dosa yang Allah segerakan adzabnya di dunia diantaranya adalah berbuat zhalim dan durhaka kepada orang tua. Dengan demikian jika seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya, Allah akan menghindarkannya dari berbagai mala petaka, dengan izin Allah.

Wasiat Berbuat Baik Kepada Orang Tua Takala Keduanya Berusia Lanjut.
Banyak sekali hadits-hadits yang menyebutkan tentang ruginya seseorang yang tidak berbakti kepada kedua orang tua pada waktu orang tua masih disisi kita, salah satunya adalah:Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut , salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga.” [HR. Muslim 2551, Ahmad 2:254,346].
Pada umumnya seorang anak merasa berat dan malas memberi nafkah dan mengurusi kedua orang tuanya yang telah berusia lanjut. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa keberadaan kedua orang tua yang berusia lanjut itu adalah kesempatan paling baik untuk mendapatkan pahala dari Allah, dimudahkan rizki dan jembatan emas menuju surga. Karena itu sungguh rugi jika seorang anak menyia-nyiakan kesempatan yang paling berharga ini dengan mengabaikan hak-hak orang tuanya dan dengan sebab itu dia tidak masuk surga.

Bentuk dan Akibat Durhaka Kepada Kedua Orang Tua.

Di antara bentuk durhaka (uquq) adalah:
1. Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan ) ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih atau sakit hati.
2. Berkata ‘ah dan tidak memenuhi panggilan orang tua.
3. Membentak atau menghardik orang tua.
4. Bakhil, tidak mengurusi orang tuanya bahkan lebih mempentingkan yang lain dari pada mengurusi orang tuanya padahal orang tuanya sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkahpun , dilakukan dengan penuh perhitungan.
5. Bermuka masam dan cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, '‘kolot’ dan lain-lain.
6. Menyuruh orang tua, misalnya menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut sangat tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua dan lemah. Tetapi jika ‘Si Ibu’ melakukan pekerjaan tersebut dengan kemauannya sendiri maka tidak mengapa dan karena itu anak harus berterima kasih.
7. Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua.
8. Memasukan kemurkaan kedalam rumah misalnya alat musik, mengisap Rokok, dll.
9. Mendahului taat kepada istri dari pada orang tua. Bahkan ada sebagai orang dengan teganya mengusir ibunya demi menuruti kemauan istrinya. Na’udzubillah.
10. Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat tinggalnya ketika status sosialnya meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam itu adalah sikap yang sangat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.

Akibat dari durhaka kepada kedua orang tua akan dirasakan di dunia, dan ini didasarkan pada hadits berikut:Dari Abi Bakrah radliallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Tidak ada dosa yang Allah cepatkan adzabnya kepada pelakunya di dunia ini dan Allah juga akan mengadzabnya di akhirat yang pertama adalah berlaku Zhalim, kedua memutuskan tali silaturrahmi.” [HR. Bukhari (Shahih Adabul Mufrad No. 23),]
Dalam hadits lain dikatakan:”Dua perbuatan dosa yang Allah sepatkan adzabnya (siksanya) di dunia yaitu berbuat zhalim dan al ‘uquq (durhaka kepada orang tua). [HR. Hakim 4/177 dari Anas din Malik radliallahu ‘anhu].
Dapat kita lihat sekarang banyak orang yang durhaka kepada orang tuanya hidupnya tidak berkah dan selalu mengalami berbagai macam kesulitan. Kalaupun orang tersebut kaya maka kekayaannya tidak akan menjadikan bahagia.

Bentuk-bentuk Bakti Kepada Orang Tua

Pertama: Bergaul kepada keduanya dengan cara yang baik. Di dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disebutkan bahwa memberi kegembiraan kepada seseorang mu’min termasuk shadaqah, lebih utama lagi kalau memberikan kegembiraan kepada kedua orang tua kita.

Kedua: yaitu berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut. Hendaknya dibedakan berbicara kepada kedua orang tua dengan kepada anak, teman atau dengan yang lain. Berbicara dengan perkataan yang mulia kepada kedua orang tua.

Ketiga: Tawadlu (rendah diri). Tidak boleh kibir (sombong) apabila sudah meraih sukses atau atau memenuhi jabatan di dunia, karena sewaktu lahir kita berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan dengan memberi makan, minum, pakaian dan semuanya

Keempat: Yaitu memberi infak (shadaqah) kepada kedua orang tua. Semua harta kita adalah milik orang tua.

Kelima: Mendo’akan kedua orang tua. Sebagaimana ayat: ‘robbirhamhuma kamaa rabbayaani shagiiro’ (wahai rabb-ku kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil). Seandainya orang tua belum mengikuti dakwah yang haq dan masih berbuat syirik serta bid’ah, kita tetap harus berlaku lemah lembut kepada keduanya.

Apabila kedua orang telah meninggal maka yang pertama kita lakukan adalah meminta ampun kepada Allah Ta’ala dengan taubat yang nasuha (benar) bila kita pernah berbuat durhaka kepada keduanya di waktu mereka masih hidup, yang kedua adalah menshalatkannya, ketiga adalah selalu meminta ampunan untuk keduanya, yang keempat membayarkan hutang-hutangnya, yang kelima melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syari’at dan yang keenam menyambung tali silaturrahmi kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya (diringkas dari beberapa hadist yang shahih).

Jumat, Juni 19, 2009

WAKTU-WAKTU YANG MUSTAJAB

WAKTU-WAKTU YANG MUSTAJAB

Oleh
Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih
________________________________________

Allah memberikan masing-masing waktu dengan keutamaan dan kemuliaan yang berdeda-beda, diantaranya ada waktu-waktu tertentu yang sangat baik untuk berdoa, akan tetapi kebanyakan orang menyia-nyiakan kesempatan baik tersebut. Mereka mengira bahwa seluruh waktu memiliki nilai yang sama dan tidak berbeda. Bagi setiap muslim seharusnya memanfaatkan waktu-waktu yang utama dan mulia untuk berdoa agar mendapatkan kesuksesan, keberuntungan, kemenangan dan keselamatan. Adapun waktu-waktu mustajabah tersebut antara lain.

[1]. Sepertiga Akhir Malam
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga akhir malam, lalu berfirman ; barangsiapa yang berdoa, maka Aku akan kabulkan, barangsiapa yang memohon, pasti Aku akan perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti Aku akan mengampuninya". [Shahih Al-Bukhari, kitab Da'awaat bab Doa Nisfullail 7/149-150]
[2]. Tatkala Berbuka Puasa Bagi Orang Yang Berpuasa
Dari Abdullah bin 'Amr bin 'Ash Radhiyallahu 'anhu bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pafa saat berbuka ada doa yang tidak ditolak". [Sunan Ibnu Majah, bab Fis Siyam La Turaddu Da'watuhu 1/321 No. 1775. Hakim dalam kitab Mustadrak 1/422. Dishahihkan sanadnya oleh Bushairi dalam Misbahuz Zujaj 2/17].
[3]. Setiap Selepas Shalat Fardhu
Dari Abu Umamah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang doa yang paling didengar oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, beliau menjawab.
"Artinya : Di pertengahan malam yang akhir dan setiap selesai shalat fardhu". [Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da'awaat 13/30. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 3/167-168 No. 2782].
[4]. Pada Saat Perang Berkecamuk
Dari Sahl bin Sa'ad Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Ada dua doa yang tidak tertolak atau jarang tertolak ; doa pada saat adzan dan doa tatkala peang berkecamuk". [Sunan Abu Daud, kitab Jihad 3/21 No. 2540. Sunan Baihaqi, bab Shalat Istisqa' 3/360. Hakim dalam Mustadrak 1/189. Dishahihkan Imam Nawawi dalam Al-Adzkaar hal. 341. Dan Al-Albani dalam Ta'liq Alal Misykat 1/212 No. 672].
[5]. Sesaat Pada Hari Jum'at
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa Abul Qasim Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya pada hari Jum'at ada satu saat yang tidak bertepatan seorang hamba muslim shalat dan memohon sesuatu kebaikan kepada Allah melainkan akan diberikan padanya, beliau berisyarat dengan tangannya akan sedikitnya waktu tersebut". [Shahih Al-Bukhari, kitab Da'awaat 7/166. Shahih Muslim, kitab Jumuh 3/5-6]
Waktu yang sesaat itu tidak bisa diketahui secara persis dan masing-masing riwayat menyebutkan waktu tersebut secara berbeda-beda, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/203.

Dan kemungkinan besar waktu tersebut berada pada saat imam atau khatib naik mimbar hingga selesai shalat Jum'at atau hingga selesai waktu shalat ashar bagi orang yang menunggu shalat maghrib.

[6]. Pada Waktu Bangun Tidur Pada Malam Hari Bagi Orang Yang Sebelum Tidur Dalam Keadaan Suci dan
Berdzikir Kepada Allah
Dari 'Amr bin 'Anbasah Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya :Tidaklah seorang hamba tidur dalam keadaan suci lalu terbangun pada malam hari kemudian memohon sesuatu tentang urusan dunia atau akhirat melainkan Allah akan mengabulkannya". [Sunan Ibnu Majah, bab Doa 2/352 No. 3924. Dishahihkan oleh Al-Mundziri 1/371 No. 595]
Terbangun tanpa sengaja pada malam hari.[An-Nihayah fi Gharibil Hadits 1/190]

Yang dimaksud dengan "ta'ara minal lail" terbangun dari tidur pada malam hari.

[7]. Doa Diantara Adzan dan Iqamah
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Doa tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah". [Sunan Abu Daud, kitab Shalat 1/144 No. 521. Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da'waat 13/87. Sunan Al-Baihaqi, kitab Shalat 1/410. Dishahihkan oleh Al-Albani, kitab Tamamul Minnah hal. 139]
[8]. Doa Pada Waktu Sujud Dalam Shalat
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Adapun pada waktu sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa sebab saat itu sangat tepat untuk dikabulkan". [Shahih Muslim, kitab Shalat bab Nahi An Qiratul Qur'an fi Ruku' wa Sujud 2/48]
Yang dimaksud adalah sangat tepat dan layak untuk dikabulkan doa kamu.

[9]. Pada Saat Sedang Kehujanan
Dari Sahl bin a'ad Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Dua doa yang tidak pernah ditolak ; doa pada waktu adzan dan doa pada waktu kehujanan". [Mustadrak Hakim dan dishahihkan oleh Adz-Dzahabi 2/113-114. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami' No. 3078].
Imam An-Nawawi berkata bahwa penyebab doa pada waktu kehujanan tidak ditolak atau jarang ditolak dikarenakan pada saat itu sedang turun rahmat khususnya curahan hujan pertama di awal musim. [Fathul Qadir 3/340].

[10]. Pada Saat Ajal Tiba
Dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah mendatangi rumah Abu Salamah (pada hari wafatnya), dan beliau mendapatkan kedua mata Abu Salamah terbuka lalu beliau memejamkannya kemudian bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya tatkala ruh dicabut, maka pandangan mata akan mengikutinya'. Semua keluarga histeris. Beliau bersabda : 'Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian kecuali kebaikan, sebab para malaikat mengamini apa yang kamu ucapkan". [Shahih Muslim, kitab Janaiz 3/38]
[11]. Pada Malam Lailatul Qadar
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Artinya : Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar". [Al-Qadr : 3-5]
Imam As-Syaukani berkata bahwa kemuliaan Lailatul Qadar mengharuskan doa setiap orang pasti dikabulkan. [Tuhfatud Dzakirin hal. 56]

[12]. Doa Pada Hari Arafah
Dari 'Amr bin Syu'aib Radhiyallahu 'anhu dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah". [Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da'waat 13/83. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Ta'liq alal Misykat 2/797 No. 2598]

Rabu, Juni 17, 2009

Tanda-tanda Ruhiyyah yang kering

H.Ahmad Syaikhuddin

1. Ibadah tidak terasa khusu’

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',” (QS AlBaqarah :45)

2. Hati yang keras (tidak gampang menerima hidayah)

” Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (AlHadid:16)

3. Mendengar ayat alqur’an dan mendengarkan lagu tidak ada bedanya

Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. (Al-Isra: 88)

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Al Isra:82)

4. Tidak menjaga pandangan

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (AnNur :30-31)

5. Enggan mendatangi majelis ilmu
”......Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.( AlMujadilah:11)

”Barangsiapa menempuh perjalanan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga”. (HR Muslim)
“Barangsiapa yang keluar (pergi) menuntut ilmu ia berada di jalan Allah sampai kembali pulang”. (HR Tirmidzi)
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarakan Al Qur’an.” (Al Hadits)
“Keutamaan orang yang berilmu dibandingkan dengan orang yang ahli ibadah laksana keutamaan bulan atas seluruh bintang”. (HR Tirmidzi)


6. Tidak ada niat mengunjungi ka’bah

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah yaitu (bagi) orang yang sanggup melaksanakan perjalanan ke Baitullah. Dan barangsiapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan) dari semesta alam.” (Ali-Imran : 97)

“Umrah ke umrah adalah penghapus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak mempunyai pahala selain surga.” (Muttafaq alaih).
“Baragsiapa melakukan haji tanpa berbuat keji dan tidak fasiq, maka ia kembali tidak berdosa sebagaimana waktu ia dilahirkan oleh ibunya.” (Muttafaq alaih).


7. Jarang membaca alqur’an
Beberapa keutamaan membaca Al Qur`an sebagai berikut :
1. Manusia yang terbaik.
Dari `Utsman bin `Affan, dari Nabi bersabda : "Sebaik-baik kalian yaitu orang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya." H.R. Bukhari.
2. Dikumpulkan bersama para Malaikat.
Dari `Aisyah Radhiyallahu `Anha berkata, Rasulullah bersabda : "Orang yang membaca Al Qur`an dan ia mahir dalam membacanya maka ia akan dikumpulkan bersama para Malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al Qur`an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat (belum fasih) dalam membacanya, maka ia akan mendapat dua ganjaran." Muttafaqun `Alaihi.

3. Sebagai syafa`at di Hari Kiamat.
Dari Abu Umamah Al Bahili t berkata, saya telah mendengar Rasulullah bersabda : "Bacalah Al Qur`an !, maka sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafaat bagi ahlinya (yaitu orang yang membaca, mempelajari dan mengamalkannya)." H.R. Muslim.

4. Kenikmatan tiada tara
Dari Ibnu `Umar t, dari Nabi bersabda : "Tidak boleh seorang menginginkan apa yang dimiliki orang lain kecuali dalam dua hal; (Pertama) seorang yang diberi oleh Allah kepandaian tentang Al Qur`an maka dia mengimplementasikan (melaksanakan)nya sepanjang hari dan malam. Dan seorang yang diberi oleh Allah kekayaan harta maka dia infakkan sepanjang hari dan malam." Muttafaqun `Alaihi.

5. Ladang pahala.
Dari Abdullah bin Mas`ud t berkata, Rasulullah e : "Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an) maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan akan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan "Alif lam mim" itu satu huruf, tetapi "Alif" itu satu huruf, "Lam" itu satu huruf dan "Mim" itu satu huruf." H.R. At Tirmidzi dan berkata : "Hadits hasan shahih".

6. Kedua orang tuanya mendapatkan mahkota surga
Dari Muadz bin Anas t, bahwa Rasulullah e bersabda : "Barangsiapa yang membaca Al Qur`an dan mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya, Allah akan mengenakan mahkota kepada kedua orangtuanya pada Hari Kiamat kelak. (Dimana) cahayanya lebih terang dari pada cahaya matahari di dunia. Maka kamu tidak akan menduga bahwa ganjaran itu disebabkan dengan amalan yang seperti ini. " H.R. Abu Daud.

8. Menggampangkan urusan yang syubhat

Nyanyian, permainan, urusan-urusan yang kurang penting dan membuat lalai dari mengingat Allah SWT dll.


Batam, 16 Juni 2009

Mahalnya nilai sebuah Kesetiaan

Mahalnya nilai sebuah Kesetiaan

Alfaqir H. Ahmad Syaih Djaelani

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang” (QS AsShaf:14).

"Hawariyyun" adalah pengikut-pengikut setia Nabi Isa Alaihis Salam. Karena "kesetiaan" mereka itulah, Allah SWT mengabadikan kisah mereka dalam Alqur'an surat AsShaf:14 di atas. Dalam banyak kisah yg lain kita akan menemukan betapa banyak mereka yang setia. Khubaib bin Adzi' misalnya. Syaih Khalid Muhammad Khalid menceritakan dengan sangat indah kisah kesetiaan beliau kepada RasuluLLah dalam kitabnya "Rijal Khaula Rasul" terjemahannya ke indonesia berjudul ”60 Karakteristik Sahabat RasuluLLah” yaitu saat beliau di tiang salib ketika tertangkap oleh kaum musrikiyn Makah. Saat itu Abu Sufyan masih kafir kemudian bertanya kepada Khubaib yang sedang di siksa salib : "Ya Khubaib, bagaimana seandainya posisimu saat ini digantikan dengan Muhammad dan engkau pulang bercengkerama dengan keluargamu di Madinah?. Demi Allah, saat itu Khubaib langsung mendongakkan kepalanya, tidak merasakan lagi perihnya siksaan dan ia katakan ”Demi Allah, seandainya ada satu duripun tidak akan aku relakan akan menancap pada kaki RasuluLLah apalagi harus menggantikan posisiku saat ini”.
Hingga Abu Sufyan kemudian mengatakan perkataan yang di kenang oleh sejarah ”Tidak pernah aku menemukan seorang manusia mencintai manusia lain seperti orang ini”.
Sejarah menceritakan kemudian RasuluLLah diberikan Allah SWT petunjuk tentang jasad sahabat yang mulia yang tergantung di awang-awang hingga memerintahkan beberapa sahabat untuk menurunkannya. Yup, tanpa ada satupun burung pemakan bangkai yang menyentuhnya karena mereka tahu, dia adalah sahabat yang mulia. Sahabat yang setia kepada Rasulnya yang mulia.

Kesetiaan (wala’) yang utama adalah di berikan Allah SWT tentunya, kemudian Rasul-Nya yang agung dan mulia baru kemudian kepada orang-orang yang beriman. (QS AlMaidah : 51). Bukan kepada selainnya.
Tetapi ada juga bentuk kesetiannya selainnya. Seorang jundi/ tentara, ia juga harus setia dengan qiyadahnya/ pemimpinnya. Tentu bukan kesetiaan yang membabi buta (kata Ust Bowo Trustco, ”babi” kagak buta aja haram apalagi yang ”babi yang buta”  ) atau kesetiaan yang tidak terarah.
Dalam perang Badar pun, seorang sahabat memberikan nilai kesetiaanya kepada RasuluLLah dengan memberikan ide yang baik yaitu dengan mengusulkan mencari tempat untuk tentaranya yang terdekat dengan sumber mata air. Demikian juga dalam kisah perang khondaq. Sahabat Salman Alfarisi dengan kesetiaanya yang tinggi tetap memberikan usul untuk membuat parit/ khondaq untuk menghadang laju pasukan Ahzab. Mereka adalah orang-orang yang setia kepada pemimpinnya tapi tidak meninggalkan sifat kritisnya. Bila qarar/ keputusan yang di tetapkan dengan mengacu pada Dewan Syar’iat yang terpercaya, maka jawaban jundi yang setia adalah ”sam’an wa ath’an” (mendengar dan thaat).

Bahkan ternyata kesetiaan juga ada dalam sudut-sudut kisah melankolis nan romantis. Ada dalam kisah-kisah indah nan syahdu pada para pecinta sejati. Tidak hanya pada film-film epick cerita masa kini tapi juga kisah-kisah dahsyat para ulama besar dan pejuang. Bagaimana Jenderal Maximus Commodus Meredius dengan kesetiaanya yang tinggi kepada Rajanya sehingga harus rela menjadi seorang ”slave”/ budak yaitu dipaksa untuk menjadi ”Gladiator” (judul film). Ia juga begitu setia pada keluarganya dan juga seseorang yang pernah memasuki hatinya dengan menjaga putra dari sang lady untuk meneruskan tahta. MelGibson –Sir Wales juga demikian dalam ”Brave heart”. Ia berlaku setia kepada tanah leluhurnya dan juga kepada istri dan kekasih tercintanya yang di bunuh oleh pasukan Inggris. Kisah-kisah yang lain tak kalah dahsyat dan sendunya. Serial di antara cerita-cerita heroik seorang pahlawan dan orang-orang besar dengan kisah-kisah kesetiaan mereka.
Ust Anis Matta menulis banyak kisah tentang hal ini dalam kolom Thumuhat (Gelora Jiwa) di Majalah Tarbawi.
Kisah setia juga terjadi pada para Ulama. Setia pada sebuah “syu’ur” / perasaan yang lebih sering di kenal dengan nama “cinta”. RasuluLLah memberikan kesetiaan cintanya kepada Khadijah. Hingga apabila beliau menyembelih unta atau kambing sekian tahun setelah Ibunda Khadijah wafat, beliau selalu tidak lupa membagikan-bagikan kepada kerabat-kerabat Ibunda Khadijah sampai membuat Ummahatul Mu’miniin “Khumaira” harus begitu cemburu kepada Khadijah. Pernah satu saat Aisya yang manja tapi smart cerdas bertanya kepada RasuluLLah yang mulia. “Ya Rasul, bagaimana seandainya engkau melihat kebun yang sudah di bajak atau kebun yang masih asli belum di bajak, engkau memilih mana?. “ RasuluLLah tahu persis maksud yang tersirat dari pertanyaan Aisya maka beliau menjawab tentu memilih kebun yang belum di bajak walaupun kita tahu RasuluLLah demikian cinta dan setianya kepada Khadijah. Lihatlah bagaimana jawaban RasuluLLah saat beliu di sudutkan dengan pertanyaan oleh Aisya. “Khadijah kata RasuluLah...ia adalah wanita yang paling setia. Ia memberikan seluruh hartanya saat orang lain menjauhkannya dariku. Ia memberikan cintanya yang tulus saat orang lain memusuhiku dan dari rahimnya Allah memberikanku lima orang anak (Ibrahim, AbduLLah, Ruqoyyah, ummi Kultsum dan Fatimah Azzahra-cahaya mata RasuluLah).
Pernahkah engkau mendengar lagi kisah perasaan yang setia lagi. Ya, engkau tentu tahu kisah Ulama besar Imam Adhahiri. Dia menuliskan bait-bait puisi romansa cintanya kepada gadis tetangganya yang tidak bisa menjadi pasangan hidupnya sebelum ia mengucapkan dua kalimah syahadah. Cinta suci nan tulus yang terhalang taqdir yang lebih baik. Kisah Afrah dan Abid dalam “Perindu-perindu malam” akan lebih membuat pipimumu basah oleh air mata lagi. Afrah yang mencintai Abid tapi terhalang oleh orangtua Afrah yang telah menjodohkan dengan laki-laki lain. Tahukah engkau bagaimana jawaban Abid kepada Afrah saat Afrah berkirim surat kepada Abid lewat pembantunya untuk mengajaknya bertemu di tempat yang sepi.
“ Sesunguhnya aku takut kepada Allah”. Inilah jawaban singkat surat Abid kepada Afrah yang menjadikan dan merubah Afrah menjadi wanita dengan karakter Rabi’ah AlAdawiyah. Bahkan karena perasaan cintanya yang terpendam hingga membawa kepada ajalnya sekalipun, ia tidak pernah menyesal. Ibnul qayyim menulis bai-bait kisah ini dalam Raudhatul Muhhibbin Wa Nuzhatul Mustaqiin- Taman orang-orang yang jatuh cinta dan memendam rindu”. Saat Abid berziarah ke pusara Afrah, Allah berkenan memberikan kepadanya nikmat tertidur. Dalam tidurnya itulah ia bermimpi berjumpa dengan Afrah sang kekasih. Ia bertanya ”bagaimana kabarmu ya habibiy?”. Afrah menjawab : ”Sesungguhnya sebaik-baik cinta adalah cintamu. Karena cintamu telah menghantarkan ku pada kecintaan yang sebenarnya yaitu pada Rabbku”. ”Lalu kapan aku bisa menyusulmu” tanya Abid lagi. ”Sebentar lagi, insyaAllah”. Jawab Afrah.
Ia terbangun dari tidurnya, tak sabar kiranya ia ingin berjumpa dengan sang kekasih. Allah kabulkan doa Abid hingga beberapa hari kemudian ia menyusul sang kekasih ke haribaanNya. Aduhai alangkah indahnya perasaan setia yang seperti ini.
Maka sekarang bacalah..bacalah dan carilah kisah kesetiaan mereka-mereka yang setia. Di buku yang sama temukanlah kisah kesetiaan Julaibib sang budak hitam hingga syahidnya di hari pernikahannya. Hingga ia di juluki ”Sang Pengantin Surga”.
Umar bin Abdul Aziz, yang di juluki Khulafa Arrasyid Alkhamis (ke lima setelah Abu Bakar,Umar,Ustman, dan Ali) juga mempunyai kisah yang syahdu. Kisah sebuah perasaan kepada jariyahnya yang mengantarkannya menjadi energi besar dengan membuat kemakmuran dan kesejahteraan selama kurang lebih 32 bulan hingga di ceritakan pada masa pemerintahannya serigalapun tidak mau mengejar-ngejar domba penggembala dan sedekahpun harus dibawa berkeliling karena banyaknya yang menolak menerima karena keadilan beliau. Lihatlah kesetiaan beliau hingga harus memilih cinta tertinggi di antara mahhabatul ula dan mahhabatul wustha. Ia nikahkan sang jariyah dengan pemuda lain hingga saat-saat terakhirpun beliau ditanya sang jariyah ”Umar, kemanakah cintamu yang dulu?. Umar menjawab ”Masih ada, bahkan kini semakin dalam”.
Amr bin Alhajaj adalah pemuda tertampan pada masa Khalifah Umar bin Khatab. Hingga karena ketampanannya yang menjadi fitnah bagi rakyatnya Umar harus mengasingkan sang pemuda nan rupawan ini ke tempat yang jauh. Malang nian, saat ribuan gadis mengaguminya dan mengharapkan untuk menjadi pendampingnya, ia justru jatuh cinta pada wanita yang sudah menjadi istri dari tuan rumah yang di tinggalinya yang sang suami sudah renta. Karena suatu sebab ia harus pergi, membawa perasaan dan kesetiaannya hingga maut menjemputnya. Sendiri dan hanya sendiri.
Engkau akan menangis lagi saat membaca untaian kisah Ulama besar abad ini dengan kesetiaanya yang abadi baik kepada Rabb, Rasul maupun kepada kekasih yang ia cintai. Lima belas tahun ia sendirian di penjara. Menulis beberapa buku dan kitab yang sampai saat ini masih menjadi rujukan pemuda-pemuda yang senantiasa bergerak untuk roda berdakwah. Hingga akhirnya harus menyerahkan dirinya di tiang gantungan oleh rezim yang otoriter padahal ia bisa diampuni dengan hanya satu kata yang penguasa itu mau menulis untuknya ”maaf”karena nilai sebuah kesetiaan yang agung ia menolaknya. Dua kali ia jatuh cinta, dua kali pula ia gagal mewujudkan impiannya karena sebab yang mulia, sebuah cita-cita dan harapan yang tinggi seorang Sayyid Qutb yang tiada terwujud. Hingga menjelang syahidnya pun ia mengatakan :”Mungkin kehidupan dunia, memang tidak menyediakan bagiku seorang wanita di dunia”. Benar Sayyid, karena InsyaAllah Allah yang Maha Aguang akan menggantikan untuk mu bidadari-bidadari yang setia kepada kekasih-kekasihnya , yang bermata jeli, yang tidak pernah di sentuh oleh jin dan manusia karena kesetiaan yang engkau miliki .
Ibnu Hazm AlAndalusiy menulis dengan sangat indah kisah-kisah cinta dalam bukunya ”Dibawah naungan Cinta”. Sebagian kisah itu adalah menceritakan tentang dirinya dengan sang kekasih yang dalam sejarah ada yang menyebut namanya adalah ”Tamar”. Ia adalah pelayan di istana Andalusia yang kebetulan ayah Ibnu Hazm adalah seorang perdana menteri. Di dalam istana itu ada banyak pelayan-pelayan wanita, yang salah satunya adalah Tamar. Setiap kali Ibnu Hazm melewati pintu yang di sana ada sang kekasih, setiap kali itu pula sang kekasih akan melewati pintu yang lain. Demikian seterusnya hingga beliau terjatuh sakit. Saat Andalusia jatuh karena penyerangan, beliau terpisah dengan Tamar. Hingga bertahun-tahun kemudian, karena kesetiaannya kepada sang kekasih, Allah berkenan mempertemukannya dengan Tamar yang telah menjadi janda. Bukan..bukan ...seperti film-film Hollywood dengan kisah cinta romatiknya tapi semua yang di nodai dengan nafsu walaupun berakhir happy ending, tapi ini adalah kisah kesetiaan yang abadi. Kisah kesetiaan sebagaimana Raja India kepada Jihan dengan membangun Taj Mahal.
Mungkin kisah sebuah kesetiaan seorang ”Maria” kepada Fahri di novel AAC-nya Kang Abik atau Azzam kepada Ana di KCB-nya Kang Abik lagi.
Mungkin..ya semua adalah mungkin karena kita juga tidak tahu sampai kapan ”apel merah” akan punya kesetiaan kepada burung bersayap sebelah untuk mewujudkan cita-cita mulia mereka atau tiada terwujud sama sekali? Atau burung dengan sayap sebelah itu ingin mengatakan lagi ”Ingatkan aku untuk melaksanakan shalat dua raka’at dan mengecup keningmu”. Mungkin lagi ya mungkin lagi bukan..bukan istana megah yang ia tawarkan, apalagi menara gading tapi sebuah kehidupan sederhana karena ia sangat ingin belajar tawadhu dan rendah hati kapada apel merahnya. Wallahu a’lam hanya Allah yang maha Tahu.
Batam, 07 Jumadil Tsani 1430 H.


” kalau kau ingin meninggalkanku, pergilah dalam hening. aku tak ingin rindu yang sedang tertidur lelap, terbangun oleh derit kepergianmu......”

Alhamdulillah , blognya pulih lagi

Alhamdulillah blog ini bisa pulih lagi setelah terhapus. Smg bisa lebih bermanfaat. Aamiin.

Salam, Alfaqir Ahmad S

Jumat, April 03, 2009

31 tahun sudah

31 tahun sudah menikmati hidup...
belum ada yang di perbuat untuk ummat...
belum ada manfaat yang bisa menjadi saksi sejarah....

akankah sisa hidup ini, akan semakin baik......
Allahumma a'inni 'alaa dzikrika wa syukrika wa husni ibadatika.....

Minggu, Maret 15, 2009

Hajatul Basyariyah (Kebutuhan Umat) Terhadap Risalah Nabi Muhammad saw

Hajatul Basyariyah (Kebutuhan Umat) Terhadap Risalah Nabi Muhammad saw

Posted By DR. Muhammad Mahdi Akif On 4 Maret 2009 @ 11:00 In Risalah Mursyid | No Comments
Risalah dari Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 26-02-2009
Penerjemah:
Abu Ahmad

_______
Bismillah wal hamdu lillah rabbil ‘alamin, shalawat dan salam serta keberkahan atas makhluk paling mulia, penutup para nabi dan rasul-Nya; nabi Muhammad saw; pembawa hidayah dan rahmat, nikmat yang sempurna, dan cahaya yang terang benderang. Selanjutnya…
Telah masuk pada kita semua bulan Rabi’ul awal; bulan yang mengingatkan kita semua akan kelahiran cahaya pembawa petunjuk, nabi kita Muhammad saw.
Nabi Muhammad yang kita cintai datang ke dunia, pada saat dunia penuh dengan kerusakan dan kesesatan, dengan membawa risalah perbaikan dan petunjuk..
Nabi saw datang pada saat manusia berada pada dua kelompok: kegelapan yang begitu pekat yang dimiliki oleh para pemilik keangkuhan, yang merasa memiliki segala sesuatu dan hidup di muka bumi dengan penuh kesombongan dan kerusakan, dan yang kedua orang-orang yang mazhlum (terzhalimi), terpaksa dan terhalangi, tidak mampu menuntut haknya. Dan orang-orang yang zhalim terus melakukan kezhalimannya sementara orang-orang yang mazhlum bertahan terhadap apa yang menimpanya, hingga menyebar di tengah mereka sebuah ungkapan yang menakjubkan; “Kami adalah hamba dari sang raja!”
Pada tingkat negara, ada dua negara besar dan adidaya; Persia dan Romawi, keduanya saling berbagi daerah jajahan terhadap berbagai negara di muka bumi, melakukan monopoli dalam berbagai urusan dunia, merampas dan menghisap berbagai kekayaan dan sumber daya alam dari suatu negara yang dijajahnya dan yang tertindas, bangsa dari suatu negeri dijadikan budak, melakukan rekayasa dan menciptakan anak-anak bangsa dalam kondisi lemah dan tertindas, menyebarkan api pertikaian dan persengketaan yang berdarah di tengah mereka, serta memandang bangsa lain dengan pandangan apartheid dan oportunis.
Adapun pada tingkat dunia Arab tampak orang yang mampu melakukan kezhaliman memandang bahwa kemampuannya adalah bagian dari kebanggaan, bangga bahwa dirinya mampu melakukan kezhaliman dan tidak bisa dizhalimi (tertandingi), bangga dapat melakukan kerusakan tanpa ada yang bisa memberikan kepadanya hukuman! Adapun orang yang dizhalimi jiwanya merasa dikuasai oleh orang lain dan tidak merasa memilikinya, hidup dalam kondisi diam dan pasrah, sementara hati sang pelaku kezhaliman tidak pernah mau lunak dan memiliki belas kasih, padahal -secara diam-diam- keinginan orang-orang yang mazhlum berusaha mempersiapkan diri dan mencari akan hak-haknya untuk hidup secara baik dan terhormat!
Tidak ada seorang pun dalam hati mereka yang memiliki keinginan untuk melakukan perbaikan terhadap kerusakan ini, atau melakukan sesuatu yang membangkitkan umat manusia dan memberikan arahan kepada mereka, atau mengembalikan mereka pada petunjuk yang sebenarnya, dan bahkan tidak ada seorang pun yang berani untuk bangkit dan berkata kepada umat manusia: sungguh kalian dalam keadaan tersesat maka keluarlah kalian darinya!! Dan kalian dalam kondisi ini telah banyak melakukan kerusakan maka harus diperbaiki!
Sekalipun demikian, bukan berarti tidak ada sama sekali dalam lingkungan bangsa Arab yang tidak memiliki jati diri, jiwa mulia dan kejantanan (keperkasaan).. sebagaimana bukan berarti sama sekali tidak ada seseorang yang tampil untuk membela orang-orang yang dizhalimi, membantu memberikan perlindungan terhadap orang-orang yang tersesat tanpa ada yang dapat memberikan jalan sehingga dapat mencapai jalan yang ditempuh dan mendapatkan hak-haknya, seperti halnya yang dilakukan Al-Muth’im bin Adiy terhadap Nabi saw, saat beliau kembali dari Thaif, dan pada saat terjadi perjanjian fudhul (hilful fudhul); keduanay memberikan gambaran yang sangat jarang terjadi namun ada pada saat itu!
Al-habib Muhammad saw datang untuk umat manusia seluruhnya, dan memulai melakukan kerja pada proyek perbaikan yang baru, dengannya, beliau ingin memperbaiki manusia dan memperbaiki agama dan dunia mereka, baik untuk hidup pada masa awal dan masa akhir mereka (dunia dan akhirat). Rasulullah saw selalu mengajarkan kita dengan doanya;
اللهمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي
“Ya Allah.. berikanlah kebaikan pada agama ku yang menjadi bagian tempat berlindung segala urusanku, dan perbaikilah kehidupan dunia ku yang di dalamnya menjadi tempat aku hidup, dan perbaikilah negeri akhirat ku, yang kepadanya kami akan kembali”. (Muslim)
Dengan hadits diatas Rasulullah saw meringkas tujuan risalahnya; datang untuk memperbaiki kehidupan agama, dunia dan akhirat, dan untuk memberikan kebahagiaan umat manusia di dunia dan akhirat.
Risalah Persamaan dan Kesetaraan umat manusia
Bahwa dakwah Rasulullah sangat jelas membawa nilai-nilai persamaan dan kesetaraan di tengah umat manusia:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Al-Hujurat:13)
Dan berdiri pada asas yang jelas dan gamblang:
أَلا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلا لا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ، وَلا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلا لأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى
“Ketahuilah bahwa Tuhan kalian adalah satu, bapak kalian adalah satu, tidak ada perbedaan dan keutamaan bagi orang atas orang non Arab, dan juga bagi non Arab dengan orang Arab, bagi orang yang memiliki warna kulit putih atas yang berkulit hitam, dan yang hitam atas yang putih kecuali taqwa”. (Ahmad dengan sanad yang shahih).
Risalah persatuan dan kesatuan umat manusia
Bahwa dakwah nabi saw juga sangat jelas dan gamblang membawa agama Islam sebagai agama bagi para Nabi dan Rasul bukan hanya agama nabi Muhammad saw saja, karena itulah bagi siapa yang beriman kepada nabi Muhammad dan memeluk agama Islam maka pada hakikatnya dia beriman kepada nabi Nuh, nabi Ibrahim, nabi Musa dan nabi Isa serta para nabi yang lainnya:
شَرَعَ لَكُمْ مِنْ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْه
“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya”. (As-Syura:13)
Risalah kebebasan dan menafikan fanatisme
Bahwa dakwah nabi saw selalu memerangi akan berbagai bentuk permusuhan, penindasan politik, pikiran dan ideologi serta sosial masyarakat.. memerangi berbagai bentuk kezhaliman yang terjadi di tengah masyarakat. Allah berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً
“Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (Al-Isra:70)..
Begitu pula dakwah nabi saw memerangi berbagai bentuk fanatisme terhadap bangsa, kabilah dan keluarga; nabi saw bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِالآبَاءِ، مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ، أَنْتُمْ بَنُو آدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ، لَيَدَعَنَّ رِجَالٌ فَخْرَهُمْ بِأَقْوَامٍ إِنَّمَا هُمْ فَحْمٌ مِنْ فَحْمِ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنَ الْجِعْلاَنِ الَّتِي تَدْفَعُ بِأَنْفِهَا النَّتْن
“Sesungguhnya Allah SWT telah menghilangkan dalam diri kalian sifat sombong dan angkuh seperti pada masa jahiliyah dan terlalu bangga dengan orang tua, beriman ciri orang bertaqwa, dan pelaku jahat ciri orang yang sengsara, kalian adalah keturunan dari Adam dan Adam berasal dari tanah, sungguh meninggalkan kebanggaan pada suatu kaum yang sesungguhnya ia merupakan salah satu bara dari bara api jahanam, atau kalian akan menjadi terhina di hadapan Allah dari pada ….. (Abu Daud dan Tirmidzi dengan sanad yang Hasan).
Karena itu tidak ada perbedaan antara warna kulit putih dan hitam, bangsa Arab dan non Arab, Quraisy dan Habsy. Dan perkara itu semua merupakan sesuatu yang diterima oleh akal yang bersih, dan diterima oleh fitrah yang lurus, karena manusia adalah manusia, memiliki kebebasan dan kemerdekaan serta kehormatan dan kemuliaan.
Bahkan ketika umat manusia tenggelam dalam penyimpangan, hilang hakikat kebebasan dan berubah menjadi menghambakan sebagian mereka dengan sebagian lainnya, dan menjadikan perbudakan sebagai sistem yang tersebar di tengah masyarakat, kemudian Islam datang membuka seluruh kran kemerdekaan, mengarsiteki kebebasan bagi setiap orang yang menginginkan kebebasan, dan bahkan mewajibkan umat untuk memerdekakan dan membebaskan orang lain yang meminta dimerdekakan dan dibebaskan bahkan membebaskan bagi seseorang yang ingin menjual harga dirinya, hal demikian disebut dengan mukatabah
فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا
“Hendaklah kamu buat Perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka“. (An-Nuur:33)
Bahkan diperintahkan untuk membantunya dalam kondisi demikian itu
وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ
“dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu”. (An-Nuur:33)
Nabi saw datang untuk mengangkat dan meninggikan kehormatan manusia pada tingkat yang paling mulia dan paling tinggi, berdiri tegak melakukan perlawanan terhadap berbagai penyebab kezhaliman yang terjadi di dunia oleh karena permusuhan dari satu kelompok pada kelompok lain dan jamaah pada jamaah lainnya, mencegah seluruh penyebab perbedaan khusus yang diklaim oleh sebagian manusia, dan menyamaratakan hingga terhadap keluarga nabi saw dan yang lainnya dari umat manusia.
Risalah pembawa keadilan yang mutlak
Bahwa dakwah Nabi saw adalah dakwah yang membawa pada keadilan yang mutlak hingga sampai kepada para penentang dalam agama, kepercayaan dan manhaj sekalipun, dan dakwah yang secara gamblang memajukan kebenaran atas hawa nafsu, perasaan atas fanatisme, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertaqwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-Maidah:8),
Maksudnya adalah janganlah kebencian sebagian kalian pada sebagian lainnya membuat kalain tidak bisa berbuat adil atau melakukan kezhaliman atas mereka; namun setiap muslim harus berbuat adil walaupun di hadapan para penentang dalam aqidah, mazhab atau bangsa sekalipun.
Bahkan ketika kaum Quraisy menghalangi dakwah nabi Muhammad dan para sahabat lain dengan cara yang zhalim untuk dapat amelakukan umrah dan thawaf di masjid al-haram, Allah tetap melarang mereka untuk berbuat zhalim dengan kezhaliman lainnya, Allah berfirman:
وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنْ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا
“Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka)”. (Al-Maidah:2)
Risalah yang mengajak untuk selalu bersabar walau harus berhadapan dengan siksaan para penentangnya
Bahkan sampai pada tingkat kesabaran dari para ahli kitab yang hidup di tengah komunitas Islam; selama penyakit ini hanya terbatas pada siksaan pribadi atau beberapa ungkapan yang menyakitkan namun tidak sampai keluar pada sistem pemerintahan umat atau demonstrasi musuh atasnya, Allah berfirman:
لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنْ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنْ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُورِ
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. jika kamu bersabar dan bertaqwa, Maka Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk urusan yang patut diutamakan”. (Ali Imran:186)
Bahkan nabi saw sendiri memberikan peringatan kepada orang-orang yang menyangka bahwa non muslim di tengah masyarakat Islam tidak memiliki hak yang penuh, beliau bersabda:
مَنْ ظَلَمَ مُعَاهَدًا وَانْتَقَصَهُ وَكَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ فَأَنَا حَجِيجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa yang melanggar perjanjian dan menguranginya maka Allah akan memberikan beban kepadanya di atas kemampuannya, dan mengambil sesuatu darinya tanpa jiwa yang benar maka saya akan menjadi penentangnya pada hari kiamat kelak”. (Abu Daud dengan sanad yang shahih)
Maksudnya adalah bahwa Rasulullah saw akan membela kafir Dzimmi dan menolongnya di hadapan umat Islam yang melakukan kezhaliman.
Risalah yang melindungi kebenaran dan mempertahankannya
Adapun saat mereka keluar dari nizham umat atau memusuhinya atau menampakkan permusuhan atasnya maka tidak ruang berdamai:
إِنَّمَا يَنْهَاكُمْ اللَّهُ عَنْ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الظَّالِمُونَ
“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zhalim”. (Al-Mumtahanah:9)
Sungguh serupa hari ini dengan kemarin!
Ketika dibalik pandangan pada dunia kita saat ini, maka kita akan melihat kondisi jahiliyah pada nilai-nilai kezhaliman dan kerusakan, maka ketika umat yang membawa risalah Muhammadiyah mundur ke belakang sementara yang lainnya bersungguh-sungguh dengannya dan mengokohkan pondasi-pondasinya ke seluruh dunia, dan bangsa Barat mengalami kemajuan materi, dan menjadikan kekuatan materi sebagai pendukungnya, dan serta merta melakukan penjajahan dan kolonisasi terhadap bangsa-bangsa timur, merampas sumber daya alamnya, berusaha menghilangkan potensi hidupnya, membuat rancu tsaqafahnya, dengan melakukan pembantaian yang brutal, dan penjajahan yang tidak manusiawi seperti dialami oleh bangsa-bangsa di Asia dan Afrika sehingga seluruh umat memproklamirkan keinginannya untuk hidup layak dan merdeka, memproklamirkan untuk mendirikan lembaga-lembaga internasional untuk melindungi hak-hak mereka setelah terjadi perang dunia yang berdarah-darah hingga menjatuhkan korban milyaran jiwa, memproklamirkan untuk mendirikan perserikatan bangsa-bangsa, membentuk dewan keamanan dan lembaga-lembaga lainnya yang secara zhahir mengajak pada nilai-nilai kebebasan dan keadilan serta persamaan manusia.
Namun hal tersebut hanya slogan kosong belaka tanpa ada jaminan untuk dapat direalisasikan, sehingga menjadikan kekuatan militer yang besar yang dimiliki oleh negara-negara besar terutama Amerika sebagai pemilik dan penentu keputusan terhadap berbagai perkara, dalam bentuk apartheid, hal tersebut sudah sekian kali terjadi dan disaksikan oleh sekian banyak orang.
Qadhiyah Palestina dan keberpihakan yang zhalim
Bahwa gambaran yang sangat jelas akan keberpihakan kekuatan zhalim ini terdapat pada pendirian entitas Zionis yang dinamakan dengan negara “Israel” di bumi Palestina… padahal Israel adalah negara yang tidak punya asal-usul yang jelas, bukan sebagai bangsa yang hidup dalam suatu negeri dan terikat dengannya sebagaimana entitas yang natural, namun ia merupakan kelompok dari beberapa kelompok jahat yang berasal dari berbagai unsur di beberapa negara, yang tidak terikat kecuali ideologi Zionisme, mereka meninggalkan negeri asalnya untuk mendirikan entitas baru di bumi Palestina, yang terbentuk atas konsensus internasional yang zhalim pada tahun 1947 dengan rekomendasi dari negara-negara koloni yang besar terutama Amerika.
Kelompok tersebut mulai mendirikan entitasnya dengan melakukan pembantaian secara keji, melakukan operasi pembunuhan dan pengusiran secara paksa atas bangsa Palestina, dengan disaksikan dan didengar oleh dunia, dan tidak cukup dengan konsensus pembagian negara sepihak dan secara zhalim saja, namun Amerika dan negara-negara besar lainnya juga memberikan persenjataan yang besar dan modern agar dapat merampas sisa-sisa dari sebagian bumi Palestina laingga bahkan hingga melampaui bumi dan tanah Arab lainnya. Dan hal tersebut mereka lakukan dalam berbagai perang dan agresi yang silih berganti, melakukan pembantaian yang tiada henti di berbagai negara-negara Arab yang berdampingan dengan Palestina, walaupun harus dengan melanggar seluruh konsensus yang dikeluarkan oleh PBB terutama yang berkaitan dengan qadhiyah Palestina, dan mengumumkan dengan lantang penolakannya terhadap kembalinya para pengungsi sampai pada batas waktu tanggal 4 Juni 1967 yang lalu, tanpa ada fikiran sedikit pun dari anggota PBB untuk memberikan langkah-langkah kongkret untuk menekan dan memaksa Israel untuk mentaati dan menghormati berbagai konsensus yang telah dikeluarkannya, sekalipun konsensus tersebut adalah zhalim yang hanya diberikan kepada yang tidak berhak dan tidak memiliki hak untuk menerimanya.
Kezhaliman yang menakjubkan!
Setiap hari dunia Barat menampakkan kemunafikan dengan bentuknya yang baru, seperti ketika mengumumkan seruan demokratisasi dan kebebasan, mengumandangkan hak bangsa dalam mempertahankan jiwanya dan melakukan perlawanan terhadap penjajahan; maka pada sisi lain mereka mengingkari kebenaran ini atas bangsa Arab dan umat Islam, khususnya terhadap bangsa Palestina.
Ketika veto Amerika menghadang berbagai konsensus yang mengecam agresi dan pembantaian Zionis terhadap kemanusiaan, pepohonan dan bebatuan, disisi lain Amerika tidak pernah berhenti memasukkan dan menyifati pasukan perlawanan Palestina sebagai teroris.
Dan ketika para pemimpin Barat tidak bergerak dan tidak menoleh sedikit pun terhadap pemandangan tentang kehancuran dan korban anak-anak di bumi Palestina akibat senjata phosphor yang terlarang; justru mereka melakukan pertemuan untuk membuat kesepakatan mengepung dan memblokade para mujahidin dan mencegah sampainya senjata ringan ke tangan mereka, padahal mereka tidak pernah terlambat mengirimkan kapal-kapal perang, pesawat-pesawat tempur, intelijen dan tim teknis untuk menentukan blokade atas bangsa yang dizhalimi dan terisolir.
Ketika penuntut hukum di persidangan pidana internasional berusaha mengeluarkan konsensus internasional untuk menangkap presiden Sudan dengan tuduhan yang dibuat-buat dan mengada-ada melakukan pembantaian massal; tidak ada sedikit pun didengar dan yang lainnya bersuara lantang untuk mengajukan para pemimpin Zionis ke meja persidangan pengadilan pidana internasional, padahal merekalah yang telah melakukan kejahatan di depan mata dan didengar oleh setiap telinga dari negeri yang paling jauh dan paling dekat sekalipun, sementara dunia hanya melihat itu semua sekadar lewat saja di layar televisi dan didengar dari waktu ke waktu akan gelombang pemberontakan!
Dan pada waktu lembaga-lembaga Hak Asasi Manusia (HAM) dan lembaga-lembaga Hak Asasi Hewan yang berhubungan dengan lembaga-lembaga internasional dalam mengecam setiap operasi yang mengakibatkan jatuhnya korban dari pihak barat atau Yahudi; namun mereka diam seribu bahasa dan bisu seperti di alam kubur apa yang ditayangkan di layar televisi tentang kejahatan dan kekejaman Zionis yang brutal yang korbannya mencapai ribuan; dari anak-anak, wanita dan orang tua, Zionis menghalalkan segala cara untuk melakukan agresi dengan alasan mempertahankan diri, dan pada waktu yang bersamaan ketika para pasukan perlawanan melakukan pembalasan dianggap sebagai perlawanan yang tidak beralasan! Dan bahkan orang-orang yang tidak memiliki kekuatan untuk mengingkari dan mengecam kejahatan Zionis yang brutal dan pergi –dengan perasaan malu- mengecam apa yang dilakukan pasukan perlawanan yang mulia, dan mereka menyamakan antara korban dengan Gilad shalit yang ditawan oleh pasukan perlawanan, demikian seperti yang dilakukan oleh lembaga amnesti internasional dalam konsensusnya yang terakhir.
Kezhaliman adalah sebab depresi dunia
Bahwa Ikhwanul Muslimin ketika mengikuti semua bentuk kezhaliman yang terjadi di permukaan bumi ini dapat menegaskan kepada orang-orang yang berakal di muka bumi ini; bahwa kezhaliman, konsensus-konsensus yang zhalim serta keberpihakan pada yang zhalim adalah penyebab terjadinya depresi internasional, itulah penyebab terjadinya berbagai perang yang berkecamuk di berbagai belahan bumi saat ini, dan tidak akan tercapai kestabilan di negeri Arab kita ini; selama masih ada entitas yang zhalim yang selalu melakukan perampasan, dan selama masih ada kezhaliman internasional yang mendukung pelaku kezhaliman atas kezhalimannya, menolak mengembalikan hak kepada pemiliknya.
Hanya keadilan yang dapat menjamin kestabilan hidup manusia
Bahwa umat manusia saat ini sangat membutuhkan risalah nabi Muhammad saw dan nilai-nilai yang dibawanya; sehingga dapat memberikan kebahagiaan pada dunia dan meluruskan arah hidup umat manusia, dan tidak akan terwujud kestabilan di muka bumi ini kecuali dengan kembali pada nilai-nilai yang dibawa oleh nabi Muhammad saw; seperti persamaan, kebebasan, keadilan dan pemberian hak kepada pemiliknya.
Karena itu apakah para cendekiawan di muka bumi ini; baik dari politikus, pemikir dan ahli hukum melihat dan menolehkan wajahnya kepada dakwah yang mulia ini, dakwah yang mengajak kepada yang hak yang dibawa oleh nabi Muhammad saw?
Karena itu, para cendekiawan hendaknya membuka akal dan hati mereka agar dapat keluar dari tekanan dan kerusakan yang terjadi di dunia ini yang telah tertanam di leher umat manusia, dan kita terus menyerukan dakwah yang mulia untuk membawa umat ke jalan keselamatan.
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“Katakanlah: “Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (Ali Imran:64)
Allah Maha Besar dan segala puji Hanya milik Allah Tuhan semesta alam